Lonjakan harga minyak global mulai memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan. JPMorgan memperingatkan, kenaikan harga minyak berpotensi menekan pasar saham sekaligus membebani pergerakan Bitcoin (BTC) dalam waktu dekat.
Minyak Brent tercatat naik lebih dari 3% dan diperdagangkan mendekati $104 per barel. Bahkan, dalam skenario terburuk, harga minyak bisa bertahan di atas $90 hingga menembus $120 per barel akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Kondisi ini dinilai berisiko menciptakan tekanan berantai yang pada akhirnya berdampak pada likuiditas pasar kripto.
Efek Berantai: Dari Harga Minyak ke Bitcoin
Analis menegaskan bahwa dampak harga minyak terhadap Bitcoin tidak terjadi secara langsung, melainkan melalui mekanisme makroekonomi.
Senior Market Analyst PrimeXBT, Jonatan Randin, menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak akan meningkatkan inflasi.
Inflasi yang tinggi membuat bank sentral, khususnya The Fed, cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Akibatnya, likuiditas di pasar menjadi lebih ketat.
“Minyak menentukan arah inflasi, inflasi memengaruhi kebijakan suku bunga, dan suku bunga menentukan likuiditas kripto. Saat ini, rantai tersebut bergerak tidak menguntungkan bagi Bitcoin,” ujar Randin dikutip dari DLNews.
Dengan likuiditas yang terbatas, arus dana ke aset berisiko seperti Bitcoin cenderung melemah.
Baca juga berita terkait: Trump Janji Harga Minyak Turun Drastis Usai Perang, Bagaimana Nasib Kripto?
Risiko Stagflasi Jadi Ancaman Serius
Lebih jauh, analis melihat potensi skenario stagflasi di Amerika Serikat. Ini adalah kondisi ketika pertumbuhan ekonomi melambat, tetapi inflasi tetap tinggi.
Data terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja mulai melemah, dengan penurunan payroll sebesar 92.000 dan tingkat pengangguran naik ke 4,4%.
Di sisi lain, harga energi yang terus meningkat memperkuat tekanan inflasi. Kombinasi ini menciptakan lingkungan yang tidak ideal bagi Bitcoin.
“Bitcoin tidak berkembang dengan baik dalam kondisi stagflasi,” kata Randin.
Dampak ke Pasar Global, Bitcoin Ikut Terimbas
JPMorgan memperkirakan bahwa jika harga minyak bertahan di atas $90, pasar saham AS berpotensi terkoreksi hingga 10%–15%.
“Seiring harga minyak naik menuju dan melampaui, katakanlah, $120 per barel, tekanan jual di S&P 500 akan semakin meningkat,” ujar Kriti Gupta, direktur eksekutif bank tersebut, bersama Joe Seydl, ekonom pasar senior, terkait efek domino yang dapat memperparah penurunan saham dari waktu ke waktu.
Koreksi ini diperkirakan tidak hanya terjadi di AS, tetapi juga merembet ke pasar global dan emerging markets.
Bitcoin, yang masih memiliki korelasi dengan aset berisiko seperti saham, berpotensi ikut terdampak.
Semakin dalam tekanan di pasar saham, semakin besar kemungkinan investor mengurangi eksposur ke aset kripto.
Harapan Pemangkasan Suku Bunga Semakin Menipis
Di tengah kondisi ini, pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
The Fed diperkirakan tidak akan menurunkan suku bunga setidaknya hingga September.
Goldman Sachs bahkan menilai inflasi yang tinggi akan menyulitkan bank sentral untuk segera melonggarkan kebijakan moneter.
“Jalur inflasi yang lebih tinggi akan membuat The Fed lebih sulit untuk segera mulai menurunkan suku bunga,” kata ekonom Goldman Sach dikutip dari CNBC.
Tanpa stimulus likuiditas dari penurunan suku bunga, ruang kenaikan Bitcoin menjadi semakin terbatas.
Baca selanjutnya: Skenario Terburuk Bitcoin Jika Minyak Naik ke $200 karena Perang Iran-AS
Bitcoin Masih Bertahan, Tapi Tekanan Belum Hilang
Di tengah tekanan makro, Bitcoin masih bergerak stabil di atas $70.000. Arus dana ke ETF kripto di AS juga menunjukkan sinyal positif, dengan inflow mencapai lebih dari $763 juta dalam sepekan terakhir.
Namun, analis mengingatkan bahwa faktor makro masih menjadi penghambat utama. Bahkan jika konflik geopolitik mereda, tekanan dari inflasi dan suku bunga tinggi tetap bisa membatasi potensi kenaikan Bitcoin.
Kesimpulan
Kenaikan harga minyak bukan sekadar isu energi, tetapi menjadi pemicu tekanan berantai yang berdampak luas ke pasar keuangan, termasuk Bitcoin.
Selama inflasi masih tinggi dan suku bunga belum turun, likuiditas pasar kripto akan tetap terbatas.
Dalam kondisi seperti ini, Bitcoin cenderung kesulitan untuk melanjutkan reli secara signifikan, meski minat investor masih terlihat di beberapa instrumen seperti ETF.
FAQ
- Apa hubungan harga minyak dengan Bitcoin?
Harga minyak memengaruhi inflasi global. Ketika inflasi naik, bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi, yang pada akhirnya mengurangi likuiditas di pasar kripto seperti Bitcoin. - Kenapa inflasi tinggi bisa berdampak ke crypto?
Inflasi tinggi membuat kebijakan moneter lebih ketat. Suku bunga tinggi membuat investor lebih memilih aset aman, sehingga dana yang masuk ke crypto menjadi lebih kecil. - Apa itu stagflasi dan kenapa berbahaya untuk Bitcoin?
Stagflasi adalah kondisi ketika ekonomi melambat tetapi inflasi tetap tinggi. Dalam situasi ini, pasar cenderung menghindari aset berisiko seperti Bitcoin. - Apakah Bitcoin pasti turun jika harga minyak naik?
Tidak selalu, tetapi kenaikan harga minyak bisa menjadi faktor negatif karena memicu inflasi dan menekan likuiditas pasar kripto. - Bagaimana pengaruh suku bunga terhadap harga Bitcoin?
Suku bunga tinggi membuat biaya uang lebih mahal dan mengurangi minat investasi di aset berisiko, termasuk Bitcoin. Sebaliknya, suku bunga rendah biasanya mendukung kenaikan harga crypto.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Referensi:
- DLNews – Oil price rises are ‘bad news for Bitcoin,’ with ‘inflationary chain’ to hit crypto liquidity, diakses pada 23 Maret 2026
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin, #Prediksi Harga Crypto Hari Ini, #Berita Timur Tengah Terkini





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


