Kebijakan moneter Amerika Serikat kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah muncul sinyal bahwa Federal Reserve (The Fed) mulai menambah likuiditas ke sistem keuangan secara bertahap, meski tanpa mengumumkan program quantitative easing (QE) secara resmi.
Pandangan tersebut disampaikan analis makro asal Amerika Serikat, Lyn Alden, yang menilai The Fed kini memasuki fase yang ia sebut sebagai “gradual print” atau pencetakan uang secara perlahan. Menurutnya, meski tidak dilakukan secara agresif, arah kebijakan tersebut tetap berujung pada peningkatan jumlah uang beredar.
“Skenario dasar saya kurang lebih sejalan dengan ekspektasi The Fed, yakni menumbuhkan neraca mereka dengan laju yang relatif sebanding dengan pertumbuhan total aset perbankan atau produk domestik bruto (PDB) nominal,” tulis Alden dalam buletin strategi investasinya pada Minggu (8/2) dikutip dari Cointelegraph.
Likuiditas Bertambah Tanpa QE Resmi
Alden menjelaskan bahwa pertumbuhan neraca The Fed ke depan kemungkinan akan mengikuti laju pertumbuhan ekonomi nominal dan total aset perbankan.
Pendekatan ini berbeda dari kebijakan QE besar-besaran yang dilakukan saat krisis, namun secara substansi tetap menambah likuiditas ke sistem keuangan.
Menurut Alden, perdebatan apakah langkah tersebut dapat disebut QE atau tidak bersifat semantik. Ia menilai hasil akhirnya tetap sama, yakni terjadinya pelemahan nilai uang secara bertahap.
“Secara keseluruhan, hal ini membuat saya tetap ingin memiliki aset langka berkualitas tinggi, dengan kecenderungan mengalihkan portofolio dari area yang terlalu euforia ke area yang masih kurang diminati,” lanjutnya.
Data Federal Reserve menunjukkan bahwa indikator uang beredar M2 masih berada dalam tren meningkat seiring waktu, meskipun lajunya tidak secepat periode stimulus moneter agresif sebelumnya.
Baca juga berita terkait: Quantum Computing Ancam Bitcoin (BTC), CoinShares: Tak Seseram Itu
Dampak ke Pasar Aset Dinilai Lebih Moderat
Penambahan likuiditas secara bertahap ini dinilai berpotensi memberi dorongan ringan terhadap harga aset, namun tidak cukup kuat untuk memicu reli besar seperti yang terjadi saat kebijakan pencetakan uang masif.
Alden menilai kondisi tersebut menciptakan lingkungan pasar yang lebih selektif, di mana investor tidak lagi bisa sepenuhnya bergantung pada stimulus moneter agresif untuk mendorong kenaikan harga aset.
Ketidakpastian Kebijakan Suku Bunga Masih Tinggi
Sorotan terhadap arah kebijakan The Fed juga dipengaruhi dinamika kepemimpinan bank sentral AS.
Presiden Donald Trump baru-baru ini mencalonkan Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed berikutnya, yang memicu reaksi pasar karena Warsh dikenal memiliki pandangan relatif ketat terhadap kebijakan suku bunga.
Sementara itu, Ketua The Fed saat ini, Jerome Powell, masih menyampaikan pandangan yang berhati-hati. Dalam pernyataannya setelah pertemuan FOMC Desember lalu, Powell menyebut risiko inflasi masih condong ke atas, sementara risiko terhadap pasar tenaga kerja cenderung ke bawah.
“Dalam jangka pendek, risiko inflasi cenderung meningkat dan risiko lapangan kerja cenderung menurun, sebuah situasi yang menantang. Tidak ada jalur kebijakan yang bebas risiko,” kata Powell setelah pertemuan FOMC bulan Desember.
Kondisi tersebut memperkuat ketidakpastian pasar terkait arah kebijakan moneter AS setelah masa jabatan Powell berakhir pada Mei 2025.
Baca berikutnya: Mampukah Bitcoin (BTC) Rebut Lagi Level $100.000 dalam Waktu Dekat?
Peluang Pemangkasan Suku Bunga Masih Terbatas
Berdasarkan data CME FedWatch, sekitar 19,9% pelaku pasar memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga pada pertemuan FOMC bulan Maret.
Angka ini turun dibandingkan beberapa hari sebelumnya, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian terhadap langkah The Fed dalam waktu dekat.
Situasi ini memperkuat pandangan bahwa meski pelonggaran kebijakan belum dilakukan secara eksplisit, The Fed tetap menjaga likuiditas melalui pendekatan yang lebih halus.
Kesimpulan
Meski tidak mengumumkan kebijakan pencetakan uang secara terbuka, pergerakan neraca dan tren uang beredar menunjukkan bahwa The Fed belum sepenuhnya keluar dari kebijakan moneter yang bersifat longgar. Pendekatan bertahap ini memberi dampak yang lebih moderat dibandingkan QE besar-besaran, namun tetap berpotensi memengaruhi dinamika pasar keuangan dalam jangka menengah.
FAQ
- Apa yang dimaksud The Fed “gradual print”?
Istilah ini merujuk pada penambahan likuiditas secara bertahap oleh The Fed melalui pertumbuhan neraca, tanpa pengumuman program quantitative easing resmi. - Apakah kebijakan ini sama dengan quantitative easing?
Tidak. QE biasanya dilakukan secara agresif dan diumumkan terbuka, sementara pendekatan ini bersifat lebih terkendali dan berjalan seiring pertumbuhan ekonomi. - Kenapa uang beredar masih bertambah meski tidak ada QE?
Karena neraca The Fed tetap tumbuh seiring ekspansi ekonomi dan aset perbankan, yang secara tidak langsung menambah likuiditas ke sistem keuangan. - Apakah The Fed akan segera menurunkan suku bunga?
Pasar masih melihat peluang yang terbatas. Data terbaru menunjukkan ekspektasi pemangkasan suku bunga pada pertemuan FOMC terdekat masih di bawah 20%. - Bagaimana dampaknya ke pasar keuangan?
Penambahan likuiditas bertahap cenderung menciptakan dorongan ringan terhadap aset, namun tanpa efek euforia seperti pada periode stimulus besar.
Itulah informasi berita crypto hari ini. Aktifkan notifikasi agar Anda selalu mendapatkan informasi terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Jangan sampai ketinggalan berita terbaru terkait dunia kripto, pergerakan pasar, dan masih banyak lagi di laman artikel edukasi crypto terpopuler.
Anda juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Regulasi Crypto






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


