Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah mencatat kenaikan sekitar 6% dalam sepekan terakhir.

Sumber Gambar: TradingView
Di balik penguatan tersebut, data terbaru memperlihatkan investor mulai kembali masuk ke pasar, baik melalui transaksi spot, kontrak berjangka (futures), maupun ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat.
Meski begitu, sejumlah analis menilai momentum positif ini belum cukup untuk memastikan dimulainya tren bullish baru.
Risiko geopolitik hingga ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) masih berpotensi memengaruhi pergerakan harga Bitcoin dalam waktu dekat.
Tekanan Beli Bitcoin Kembali Menguat
Melansir dari Cointelegraph, salah satu indikator yang menjadi sorotan adalah Cumulative Volume Delta (CVD) di pasar spot dan futures.
Data menunjukkan terjadi net buying sekitar US$925 juta dalam satu hari perdagangan, menandakan tekanan beli lebih besar dibandingkan tekanan jual.
Aktivitas tersebut juga berhasil menyerap koreksi harga yang sempat terjadi setelah rilis data inflasi Amerika Serikat atau Consumer Price Index (CPI). Alih-alih melanjutkan pelemahan, Bitcoin mampu bertahan karena permintaan dari pembeli tetap kuat.

Sumber Gambar: SoSoValue
Di saat yang sama, ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat kembali mencatat arus dana masuk selama empat hari berturut-turut.
Masuknya dana ke ETF umumnya dipandang sebagai sinyal meningkatnya minat investor, terutama dari institusi.
Baca berita lainnya: Spanyol Jadi Pemenang Piala Dunia 2026, Fan Token Argentina Ambruk 55%
Funding Rate dan Open Interest Turun, Apa Artinya?

Sumber Gambar: Hyblock via Cointelegraph
Di tengah kenaikan harga Bitcoin, data pasar derivatif justru menunjukkan kondisi yang lebih seimbang.
Funding rate yang sebelumnya berada di kisaran 0,10% hingga 0,22% turun menjadi sekitar 0,048%. Sementara itu, open interest atau total nilai kontrak futures yang masih terbuka turun sekitar 3,4% dari puncaknya pada Selasa.
Menariknya, penurunan tersebut tidak diikuti pelemahan harga yang signifikan. Bitcoin hanya terkoreksi sekitar 1,5% dalam periode yang sama.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa sebagian trader mulai mengurangi penggunaan leverage setelah reli pasca-rilis data CPI, bukan karena terjadi aksi jual besar-besaran.
Dalam banyak kasus, pelepasan leverage seperti ini justru dianggap sebagai proses normal yang dapat membuat struktur pasar menjadi lebih sehat sebelum melanjutkan pergerakan berikutnya.
Sentimen Pasar Masih Didominasi Rasa Takut

Sumber Gambar: Alternative.me
Meski data transaksi mulai membaik, sentimen investor belum sepenuhnya pulih. Crypto Fear & Greed Index masih berada di kisaran 29.
Data tersebut menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam kategori Fear meski Bitcoin telah bangkit sekitar 4,4% dari titik terendahnya di kisaran US$62.100.
Risiko Eksternal Masih Membayangi Bitcoin
Di sisi lain, sejumlah faktor makro masih berpotensi menahan laju kenaikan Bitcoin.
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Kondisi tersebut turut mendorong harga minyak mentah menembus US$85 per barel, memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.
Selain itu, pasar juga masih memperkirakan peluang lebih dari 44% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada September 2026.
Jika ekspektasi tersebut terealisasi, aset berisiko seperti Bitcoin berpotensi menghadapi tekanan karena investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Baca juga berita terbaru: Bitcoin Cs Mendadak Tegang Usai Trump Janji Hantam Iran Lebih Keras
Momentum Positif Belum Cukup Mengubah Tren
Meski sejumlah indikator menunjukkan perbaikan, analis menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa Bitcoin telah memasuki tren bullish baru.
Saat ini, arus dana ETF Bitcoin secara kumulatif sepanjang tahun masih berada di wilayah negatif.
Selain itu, terdapat area likuidasi posisi long yang berada sekitar 1,5% di bawah harga saat ini, atau di kisaran US$63.200, yang berpotensi menjadi titik tekanan apabila pasar kembali melemah.
Dengan kata lain, kenaikan Bitcoin dalam beberapa hari terakhir memang memberikan sinyal positif, tetapi konfirmasi perubahan tren masih membutuhkan dukungan dari aliran dana yang lebih konsisten serta membaiknya sentimen pasar secara keseluruhan.
Kesimpulan
Kenaikan Bitcoin sekitar 6% dalam sepekan didukung oleh meningkatnya aktivitas pembelian di pasar spot, futures, dan ETF Bitcoin spot. Data tersebut menunjukkan minat investor mulai kembali pulih setelah tekanan yang terjadi usai rilis data inflasi AS.
Namun, peluang terbentuknya tren bullish masih harus diuji oleh berbagai faktor eksternal, mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga arah kebijakan suku bunga The Fed.
Selama risiko-risiko tersebut masih membayangi pasar, pergerakan Bitcoin diperkirakan tetap akan diwarnai volatilitas yang tinggi.
FAQ
- Apa yang menyebabkan harga Bitcoin naik 6% dalam sepekan?
Kenaikan Bitcoin didorong oleh meningkatnya tekanan beli di pasar spot dan futures, serta arus dana masuk ke ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Kombinasi faktor tersebut menunjukkan minat investor mulai kembali meningkat. - Apa arti net buying US$925 juta pada Bitcoin?
Net buying berarti nilai pembelian Bitcoin lebih besar dibandingkan nilai penjualannya. Angka sekitar US$925 juta menunjukkan pembeli lebih agresif sehingga mampu menyerap tekanan jual di pasar. - Mengapa arus dana ETF Bitcoin penting?
ETF Bitcoin spot banyak digunakan oleh investor institusi. Ketika ETF mencatat arus dana masuk (inflow), hal itu sering dianggap sebagai indikasi meningkatnya permintaan terhadap Bitcoin dari investor skala besar. - Apa itu funding rate dan mengapa perlu diperhatikan?
Funding rate adalah biaya yang dibayarkan antara trader long dan short di pasar futures. Nilainya membantu menggambarkan keseimbangan posisi di pasar. Funding rate yang lebih rendah setelah reli dapat menunjukkan penggunaan leverage menjadi lebih sehat. - Apakah kenaikan Bitcoin saat ini menandakan bull market sudah dimulai?
Belum tentu. Meski beberapa indikator mulai membaik, analis menilai masih diperlukan konfirmasi tambahan, seperti arus dana yang lebih konsisten, sentimen pasar yang pulih, dan berkurangnya risiko makroekonomi sebelum tren bullish benar-benar terkonfirmasi. - Faktor apa saja yang masih bisa menekan harga Bitcoin?
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain perkembangan konflik geopolitik, pergerakan harga minyak, kebijakan suku bunga Federal Reserve, inflasi Amerika Serikat, serta perubahan arus dana investor di ETF Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi CS Indodax
- Nomor resmi Customer Support: (021) 5065 8888
- Nomor resmi CS Indodax Prioritas: (021) 5036 8888
- Email bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin, #ETF Bitcoin, #Prediksi Harga Crypto Hari Ini, #Berita Pergerakan Harga Crypto






Polkadot 2.25%
BNB 0.38%
Solana 4.19%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


