Mengapa saat ekonomi sedang lesu, pemerintah justru dianjurkan untuk meningkatkan belanja besar-besaran? Dalam pandangan ekonomi klasik, langkah ini mungkin dianggap berisiko.
Namun bagi John Maynard Keynes, justru itulah jawabannya. Inilah dasar dari Keynesianisme, sebuah pemikiran ekonomi yang menekankan peran aktif pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi masyarakat dari ancaman resesi.
Lalu, bagaimana sebenarnya cara kerja teori ini? Dan masihkah relevan di era kripto dan ekonomi digital seperti sekarang? Untuk mengetahuinya, simak ulasan berikut ini.
Kamu mungkin tertarik dengan ini juga: Panduan Teori Investasi Keynes untuk Pemula dan Ahli
Apa Itu Keynesianisme?

Keynesianisme 2
Keynesianisme adalah teori ekonomi yang dicetuskan oleh John Maynard Keynes, seorang ekonom asal Inggris yang dikenal luas karena pemikirannya yang revolusioner di tengah krisis ekonomi global pada 1930-an.
Teori ini diperkenalkan secara resmi melalui bukunya yang berjudul The General Theory of Employment, Interest and Money, yang terbit pada tahun 1936.
Dalam karya itulah Keynes menyampaikan gagasannya bahwa pasar tidak selalu mampu menyeimbangkan dirinya sendiri, terutama saat ekonomi sedang lesu atau dilanda resesi.
Salah satu inti dari pemikiran Keynesian adalah perlunya peran aktif pemerintah dalam mengelola perekonomian. Bagi Keynes, intervensi negara bukan hanya penting, tapi juga mutlak diperlukan, terutama dalam kondisi krisis.
Pemerintah dianjurkan untuk meningkatkan belanja publik dan menurunkan pajak guna mendorong permintaan agregat, sehingga aktivitas ekonomi dapat kembali bergerak, pengangguran menurun, dan kepercayaan pasar pulih.
Pendekatan ini secara langsung bertolak belakang dengan prinsip ekonomi pasar bebas atau laissez-faire, yang percaya bahwa kekuatan pasar akan menemukan keseimbangannya sendiri tanpa perlu campur tangan negara.
Keynes justru menunjukkan bahwa dalam situasi tertentu, membiarkan pasar bekerja sendiri hanya akan memperpanjang krisis dan memperburuk kondisi masyarakat.
Tujuan utama dari Keynesianisme adalah mengatasi masalah-masalah mendasar dalam perekonomian, seperti pengangguran massal, krisis berkepanjangan, dan fluktuasi ekonomi yang ekstrem.
Dengan menempatkan pemerintah sebagai aktor utama dalam menjaga stabilitas ekonomi, teori ini mengubah cara negara merespons krisis. Hingga kini, prinsip Keynesian tetap menjadi acuan penting dalam kebijakan ekonomi modern.
Artikel menarik lainnya untuk kamu: Dovish dalam Kebijakan Moneter: Peluang & Tantangan
Prinsip Utama Ekonomi Keynesian
Teori ekonomi Keynesian muncul sebagai respons terhadap kelemahan pasar bebas dalam mengatasi krisis ekonomi.
Berbeda dengan pandangan ekonomi klasik, pendekatan Keynesian menekankan pentingnya peran aktif pemerintah dalam menjaga stabilitas perekonomian melalui pengelolaan permintaan agregat.
Berikut ini adalah lima prinsip utama yang merangkum gagasan dasar dalam pendekatan ini, antara lain:
1. Pemerintah harus aktif mengatur permintaan agregat
Dalam pandangan Keynesian, keseimbangan ekonomi tidak tercapai secara otomatis. Ketika permintaan agregat turun, pasar cenderung gagal merespons secara efisien.
Maka dari itu, diperlukan campur tangan aktif pemerintah untuk menjaga kestabilan permintaan. Pemerintah, bersama sektor swasta, dipandang sebagai aktor utama yang bisa menjaga keseimbangan ekonomi.
Jika konsumsi masyarakat menurun maka negara harus turun tangan, misalnya melalui proyek infrastruktur, untuk mendorong kembali permintaan.
2. Belanja negara naik saat resesi untuk dorong konsumsi
Keynesian economy menekankan bahwa saat ekonomi sedang lesu, belanja pemerintah justru harus ditingkatkan. Ini karena pengeluaran pemerintah memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang dapat memicu aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Sebagai contoh, tambahan belanja sebesar $1 bisa menciptakan peningkatan output lebih dari $1. Strategi ini penting untuk mengisi kekosongan yang tidak bisa dipenuhi oleh sektor swasta selama masa krisis.
3. Defisit anggaran sementara itu wajar dalam kondisi krisis
Bagi para penganut Keynesianisme, defisit anggaran bukanlah masalah selama digunakan untuk memulihkan ekonomi.
