Bitcoin (BTC) telah melewati berbagai kejatuhan tajam sejak pertama kali diperdagangkan.
Melansir Coinpedia, aset kripto terbesar di dunia itu tercatat mengalami 10 crash terbesar sepanjang sejarah, mulai dari insiden Mt. Gox pada 2011, crypto winter 2017–2018, hingga runtuhnya Terra-Luna dan FTX pada 2022.
Berbagai peristiwa tersebut dipicu oleh faktor yang berbeda, mulai dari peretasan bursa kripto, regulasi pemerintah, hingga gejolak ekonomi global.
Berikut daftar lengkapnya.
Mt. Gox Flash Crash 2011, Bitcoin Sempat Anjlok Hampir 99%
Crash terbesar dalam sejarah Bitcoin terjadi pada Juni 2011 ketika Mt. Gox, yang saat itu merupakan bursa Bitcoin terbesar di dunia, mengalami peretasan.
Akun milik auditor bursa berhasil diretas sehingga pelaku menjual Bitcoin dalam jumlah besar dengan harga sangat rendah.
Akibatnya, harga Bitcoin sempat jatuh hampir 99% hanya dalam waktu singkat sebelum akhirnya kembali pulih.
Peristiwa ini menjadi salah satu insiden keamanan paling terkenal dalam sejarah aset kripto sekaligus menunjukkan rapuhnya infrastruktur perdagangan Bitcoin pada masa awal.
Bitcoin Savings & Trust Runtuh pada 2012
Setahun kemudian, pasar kembali diguncang oleh runtuhnya Bitcoin Savings & Trust, sebuah skema Ponzi yang berhasil mengumpulkan sekitar 700.000 BTC dari investor.
Setelah skema tersebut kolaps, kepercayaan investor ikut menurun dan harga Bitcoin terkoreksi sekitar 56%.
Kasus ini menjadi salah satu pengingat awal mengenai tingginya risiko investasi yang tidak memiliki transparansi.
Baca juga berita terbaru: Altcoin Season Susah Terjadi Lagi? Ini Kata Berbagai Analis
Gangguan Mt. Gox Memicu Kepanikan pada 2013
Pada April 2013, Bitcoin mencetak reli hingga menembus US$260. Namun, lonjakan volume transaksi membuat sistem Mt. Gox kewalahan.
Ditambah serangan Distributed Denial-of-Service (DDoS), aktivitas perdagangan terganggu dan memicu aksi jual besar-besaran. Harga Bitcoin akhirnya turun hampir 80% dalam waktu singkat.
Larangan Bitcoin dari China Mengguncang Pasar
Masih pada 2013, Bank Sentral China melarang lembaga keuangan memproses transaksi Bitcoin.
Kebijakan tersebut menjadi salah satu intervensi regulator terbesar terhadap industri kripto pada saat itu dan langsung menekan harga Bitcoin sekitar 40%.
Peristiwa ini juga menjadi awal meningkatnya perhatian investor terhadap dampak regulasi terhadap harga aset digital.
Kebangkrutan Mt. Gox pada 2014
Masalah Mt. Gox berlanjut hingga 2014. Setelah berbulan-bulan mengalami kendala penarikan dana dan gangguan teknis, perusahaan akhirnya mengajukan kebangkrutan.
Dalam proses tersebut terungkap sekitar 850.000 BTC hilang, menjadikannya salah satu kehilangan aset digital terbesar sepanjang sejarah.
Setelah kabar itu muncul, harga Bitcoin kembali turun lebih dari 50%.
Crypto Winter 2017–2018
Setelah mencapai hampir US$20.000 pada akhir 2017, Bitcoin memasuki fase bear market yang panjang.
Kekhawatiran terhadap regulasi, sejumlah kasus peretasan exchange, hingga pecahnya gelembung Initial Coin Offering (ICO) membuat harga Bitcoin terkoreksi lebih dari 80%.
Periode ini kemudian dikenal sebagai crypto winter karena hampir seluruh aset kripto mengalami penurunan tajam selama berbulan-bulan.
Black Thursday Saat Pandemi COVID-19
Pada Maret 2020, pandemi COVID-19 memicu kepanikan di pasar keuangan global.
Bitcoin ikut terkena dampaknya. Dalam hitungan jam, harga turun dari sekitar US$8.000 menjadi di bawah US$4.000 atau hampir kehilangan setengah nilainya.
Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai Black Thursday dan menjadi salah satu koreksi harian terbesar dalam sejarah Bitcoin.
