Bitcoin (BTC) berada di ambang tonggak penting dalam sejarahnya. Pada Maret 2026, jaringan Bitcoin diperkirakan akan menambang koin ke-20 juta, yang berarti lebih dari 95% dari total suplai maksimum Bitcoin sudah beredar di pasar.
Angka ini penting karena Bitcoin memiliki batas suplai tetap sebesar 21 juta koin. Artinya, setelah koin ke-20 juta ditambang, hanya akan tersisa kurang dari 1 juta BTC yang masih bisa diproduksi sepanjang masa.
Tonggak ini bukan sekadar angka. Bagi banyak pelaku pasar, momen tersebut mempertegas karakter utama Bitcoin sebagai aset dengan kelangkaan yang dapat diverifikasi secara matematis.
95% Suplai Bitcoin Hampir Beredar
Bitcoin dirancang dengan kebijakan moneter yang berbeda dari mata uang tradisional. Jumlah koin baru yang beredar mengikuti jadwal yang sudah tertanam dalam kode protokolnya.
Ketika BTC ke-20 juta berhasil ditambang, sekitar 95,24% dari seluruh suplai Bitcoin sudah berada di jaringan. Dengan kata lain, hampir seluruh Bitcoin yang akan pernah ada telah diproduksi.
Batas suplai ini dijaga oleh seluruh node dalam jaringan. Setiap node memverifikasi aturan protokol, termasuk jumlah maksimum 21 juta BTC. Karena itu, perubahan terhadap batas suplai hampir mustahil terjadi tanpa konsensus besar dari jaringan.
Momen ini juga muncul di tengah meningkatnya perhatian dari institusi keuangan besar terhadap Bitcoin, yang semakin menyoroti narasi kelangkaan digital sebagai salah satu nilai utama aset tersebut.
Baca juga berita menarik lainnya: Bisakah Bitcoin Melewati Batas 21 Juta Koin? Ini Jawabannya!
Bagaimana Jadwal Suplai Bitcoin Bekerja?
Bitcoin tidak dicetak oleh bank sentral. Koin baru hanya muncul melalui proses mining.
Dalam proses ini, penambang memvalidasi transaksi dan menambahkan blok baru ke blockchain. Penambang yang berhasil memproses blok akan menerima hadiah berupa Bitcoin yang baru dibuat.
Saat jaringan diluncurkan pada 2009, hadiah blok mencapai 50 BTC. Namun, hadiah ini berkurang setengah setiap sekitar 210.000 blok, atau kira-kira setiap empat tahun, melalui peristiwa yang dikenal sebagai halving.
Beberapa tonggak penting dalam jadwal halving antara lain:
- 2009: reward 50 BTC per blok
- 2012: turun menjadi 25 BTC
- 2016: turun menjadi 12,5 BTC
- 2020: turun menjadi 6,25 BTC
- 2024: turun lagi menjadi 3,125 BTC per blok
Dengan reward saat ini, jaringan menghasilkan sekitar 450 BTC baru per hari. Angka ini jauh lebih kecil dibanding masa awal Bitcoin ketika lebih dari 7.000 BTC diproduksi setiap hari.
Model ini membuat suplai Bitcoin bersifat disinflasi, di mana tingkat penerbitan koin baru terus menurun seiring waktu.
Mengapa 1 Juta Bitcoin Terakhir Butuh Lebih dari 100 Tahun?
Hal yang membuat tonggak 20 juta BTC menarik adalah kecepatan produksi Bitcoin yang semakin melambat.
Bitcoin membutuhkan sekitar 17 tahun untuk menambang hampir 20 juta koin pertama sejak jaringan diluncurkan pada 2009. Namun, 1 juta BTC terakhir diperkirakan membutuhkan lebih dari satu abad untuk selesai ditambang.
Hal ini terjadi karena setiap halving terus memotong reward blok.
Saat ini jaringan menghasilkan sekitar 450 BTC per hari. Setelah halving berikutnya pada 2028, jumlah tersebut diperkirakan turun menjadi sekitar 225 BTC per hari. Setelah halving 2032, produksi harian kembali turun menjadi sekitar 112 BTC.
Seiring berjalannya waktu, produksi Bitcoin akan semakin kecil hingga mendekati nol. Bitcoin terakhir diperkirakan akan ditambang sekitar tahun 2140, ketika reward blok akhirnya menjadi nol.
Banyak Bitcoin yang Sebenarnya Sudah Hilang
Walaupun hampir 20 juta BTC akan segera ditambang, jumlah Bitcoin yang benar-benar tersedia di pasar kemungkinan jauh lebih sedikit.
Beberapa penelitian memperkirakan antara 2,3 juta hingga 3,7 juta BTC telah hilang secara permanen. Koin tersebut tidak bisa diakses lagi karena berbagai alasan, seperti:
- private key atau password wallet hilang
- perangkat penyimpanan rusak
- pemilik meninggal tanpa meninggalkan akses
- BTC dikirim ke alamat yang tidak dapat digunakan
Sebagian besar koin yang diduga hilang juga berasal dari masa awal Bitcoin. Sekitar 1,1 juta BTC yang diyakini dimiliki oleh pencipta Bitcoin, Satoshi Nakamoto, tidak pernah berpindah sejak ditambang.
Jika koin-koin ini benar-benar tidak dapat diakses, maka suplai efektif Bitcoin yang beredar di pasar bisa berada di kisaran 15,8 hingga 17,5 juta BTC.
Kondisi ini membuat Bitcoin secara praktik menjadi lebih langka dari batas maksimum yang tercatat di protokol.
Baca selanjutnya: Bitcoin Jadi Harta Rebutan Saat Cerai di Rusia, Hakim Kewalahan Membaginya
Dampaknya bagi Penambang Bitcoin
Perubahan suplai Bitcoin juga membawa konsekuensi bagi industri mining.
Saat ini, pendapatan penambang berasal dari dua sumber utama, yakni reward blok berupa Bitcoin baru dan biaya transaksi yang dibayar pengguna.
Namun, seiring reward blok terus menurun, penambang akan semakin bergantung pada transaction fee sebagai sumber pendapatan utama.
Setelah halving 2028, reward blok diperkirakan turun menjadi 1,5625 BTC. Hal ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap penambang dengan biaya operasional tinggi.
Efisiensi energi, perangkat ASIC generasi baru, dan akses terhadap listrik murah akan menjadi faktor penting bagi kelangsungan bisnis mining di masa depan.
Kelangkaan Bitcoin dan Narasi Nilai Aset
Tonggak 20 juta BTC memperkuat narasi yang selama ini melekat pada Bitcoin, yaitu kelangkaan digital yang dapat diverifikasi.
Berbeda dengan emas yang jumlah totalnya tidak pernah benar-benar pasti, atau mata uang fiat yang dapat dicetak oleh bank sentral, Bitcoin memiliki jadwal suplai yang transparan dan dapat diprediksi.
Model seperti stock-to-flow sering digunakan untuk menggambarkan kelangkaan ini dengan membandingkan jumlah aset yang sudah ada dengan produksi tahunan.
Namun, kelangkaan tidak selalu berarti harga akan naik secara otomatis. Permintaan pasar tetap menjadi faktor utama yang menentukan nilai Bitcoin.
Adopsi institusi, kondisi ekonomi global, regulasi, serta penggunaan jaringan juga akan terus memengaruhi dinamika harga BTC di masa depan.
Kesimpulan
Mendekatnya tonggak 20 juta Bitcoin menandai fase baru dalam siklus suplai aset digital ini. Hampir seluruh Bitcoin yang akan pernah ada sudah beredar, sementara sisa koin akan diproduksi dengan kecepatan yang semakin lambat hingga lebih dari satu abad ke depan.
Bagi pasar, momen ini mempertegas karakter Bitcoin sebagai aset dengan suplai terbatas. Namun pada akhirnya, nilai Bitcoin tetap ditentukan oleh keseimbangan antara kelangkaan dan permintaan.
Bagaimana pasar merespons fase suplai yang semakin terbatas ini akan menjadi salah satu cerita penting dalam evolusi Bitcoin ke depan.
FAQ
- Kapan Bitcoin ke-20 juta diperkirakan ditambang?
Bitcoin ke-20 juta diperkirakan akan ditambang sekitar Maret 2026. Pada titik ini, lebih dari 95% dari total suplai maksimum Bitcoin yang berjumlah 21 juta koin sudah beredar di jaringan. - Berapa jumlah maksimal Bitcoin yang bisa ada?
Bitcoin memiliki batas suplai tetap sebesar 21 juta BTC. Angka ini tertanam dalam kode protokol Bitcoin dan diverifikasi oleh seluruh node jaringan, sehingga sangat sulit untuk diubah. - Mengapa Bitcoin terakhir baru selesai ditambang sekitar tahun 2140?
Hal ini terjadi karena mekanisme halving Bitcoin yang memotong reward blok setiap sekitar empat tahun. Dengan reward yang terus menurun, produksi Bitcoin baru menjadi semakin lambat hingga akhirnya mendekati nol sekitar tahun 2140. - Berapa banyak Bitcoin yang diperkirakan sudah hilang?
Beberapa penelitian memperkirakan antara 2,3 juta hingga 3,7 juta BTC telah hilang secara permanen. Hal ini biasanya disebabkan oleh kehilangan private key, perangkat wallet rusak, atau akses yang tidak lagi tersedia. - Apa dampak berkurangnya reward mining terhadap jaringan Bitcoin?
Seiring reward blok menurun, penambang akan semakin bergantung pada biaya transaksi Bitcoin untuk mendapatkan pendapatan. Dalam jangka panjang, model ini diharapkan tetap menjaga keamanan jaringan blockchain Bitcoin. - Apakah tonggak 20 juta Bitcoin bisa memengaruhi harga BTC?
Tonggak ini memperkuat narasi kelangkaan Bitcoin, tetapi tidak secara langsung menentukan harga. Nilai BTC tetap bergantung pada faktor lain seperti permintaan pasar, adopsi institusi, kondisi ekonomi global, dan aktivitas di jaringan.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Referensi:
- Be(in)crypto – What Happens When Bitcoin Mines Its 20 Millionth Coin?
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