Dalam masa resesi, penerimaan negara cenderung turun karena pajak yang melemah, sedangkan pengeluaran harus dinaikkan untuk menggerakkan ekonomi.
Dalam logika Keynesian, defisit anggaran merupakan alat kebijakan yang sah dan efektif untuk menstimulasi perekonomian dan menurunkan angka pengangguran.
4. Pajak bisa disesuaikan untuk jaga daya beli masyarakat
Kebijakan fiskal Keynesian juga mencakup penyesuaian pajak untuk menjaga daya beli. Saat ekonomi melemah, pemotongan pajak dapat menjadi stimulus untuk meningkatkan konsumsi rumah tangga.
Pajak yang lebih rendah berarti masyarakat memiliki lebih banyak uang untuk dibelanjakan, yang pada akhirnya meningkatkan permintaan agregat dan membantu pemulihan ekonomi.
5. Pasar tidak selalu bisa menyeimbangkan diri sendiri secara otomatis
Berbeda dengan pandangan ekonomi klasik yang percaya pada efisiensi pasar bebas, Keynesianism berpendapat bahwa pasar memiliki kelemahan struktural.
Harga dan upah cenderung kaku dalam jangka pendek, sehingga tidak bisa langsung menyesuaikan dengan kondisi pasar. Itulah mengapa pengangguran bisa bertahan lama saat resesi terjadi.
Untuk itu, dibutuhkan intervensi aktif pemerintah agar ekonomi tidak terjebak dalam krisis berkepanjangan.
Contoh Penerapan Keynesian di Dunia Nyata
Berikut ini adalah beberapa contoh nyata penerapan teori ekonomi Keynesian di berbagai negara, seperti dikutip dari kompasiana.com, yaitu:
1. New Deal (Amerika Serikat, era Roosevelt)
Pada masa Depresi Hebat, Presiden Franklin D. Roosevelt meluncurkan New Deal, paket proyek infrastruktur masif, seperti jalan, jembatan, bandara, bendungan, hingga reforestasi, melalui lembaga seperti WPA dan PWA.
Langkah ini membuka lapangan kerja bagi jutaan orang (lebih dari 8.000.000 melalui WPA dan lebih dari 3.000.000 melalui CCC) dan menjadi contoh klasik implementasi intervensi fiskal Keynesian.
2. Stimulus COVID?19 (berbagai negara)
Saat pandemi melanda dunia, banyak negara mengadopsi pendekatan Keynesian dengan meluncurkan paket stimulus besar sebagai respons untuk menjaga perekonomian tetap berjalan.
Di Amerika Serikat, misalnya, pemerintah mengeluarkan CARES Act pada Maret 2020 senilai sekitar $2.200.000.000.000 dan American Rescue Plan pada Maret 2021 sebesar $1.900.000.000.000.
Paket tersebut mencakup bantuan langsung tunai kepada masyarakat, subsidi pengangguran, serta investasi besar-besaran di bidang infrastruktur, dengan keyakinan bahwa pengeluaran pemerintah akan mendorong peningkatan permintaan agregat.
Stimulus dengan pendekatan serupa juga diterapkan di berbagai negara lain selama masa pandemi.
Republik Tiongkok memberikan Triple Stimulus Voucher untuk meningkatkan konsumsi domestik, sementara Irlandia meluncurkan program July Jobs Stimulus yang menggabungkan bantuan langsung dan plafon kredit.
Di Jerman, pemerintah menyuntikkan ratusan miliar Euro melalui berbagai langkah, termasuk pinjaman cepat dan pemotongan pajak, sebagai upaya untuk menstabilkan ekonomi di tengah ketidakpastian.
3. Subsidi & Bantuan Sosial saat Inflasi atau Krisis Pangan
Di Indonesia, langkah penstabilan harga pangan mengikuti prinsip Keynesian melalui subsidi, bantuan sosial, dan operasi pasar demi menjaga daya beli masyarakat.
Misalnya, program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) bekerja sama dengan BI dan Bapanas, berhasil menurunkan inflasi pangan ke 1,57% pada 2024.
Selain itu, bantuan sosial dan subsidi pangan diluncurkan untuk melindungi masyarakat dari dampak inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi mikro.
Masih seputar topik ini, simak juga: Perbedaan Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro yang Perlu kamu Ketahui
Relevansi Keynesianisme di Era Kripto
Munculnya kripto sering dianggap sebagai bentuk tantangan terhadap sistem keuangan tradisional yang sentralistik, menawarkan alternatif yang lebih desentralisasi dan transparan.
Namun, kenyataannya, pasar kripto tetap rentan terhadap gejolak, spekulasi, dan risiko besar yang bisa menimbulkan krisis keuangan.
Kasus-kasus kegagalan platform dan volatilitas ekstrem membuktikan bahwa tanpa adanya regulasi dan perlindungan pengguna yang memadai, stabilitas pasar sulit terjaga.