China Perketat Larangan Mining pada 2021
Pada 2021, pemerintah China kembali memperketat kebijakan terhadap industri kripto dengan melarang aktivitas mining dan transaksi aset digital.
Larangan tersebut memaksa banyak perusahaan penambangan memindahkan operasinya ke negara lain.
Di tengah sentimen negatif tersebut, harga Bitcoin turun sekitar 44%.
Baca selanjutnya: Arthur Hayes: Bitcoin (BTC) Berpotensi Anjlok 35% dalam Enam Bulan ke Depan
Terra-Luna, Celsius, dan FTX Memicu Krisis Besar pada 2022
Tahun 2022 menjadi salah satu periode paling kelam bagi industri kripto.
Krisis dimulai ketika stablecoin TerraUSD (UST) kehilangan patokannya terhadap dolar AS dan membuat token LUNA runtuh hampir menjadi nol.
Tidak lama kemudian, platform pinjaman kripto Celsius menghentikan penarikan dana pelanggan sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar.
Situasi semakin memburuk ketika FTX, salah satu bursa kripto terbesar di dunia saat itu, mengajukan kebangkrutan.
Harga Bitcoin sempat turun dari sekitar US$20.500 menjadi sekitar US$15.600. Dalam dua hari, kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan menyusut sekitar US$236,7 miliar.
Banyak pelaku industri menyebut kebangkrutan FTX sebagai “Lehman Brothers moment” bagi industri kripto karena dampaknya yang sangat luas.
Koreksi pada 2024 dan 2025
Bitcoin kembali mengalami koreksi pada 2024 ketika pasar global terguncang akibat unwinding Japanese yen carry trade yang menekan berbagai aset berisiko, termasuk kripto.
Memasuki 2025, setelah sempat menembus US$100.000 dan mencetak rekor harga baru, Bitcoin beberapa kali mengalami pullback akibat aksi ambil untung investor serta penyesuaian terhadap kondisi ekonomi global.
Meski demikian, koreksi tersebut masih dianggap sebagai bagian dari dinamika pasar setelah reli yang sangat kuat.
Kesimpulan
Sepanjang perjalanannya, Bitcoin telah menghadapi berbagai fase koreksi tajam yang dipicu oleh peretasan, kebangkrutan perusahaan kripto, kebijakan regulator, hingga gejolak ekonomi global.
Meski beberapa peristiwa sempat memangkas harga secara signifikan, termasuk penurunan hampir 99% pada insiden Mt. Gox, Bitcoin berulang kali menunjukkan kemampuan untuk pulih seiring membaiknya sentimen pasar dan meningkatnya adopsi.
Rangkaian peristiwa tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan Bitcoin sekaligus mencerminkan tingginya volatilitas yang masih melekat pada pasar aset kripto.
FAQ
- Apa penyebab crash Bitcoin paling sering terjadi?
Sebagian besar crash Bitcoin dipicu kombinasi faktor seperti peretasan bursa kripto, kebijakan regulator, kepanikan pasar global, kebangkrutan perusahaan kripto, hingga aksi jual besar-besaran oleh investor. - Kapan Bitcoin mengalami penurunan terbesar dalam sejarah?
Penurunan terbesar secara persentase terjadi pada Mt. Gox Flash Crash tahun 2011 ketika harga Bitcoin sempat jatuh hampir 99% akibat insiden peretasan. - Mengapa kebangkrutan FTX berdampak besar terhadap harga Bitcoin?
FTX merupakan salah satu bursa kripto terbesar di dunia. Kebangkrutannya memicu hilangnya kepercayaan investor, menyebabkan penjualan besar-besaran, dan menghapus ratusan miliar dolar kapitalisasi pasar kripto. - Apa itu crypto winter?
Crypto winter adalah periode ketika harga aset kripto mengalami penurunan tajam dalam waktu lama, biasanya disertai melemahnya aktivitas perdagangan, investasi, dan pendanaan proyek kripto. - Apakah Bitcoin selalu pulih setelah mengalami crash?
Secara historis, Bitcoin telah beberapa kali bangkit setelah mengalami koreksi besar. Namun, pergerakan harga di masa lalu tidak menjamin hasil yang sama pada masa mendatang sehingga investor tetap perlu memahami risiko sebelum berinvestasi.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi CS Indodax
- Nomor resmi Customer Support: (021) 5065 8888
- Nomor resmi CS Indodax Prioritas: (021) 5036 8888
- Email bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar

