Industri artificial intelligence (AI) terus berkembang pesat, tetapi sektor AI blockchain belum menunjukkan pertumbuhan adopsi yang sebanding.
Meski menawarkan berbagai inovasi seperti decentralized computing, decentralized storage yang dikembangkan proyek seperti Filecoin (FIL), AI agent, hingga teknologi privasi berbasis blockchain, pemanfaatannya masih terbatas.
Menurut laporan terbaru Tiger Research berjudul Why AI + Blockchain Fails to Gain Traction in the Age of AI, kondisi ini bukan karena AI blockchain tidak memiliki potensi, melainkan karena solusi yang ditawarkan belum sesuai dengan kebutuhan utama pasar saat ini.
AI Blockchain Menyelesaikan Masalah yang Belum Dianggap Mendesak
Tiger Research menilai tantangan terbesar AI blockchain bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada kebutuhan pasar.
Saat ini, perusahaan AI masih lebih mengutamakan solusi yang dapat meningkatkan performa, menekan biaya, dan menjaga stabilitas infrastruktur.
Sementara itu, banyak proyek AI blockchain menawarkan keunggulan seperti desentralisasi, kepemilikan data, transparansi komputasi, dan verifikasi AI.
Meski memiliki potensi jangka panjang, fitur-fitur tersebut dinilai belum menjadi prioritas utama bagi sebagian besar pelaku industri.
Akibatnya, muncul kondisi yang disebut demand mismatch, yakni ketika inovasi berkembang lebih cepat daripada kebutuhan pasar terhadap teknologi tersebut.
Baca juga berita terkait: Bukan Altcoin Season! AI, RWA, dan DePIN Justru Curi Perhatian Tahun Ini
Decentralized Computing Belum Mampu Menggeser Cloud Tradisional
Salah satu temuan Tiger Research menyoroti decentralized computing, yakni konsep yang memanfaatkan GPU milik individu maupun pusat data kecil untuk membentuk jaringan komputasi AI terdesentralisasi.

Sumber Gambar: Tiger Research
Meski dinilai berpotensi mengurangi ketergantungan pada penyedia cloud besar sekaligus menekan biaya, pendekatan ini belum mampu menarik minat perusahaan dalam skala luas.
Menurut laporan tersebut, perusahaan lebih mengutamakan stabilitas dan keandalan infrastruktur dibanding sekadar biaya yang lebih murah.
Berbeda dengan AWS atau Google Cloud yang mengandalkan pusat data terintegrasi, jaringan blockchain terdiri dari banyak node independen.
Jika salah satu node berhenti saat proses pelatihan model AI berlangsung, risiko gangguan menjadi lebih tinggi.
Karena itu, decentralized computing dinilai belum menawarkan keunggulan teknis yang cukup kuat untuk mendorong perusahaan beralih dari layanan cloud tradisional.
Teknologi Privasi AI Masih Menunggu Dorongan Regulasi
Kategori lain yang menjadi perhatian adalah teknologi verifikasi model AI dan perlindungan privasi, termasuk Zero-Knowledge Machine Learning (ZKML).
Teknologi ini memungkinkan perusahaan membuktikan bahwa proses komputasi AI berjalan sesuai aturan tanpa harus membuka data sensitif kepada pihak lain.
Sebagai contoh, rumah sakit dapat membuktikan bahwa sistem AI telah memproses klaim asuransi dengan benar tanpa perlu membagikan seluruh rekam medis pasien.
Meski menawarkan manfaat yang besar, Tiger Research menilai permintaan terhadap teknologi ini masih relatif rendah.
Saat ini mayoritas perusahaan masih lebih fokus meningkatkan kemampuan AI dibanding membangun sistem verifikasi berbasis kriptografi.
Laporan tersebut memperkirakan adopsi teknologi ini baru akan meningkat ketika regulasi mulai mewajibkannya.
Salah satu contohnya adalah implementasi EU AI Act, yang diperkirakan dapat mendorong kebutuhan terhadap sistem verifikasi dan keamanan data AI.
Infrastruktur AI Agent Dibangun untuk Masa Depan
Perkembangan AI agent juga menjadi salah satu fokus blockchain.
Berbagai proyek mulai mengembangkan infrastruktur yang memungkinkan AI memiliki identitas digital, dompet kripto (wallet), hingga kemampuan melakukan transaksi secara mandiri tanpa campur tangan manusia.
Dalam skenario tersebut, AI dapat membeli data, menyewa komputasi, atau membayar layanan digital secara otomatis kepada AI lain.
Namun menurut Tiger Research, pasar belum sampai pada tahap tersebut.
Saat ini perusahaan seperti Microsoft maupun Salesforce masih memanfaatkan AI untuk otomatisasi pekerjaan internal, seperti layanan pelanggan, analisis dokumen, hingga penyusunan laporan.
Sementara itu, blockchain justru membangun fondasi untuk ekonomi AI yang sepenuhnya otonom. Dengan kata lain, teknologinya sudah tersedia, tetapi permintaannya belum terbentuk.
Baca berita lainnya: AI Agent Kini Bisa Trading Kripto Sendiri, Siapa yang Pegang Kendalinya?
Agent Payment Dinilai Memiliki Peluang Terbesar
Di antara seluruh kategori AI blockchain, Tiger Research menilai agent payment menjadi sektor yang memiliki prospek paling menjanjikan.
Alasannya cukup sederhana.
Baik sistem keuangan tradisional maupun blockchain sama-sama belum memiliki solusi matang untuk mendukung transaksi otomatis antar AI dalam jumlah sangat besar dan bernilai kecil.
Ekonomi AI di masa depan diperkirakan membutuhkan jutaan transaksi mikro (microtransaction) setiap hari dengan nilai yang sangat kecil serta penyelesaian transaksi secara real-time lintas negara.
Sistem pembayaran konvensional belum dirancang untuk kebutuhan tersebut.
Karena memulai dari titik yang relatif sama, blockchain memiliki peluang lebih besar untuk bersaing pada kategori ini dibanding sektor AI blockchain lainnya.
AI Blockchain Dinilai Belum Memiliki “ChatGPT Moment”
Tiger Research juga menyoroti belum adanya produk AI blockchain yang mampu menjadi titik balik adopsi massal.
Industri AI berhasil berkembang sangat cepat setelah kehadiran ChatGPT memperlihatkan manfaat AI secara nyata kepada masyarakat luas maupun pelaku bisnis.
Sebaliknya, AI blockchain hingga kini belum memiliki produk dengan tingkat penggunaan yang mampu menarik perhatian investor institusi maupun perusahaan dalam skala global.
Ketiadaan contoh sukses berskala besar tersebut membuat banyak investor masih memilih menanamkan modal pada sektor AI yang telah terbukti memiliki permintaan tinggi.
Kesimpulan
Tiger Research menegaskan bahwa AI blockchain bukanlah konsep yang gagal. Tantangan utamanya justru terletak pada waktu dan kebutuhan pasar.
Sebagian besar proyek AI blockchain saat ini berupaya menyelesaikan persoalan yang diperkirakan akan menjadi penting di masa depan, sementara industri AI masih berfokus mengejar peningkatan performa, efisiensi biaya, dan keandalan infrastruktur.
Meski demikian, laporan tersebut menilai peluang AI blockchain tetap terbuka, terutama jika regulasi mulai mendorong kebutuhan akan transparansi AI, atau ketika ekonomi AI agent berkembang sehingga memerlukan sistem pembayaran dan infrastruktur yang lebih sesuai dibanding layanan keuangan konvensional.

Artikel ini hasil Kolaborasi antara INDODAX x Tiger Research
FAQ
- Apa yang dimaksud dengan AI blockchain?
AI blockchain adalah penggabungan teknologi kecerdasan buatan dan blockchain untuk menciptakan layanan yang lebih transparan, terdesentralisasi, aman, serta mendukung otomatisasi berbagai proses digital. - Mengapa AI blockchain belum berkembang secepat AI?
Karena sebagian besar perusahaan AI masih lebih memprioritaskan peningkatan performa model, efisiensi biaya, dan stabilitas infrastruktur dibanding fitur seperti desentralisasi, kepemilikan data, atau verifikasi berbasis blockchain. - Apa itu decentralized computing dalam AI?
Decentralized computing merupakan sistem yang menggabungkan GPU dari banyak pengguna menjadi satu jaringan sehingga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan komputasi AI tanpa bergantung pada satu penyedia cloud. - Apa peran AI agent dalam blockchain?
AI agent memungkinkan sistem AI memiliki identitas digital dan dompet kripto sendiri sehingga dapat menjalankan transaksi, membeli layanan, atau berinteraksi dengan AI lain secara otomatis. - Mengapa agent payment dianggap memiliki prospek besar?
Karena transaksi mikro antar AI diperkirakan akan meningkat di masa depan, sementara baik sistem pembayaran tradisional maupun blockchain sama-sama masih mengembangkan solusi yang mampu menangani kebutuhan tersebut secara efisien. - Apakah AI blockchain masih memiliki masa depan?
Ya. Menurut Tiger Research, AI blockchain tetap memiliki potensi jangka panjang. Adopsinya diperkirakan akan meningkat ketika kebutuhan pasar dan regulasi mulai sejalan dengan solusi yang ditawarkan teknologi tersebut.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi CS Indodax
- Nomor resmi Customer Support: (021) 5065 8888
- Nomor resmi CS Indodax Prioritas: (021) 5036 8888
- Email bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Blockchain, #Berita Artificial intelligence (AI), #Ai Crypto






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


