Pembelian Bitcoin terbaru oleh Strategy langsung menuai sorotan setelah harga BTC anjlok tajam hanya sehari kemudian.
Langkah agresif Michael Saylor ini memicu pertanyaan besar di pasar, apakah strategi akumulasi jangka panjangnya kali ini salah timing.
Strategy has acquired 10,645 BTC for ~$980.3 million at ~$92,098 per bitcoin and has achieved BTC Yield of 24.9% YTD 2025. As of 12/14/2025, we hodl 671,268 $BTC acquired for ~$50.33 billion at ~$74,972 per bitcoin. $MSTR $STRC $STRK $STRF $STRD $STRE https://t.co/VdAz7pqce1
— Michael Saylor (@saylor) December 15, 2025
Pada 14 Desember 2025, Strategy mengumumkan pembelian 10.645 BTC senilai sekitar USD 980 juta, dengan harga rata-rata USD 92.098 per BTC. Saat pengumuman dirilis, Bitcoin berada dekat level resistance dan sentimen pasar mulai rapuh.
Namun situasi berubah cepat. Bitcoin turun ke kisaran USD 85.000, bahkan sempat bergerak lebih rendah, membuat pembelian terbaru tersebut langsung tercatat rugi secara unrealized.
Tekanan Makro Jadi Pemicu Kejatuhan Harga
BREAKING: ?? Bank of Japan has confirmed it will increase interest rates to 75bps in 3 days. pic.twitter.com/YC9DGFl64F
— Coinvo (@Coinvo) December 16, 2025
Penurunan Bitcoin terjadi di tengah tekanan makro global yang sudah lama diperingatkan pasar.
Salah satu faktor utama adalah kekhawatiran kenaikan suku bunga Bank of Japan, yang berpotensi mengguncang strategi yen carry trade.
Strategi ini selama bertahun-tahun mendorong likuiditas ke aset berisiko, termasuk kripto. Ketika risiko pengetatan muncul, investor cenderung menarik dana dengan cepat, memicu penjualan massal dan likuidasi leverage.
Dalam kondisi ini, Bitcoin mengalami penurunan tajam, sementara aksi beli Strategy justru terjadi sebelum tekanan makro terealisasi penuh.
Baca juga: Pidato Trump Besok Pagi Bikin Deg-degan, Crypto Siap Dump atau Pump?
Dampaknya ke Saham Strategy dan Persepsi Pasar

Sumber: Google Finance via Be(in)crypto
Reaksi pasar tidak hanya terlihat pada harga Bitcoin. Dilansir dari Be(in)crypto, saham Strategy ikut tertekan, dengan penurunan lebih dari 25% dalam lima hari perdagangan, lebih buruk dibanding koreksi BTC itu sendiri.
Secara data, Strategy kini memegang sekitar 671.268 BTC, dengan total biaya akumulasi sekitar USD 50,33 miliar dan harga rata-rata USD 74.972 per BTC. Dalam jangka panjang, posisi ini masih untung.
Namun dari sisi jangka pendek, pembelian terbaru membuat mNAV Strategy menyusut ke sekitar 1,11, artinya saham hanya diperdagangkan sekitar 11% di atas nilai kepemilikan Bitcoin-nya.
Penyusutan premi ini menunjukkan pasar sedang lebih sensitif terhadap risiko timing dan likuiditas.
Salah Strategi atau Konsekuensi Jangka Pendek?
Kritik terhadap Strategy bukan soal keyakinan pada Bitcoin, melainkan waktu eksekusi.
Risiko makro seperti potensi pengetatan Jepang sudah dibahas luas, dan Bitcoin punya sejarah melemah saat kondisi likuiditas global mengetat.
Meski begitu, Saylor konsisten menyatakan bahwa Strategy tidak mengejar timing sempurna, melainkan fokus menambah kepemilikan Bitcoin untuk jangka panjang.
Dalam kerangka ini, fluktuasi jangka pendek dianggap sebagai noise.
Apakah keputusan ini keliru, sangat bergantung pada apa yang terjadi selanjutnya. Jika tekanan makro mereda dan Bitcoin stabil, pembelian ini akan menyatu dengan biaya rata-rata jangka panjang. Namun jika koreksi berlanjut, langkah ini akan terus menjadi bahan kritik pasar.
Kesimpulan
Pembelian Bitcoin terbaru Strategy mungkin bukan yang terburuk, tetapi jelas yang paling tidak nyaman di 2025.
Di tengah ketidakpastian makro, pasar kini menilai bahwa keyakinan besar tetap butuh timing yang disiplin, bahkan untuk pemain dengan strategi jangka panjang.
FAQ
- Apa itu Strategy dalam konteks Bitcoin?
Strategy adalah perusahaan yang dikenal agresif mengakumulasi Bitcoin sebagai aset utama neraca keuangannya. - Kenapa pembelian Bitcoin terbaru Strategy disebut rugi?
Karena harga Bitcoin turun tajam setelah pembelian diumumkan, membuat posisi tersebut langsung mencatat kerugian sementara. - Apakah Michael Saylor salah timing?
Dari sudut pandang jangka pendek, timing terlihat kurang ideal. Namun dari strategi jangka panjang, Saylor tidak menargetkan pembelian di harga terendah. - Faktor apa yang membuat Bitcoin turun setelah pembelian?
Kekhawatiran kenaikan suku bunga Bank of Japan, likuidasi leverage, dan pengetatan likuiditas global menjadi pemicu utama. - Apakah ini mengubah strategi Strategy ke depan?
Belum ada indikasi perubahan strategi. Strategy tetap menegaskan fokus pada akumulasi jangka panjang, bukan trading jangka pendek.
Itulah informasi berita crypto hari ini. Aktifkan notifikasi agar Anda selalu mendapatkan informasi terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Jangan sampai ketinggalan berita terbaru terkait dunia kripto, pergerakan pasar, dan masih banyak lagi di laman artikel edukasi crypto terpopuler.
Anda juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya.
Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Alo
Referensi
Be(in)crypto – Did MicroStrategy Make Its Worst Bitcoin Purchase of 2025?, diakses pada 17 Desember 2025
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin, #Berita Tokoh Kripto Dunia





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
