Bitcoin (BTC) berpotensi menghadapi tekanan lanjutan pada Juni 2026 setelah harga gagal mempertahankan momentum kenaikan dan berada di jalur untuk menutup bulan Mei dalam kondisi negatif.
Data historis menunjukkan bahwa Mei yang berakhir merah sering kali diikuti pelemahan harga Bitcoin dalam beberapa bulan berikutnya.
Melansir Cointelegraph, Bitcoin sempat ditolak di area resistance US$83.000 sebelum terkoreksi sekitar 10% dan kembali diperdagangkan di kisaran US$75.000.
Kondisi ini memunculkan kembali pola pasar lama yang dikenal dengan istilah “Sell in May and Go Away.
Data Historis Tunjukkan Juni Sering Menjadi Bulan Sulit bagi Bitcoin
Ungkapan “Sell in May and Go Away” berasal dari pasar saham Wall Street. Teori ini menyebutkan bahwa aset berisiko cenderung mencatat performa lebih lemah selama periode musim panas dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Meski berasal dari pasar saham, pola serupa ternyata beberapa kali muncul pada Bitcoin.

Sumber Gambar: Coinglass
Data historis menunjukkan Bitcoin pernah menutup bulan Mei dalam kondisi negatif pada 2013, 2015, 2018, 2021, 2022, dan 2023. Setelah periode tersebut, rata-rata performa Bitcoin satu bulan kemudian tercatat minus 10,1%.
Dalam jangka waktu tiga bulan setelah Mei merah, rata-rata imbal hasil Bitcoin juga masih negatif di kisaran minus 3,3%.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa koreksi pada bulan Mei sering kali belum menjadi akhir dari tekanan jual, terutama saat sentimen pasar masih lemah.
Baca juga berita terbaru: AI Crypto Bangkit! NEAR, FET, dan RENDER Rally Saat Bitcoin Sideways
Proyeksi Historis Mengarah ke Potensi Penurunan Tambahan

Sumber Gambar: TradingView via Cointelegraph
Berdasarkan harga Bitcoin yang berada di sekitar US$75.850 saat analisis dilakukan, rata-rata pergerakan historis setelah Mei merah mengindikasikan potensi penurunan menuju area US$68.200 pada Juni.
Sementara itu, rata-rata historis hingga tiga bulan berikutnya mengarah ke kisaran US$73.350 pada Agustus.
Meski demikian, angka tersebut bukan prediksi pasti, melainkan simulasi berdasarkan performa Bitcoin pada periode-periode sebelumnya ketika bulan Mei ditutup negatif.
Faktor fundamental, kondisi ekonomi global, kebijakan suku bunga, hingga arus dana institusional tetap menjadi variabel yang dapat mengubah arah pergerakan pasar.
Tidak Semua Mei Merah Berakhir dengan Bear Market
Meski data jangka pendek terlihat kurang menggembirakan, sejarah menunjukkan bahwa tidak semua Mei merah berujung pada tren turun berkepanjangan.
Pada beberapa siklus sebelumnya, Bitcoin sempat mengalami pelemahan setelah Mei berakhir negatif sebelum akhirnya kembali melanjutkan tren kenaikan dalam beberapa bulan berikutnya.
Rata-rata kinerja Bitcoin enam bulan setelah Mei merah mencapai sekitar 139%. Namun angka tersebut sangat dipengaruhi reli ekstrem pada tahun 2013.
Ketika data 2013 dikeluarkan dari perhitungan, rata-rata kenaikan enam bulan setelah Mei merah turun menjadi sekitar 12,9%, angka yang dinilai lebih realistis untuk dijadikan referensi.
Baca berita lainnya: Skenario Bitcoin ke Rp800 Juta Muncul Lagi, Bagaimana Cara Menghadapinya?
Risiko Lebih Besar Jika Bitcoin Masuk Fase Bear Market
Ancaman koreksi yang lebih dalam biasanya muncul ketika Mei merah terjadi di tengah struktur bear market.

Sumber Gambar: TradingView via Cointelegraph
Pada 2018 dan 2022, misalnya, Bitcoin sudah berada dalam tren turun yang jelas sebelum memasuki bulan Juni. Setelah Mei ditutup negatif, harga Bitcoin rata-rata masih turun sekitar 26% dalam satu bulan berikutnya.
Dalam periode enam bulan setelahnya, penurunan rata-rata bahkan mencapai sekitar 46%.
Perbedaan utama dengan kondisi saat ini adalah Bitcoin masih berada di atas area support siklus yang diperkirakan berada di sekitar US$60.000.
Karena itu, sejumlah analis menilai tahun 2026 belum dapat dikategorikan sebagai bear market yang terkonfirmasi sepenuhnya.
Namun jika Bitcoin kehilangan area US$70.000 hingga US$72.000, tekanan jual berpotensi meningkat. Sementara penurunan di bawah US$60.000 dapat memperkuat narasi bahwa pasar sedang memasuki fase bearish yang lebih dalam.
Jika level-level tersebut tetap terjaga, koreksi yang terjadi saat ini berpotensi dipandang sebagai bagian dari fase konsolidasi normal, bukan awal dari tren turun jangka panjang.
Kesimpulan
Data historis menunjukkan Bitcoin sering mengalami pelemahan lanjutan setelah menutup bulan Mei di zona merah.
Rata-rata, harga BTC turun sekitar 10% dalam satu bulan setelah Mei negatif, sehingga risiko koreksi pada Juni 2026 masih menjadi perhatian pasar.
Meski demikian, Bitcoin saat ini masih bertahan di atas area support penting. Karena itu, pelemahan yang terjadi sejauh ini lebih mencerminkan tekanan jangka pendek dibanding konfirmasi bahwa pasar telah memasuki bear market baru.
FAQ
- Apa arti istilah “Sell in May and Go Away”?
Istilah ini merupakan strategi lama di pasar keuangan yang menyarankan investor mengurangi eksposur aset berisiko pada bulan Mei karena performa pasar sering melemah selama periode musim panas. - Apakah Bitcoin pasti turun setelah Mei berakhir merah?
Tidak. Data historis hanya menunjukkan kecenderungan bahwa Bitcoin sering mengalami pelemahan setelah Mei negatif. Namun pergerakan harga tetap dipengaruhi berbagai faktor lain seperti sentimen pasar, ekonomi makro, dan permintaan investor. - Berapa rata-rata penurunan Bitcoin setelah Mei merah?
Berdasarkan data historis yang dianalisis Cointelegraph, Bitcoin mencatat rata-rata penurunan sekitar 10,1% satu bulan setelah Mei ditutup negatif. - Mengapa kondisi bear market membuat risiko koreksi lebih besar?
Dalam bear market, tekanan jual biasanya lebih dominan karena harga sudah berada dalam tren turun yang jelas. Akibatnya, sinyal negatif seperti Mei merah cenderung menghasilkan koreksi yang lebih dalam dibanding pasar normal. - Level harga Bitcoin apa yang sedang diperhatikan analis?
Saat ini pelaku pasar banyak memperhatikan area support di sekitar US$70.000 hingga US$72.000 serta zona support siklus di kisaran US$60.000. Kehilangan level tersebut dapat meningkatkan tekanan bearish di pasar. - Apakah investor jangka panjang perlu khawatir dengan Mei merah?
Secara historis, banyak koreksi Bitcoin yang bersifat sementara sebelum tren naik kembali berlanjut. Karena itu, sebagian investor jangka panjang lebih fokus pada fundamental dan siklus pasar dibanding pergerakan harga jangka pendek.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin, #Prediksi Harga Crypto Hari Ini






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