Di situlah relevansi pemikiran Keynesian muncul kembali, menekankan peran aktif pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi lewat pengaturan dan intervensi saat pasar gagal menyeimbangkan diri.
Dalam ekonomi digital dan kripto, pemerintah perlu menjalankan kebijakan fiskal yang tepat, seperti pajak aset digital dan insentif untuk mendorong inovasi blockchain yang berkelanjutan.
Beberapa negara sudah mulai mengadopsi prinsip Keynesian dalam bentuk kebijakan fiskal digital.
Misalnya, pengaturan pajak atas transaksi atau kepemilikan aset kripto yang bertujuan untuk meningkatkan transparansi sekaligus mengurangi praktik ilegal.
Subsidi dan dukungan fiskal untuk teknologi blockchain dapat memperkuat ekosistem digital dan menciptakan lapangan kerja baru.
Hal ini sesuai dengan prinsip Keynesian yang mendorong intervensi pemerintah untuk mengatasi fluktuasi ekonomi dan meningkatkan permintaan agregat.
Meskipun dunia semakin terdigitalisasi dan ekonomi banyak bergerak ke arah desentralisasi, pendekatan Keynesian pada dasarnya tetap relevan.
Prinsip tersebut menjadi landasan kebijakan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di era kripto.
Kelebihan dan Kritik terhadap Keynesianisme
Dalam memahami Keynesianisme, penting juga mengetahui kelebihan dan kritik yang melekat pada teori ini agar bisa melihat gambaran yang lebih lengkap tentang penerapannya dalam kebijakan ekonomi, di antaranya sebagai berikut:
Kelebihan
- Mampu mengatasi pengangguran dan mencegah kehancuran ekonomi
Keynesianisme mendorong pemerintah untuk aktif campur tangan saat ekonomi lesu, terutama dengan meningkatkan pengeluaran agar lapangan kerja tercipta dan keruntuhan ekonomi bisa dihindari.
- Mendorong pertumbuhan ekonomi jangka pendek terutama saat krisis
Dengan intervensi fiskal yang tepat, seperti peningkatan belanja pemerintah dan pengurangan pajak, teori ini membantu mempercepat pemulihan ekonomi dalam masa krisis.
- Sangat cocok diterapkan di negara berkembang
Negara-negara yang masih dalam tahap pembangunan mendapat manfaat dari kebijakan ekspansif yang dapat merangsang investasi dan konsumsi sehingga mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Kritik
- Berpotensi menyebabkan utang negara membengkak akibat defisit anggaran
Pengeluaran pemerintah yang besar untuk menstimulasi ekonomi bisa membuat defisit anggaran membesar dan menambah beban utang negara dalam jangka panjang.
- Risiko salah sasaran jika belanja pemerintah tidak dikelola dengan efisien
Jika dana yang dikeluarkan pemerintah tidak tepat sasaran atau kurang transparan, efek positif dari kebijakan Keynesian bisa berkurang bahkan merugikan.
- Terlalu bergantung pada intervensi politik yang kadang bisa mempengaruhi kebijakan
Kebijakan fiskal sangat dipengaruhi oleh keputusan politik, yang bisa menyebabkan ketidakpastian atau penyalahgunaan kebijakan untuk kepentingan tertentu, bukan semata demi stabilitas ekonomi.
Kesimpulan
Nah, itulah tadi pembahasan menarik tentang Keynesianisme: Peran Negara saat Ekonomi Lesu yang dapat kamu baca selengkapnya di Akademi crypto di INDODAX Academy.
Selain memperluas wawasan dunia ekonomi dan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market. jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan.
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Sebagai kesimpulan, Keynesianisme menempatkan pemerintah sebagai pemain utama ketika pasar mengalami kegagalan. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, dari resesi hingga gejolak pasar kripto, pendekatan ini masih sangat relevan.
FAQ
- Apa itu teori Keynesian?
Keynesianisme adalah teori ekonomi yang menekankan peran pemerintah dalam mengelola permintaan agar ekonomi tetap stabil.
- Siapa pencetus teori Keynesian?
John Maynard Keynes, ekonom Inggris, lewat bukunya tahun 1936: The General Theory of Employment, Interest and Money.
- Kapan teori Keynesian biasa diterapkan?
Saat terjadi krisis, resesi, atau pengangguran tinggi—pemerintah disarankan memperbesar belanja untuk dorong pertumbuhan.
- Apakah Keynesian bertentangan dengan kripto?
Tidak sepenuhnya. Meski kripto bersifat desentral, prinsip Keynesian tetap relevan dalam hal regulasi & proteksi pengguna.
- Apa saja kelemahan teori Keynesian?
Risiko utama adalah defisit anggaran tinggi dan ketergantungan pada kebijakan pemerintah yang belum tentu efektif.
Author: Boy