Konflik geopolitik antara AS dan Iran dan kebijakan The Federal Reserve (The Fed) selalu menjadi topik panas bagi para investor belakangan ini.
Di balik itu, menurut BullTheory, risiko terbesar yang perlu diwaspadai investor saat ini bukan hanya inflow maupun outflow ETF, melainkan potensi kembalinya inflasi akibat terganggunya pasokan minyak dunia.
Jika inflasi kembali meningkat, bank sentral berpotensi mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama. Kondisi tersebut dapat memengaruhi sentimen investor terhadap berbagai aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Potensi Gangguan Pasokan Minyak Kembali Jadi Sorotan
THE BIGGEST RISK TO MARKETS COULD BE BACK.
Inflation.
Inflation had just started cooling. Oil crashed from over $120 down toward $70 after the ceasefire in June, and that drop showed up directly in softer CPI and PPI prints.
Now the ceasefire has collapsed, the Strait of… pic.twitter.com/vkT4F6G67p
— Bull Theory (@BullTheoryio) July 19, 2026
BullTheory pada Senin (20/7) menjelaskan bahwa perubahan situasi dimulai setelah gencatan senjata di Timur Tengah berakhir, sehingga kembali memunculkan risiko terhadap jalur distribusi minyak global.
Salah satu titik paling krusial adalah Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20,3 juta barel minyak per hari atau hampir 20% konsumsi minyak dunia. Menurut data yang dikutip BullTheory, lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut turun lebih dari 90% setelah konflik kembali meningkat.
Selain itu, Selat Bab el-Mandeb yang menjadi jalur sekitar 7,4 juta barel minyak per hari atau sekitar 7% pasokan minyak global juga menghadapi risiko gangguan.
Berdasarkan laporan Reuters, Iran disebut telah meminta kelompok Houthi bersiap menutup jalur tersebut apabila Amerika Serikat menyerang fasilitas energi Iran.
Apabila kedua jalur tersebut mengalami gangguan secara bersamaan, sekitar 27% pasokan minyak global berpotensi terdampak.
Baca juga: Bitcoin Cs Mendadak Tegang Usai Trump Janji Hantam Iran Lebih Keras
Inflasi Dinilai Bisa Menjadi Tantangan Baru
Berkurangnya pasokan minyak global umumnya membuat harga minyak naik, yang kemudian dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi berbagai barang sehingga memicu inflasi.
Dalam kondisi seperti ini, pemerintah Amerika Serikat biasanya dapat memanfaatkan Strategic Petroleum Reserve (SPR) untuk membantu menjaga pasokan minyak.
Namun, BullTheory mencatat cadangan tersebut kini hanya sekitar 326 juta barel yang berarti masuk dalam level terendah sejak 1983 setelah mengalami penurunan selama 13 minggu berturut-turut.
Di sisi lain, proyeksi terbaru The Fed juga menunjukkan perhatian terhadap inflasi masih cukup tinggi. Sebanyak 9 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga pada 2026, sementara proyeksi inflasi dinaikkan menjadi 3,6%.
Ketika inflasi meningkat, The Fed dapat mempertahankan atau menaikkan suku bunga untuk meredam kenaikan harga.
Kondisi tersebut umumnya membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk saham dan Bitcoin, sehingga sentimen pasar berpotensi ikut melemah.
Kesimpulan
Menurut BullTheory, risiko yang perlu diperhatikan investor saat ini bukan hanya kebijakan The Fed atau perkembangan ETF Bitcoin, tetapi juga kemungkinan meningkatnya inflasi akibat terganggunya pasokan minyak dunia.
Meski demikian, analisis tersebut merupakan skenario makroekonomi yang perlu dicermati, bukan kepastian bahwa harga Bitcoin akan bergerak ke arah tertentu, karena pasar tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor lain.
FAQ
1. Mengapa inflasi bisa memengaruhi sentimen investor Bitcoin?
Inflasi yang tinggi dapat membuat bank sentral mempertahankan atau menaikkan suku bunga. Kondisi ini sering membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.
2. Apa itu Selat Hormuz dan mengapa penting?
Selat Hormuz adalah jalur pelayaran utama yang dilalui sekitar 20% konsumsi minyak dunia setiap hari. Gangguan di wilayah ini dapat memengaruhi pasokan dan harga minyak global.
3. Apa fungsi Strategic Petroleum Reserve (SPR)?
SPR adalah cadangan minyak strategis milik Amerika Serikat yang dapat digunakan untuk membantu menstabilkan pasokan energi saat terjadi gangguan pasokan atau krisis.
4. Mengapa harga minyak berkaitan dengan inflasi?
Ketika harga minyak naik, biaya transportasi, logistik, dan produksi ikut meningkat. Kenaikan biaya tersebut dapat mendorong harga barang dan jasa secara lebih luas.
5. Apakah kenaikan inflasi selalu membuat harga Bitcoin turun?
Tidak selalu. Inflasi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar, tetapi pergerakan Bitcoin juga dipengaruhi kondisi ekonomi global, kebijakan moneter, serta permintaan dan penawaran di pasar kripto.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi CS Indodax
- Nomor resmi Customer Support: (021) 5065 8888
- Nomor resmi CS Indodax Prioritas: (021) 5036 8888
- Email bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Alo
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Pergerakan Harga Crypto, #Berita Bitcoin, #Crypto ETF, #Berita Timur Tengah Terkini





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
