Bitcoin (BTC) sempat anjlok lebih dari 50% dan menyentuh kisaran US$60.000, tercatat turun tajam dari puncaknya pada Oktober 2025.
Namun, manajer aset digital Grayscale menilai koreksi tersebut bukan krisis internal kripto, melainkan bagian dari gelombang risk-off yang juga menghantam saham teknologi di Amerika Serikat.
Dalam laporan pasar terbarunya, Grayscale menyebut pergerakan Bitcoin selama 12 bulan terakhir sangat berkorelasi dengan saham software AS berkapitalisasi besar dan valuasi tinggi. Ketika saham teknologi terkoreksi, Bitcoin bergerak hampir identik.
Investor AS Dominan Jual, Whale Lama Bertahan

Sumber Gambar: Greyscale
Data yang dikutip Grayscale menunjukkan tekanan jual terbesar datang dari investor Amerika Serikat. Hal ini terlihat dari harga Bitcoin di Coinbase yang sempat diperdagangkan lebih rendah dibanding Binance saat fase terendah.
Selain itu, produk spot Bitcoin ETP mencatat arus keluar bersih sekitar US$318 juta sejak awal Februari 2026.
Meski begitu, data on-chain tidak menunjukkan adanya likuidasi besar dari “OG whales” atau pemegang Bitcoin jangka panjang.
Dengan kata lain, pelaku pasar lama cenderung bertahan di tengah volatilitas, sementara tekanan lebih banyak datang dari investor jangka pendek dan institusi berbasis AS.
Kondisi ini memperlihatkan dinamika yang berbeda antara trader reaktif dan holder jangka panjang.
Baca juga berita serupa: Bitcoin Mandek, Altcoin Pippin dan LayerZero Malah Jadi Top Gainers
Altcoin Terpukul Lebih Dalam
Jika Bitcoin terkoreksi lebih dari 50%, sejumlah altcoin justru mengalami penurunan yang lebih tajam. Token bertema AI turun sekitar 71% dalam satu bulan.
Sektor utilities dan services melemah 69%, sementara token consumer dan culture terkoreksi 66%. Platform smart contract turun sekitar 58%.
Pola ini bukan hal baru. Dalam fase koreksi tajam, altcoin hampir selalu mencatat drawdown lebih besar dibanding Bitcoin karena volatilitasnya yang lebih tinggi dan likuiditas yang lebih tipis.
ETH, SOL, dan LINK Dinilai Berpeluang Pulih
Setelah koreksi besar, Grayscale menyebut beberapa aset yang berpotensi menjadi kandidat pemulihan, yakni Ethereum (ETH), Solana (SOL), dan Chainlink (LINK).
“Bagi investor yang ingin memposisikan portofolio untuk pertumbuhan dalam stablecoin dan aset tokenisasi secara khusus, kami percaya bahwa penerima manfaat paling langsung kemungkinan adalah platform kontrak pintar terkemuka seperti Ethereum (ETH) dan Solana (SOL) serta teknologi middleware penting seperti Chainlink (LINK),” tulis laporan Greyscale.
Menurut perusahaan itu, ketiga aset ini berpeluang mendapat manfaat dari pertumbuhan stablecoin dan tokenisasi aset dunia nyata. Infrastruktur smart contract dan oracle dinilai tetap menjadi fondasi penting dalam ekosistem kripto, terutama ketika adopsi institusional meningkat.
Selain itu, Grayscale juga menyoroti sektor privacy, perpetual futures, dan prediction markets sebagai area yang mulai menunjukkan traksi. Zcash (ZEC) disebut dalam konteks privasi, sementara Hyperliquid (HYPE) dikaitkan dengan ekspansi pasar prediksi.
Bitcoin: Emas Digital atau Aset Growth?
Grayscale mengambil posisi tegas bahwa Bitcoin adalah keduanya. Di satu sisi, Bitcoin memiliki karakteristik seperti emas, yaitu suplai terbatas dan tidak dikendalikan pemerintah.
Di sisi lain, usianya yang relatif muda, sekitar 17 tahun, membuatnya masih diperlakukan pasar sebagai aset pertumbuhan yang sensitif terhadap sentimen makro dan pasar saham.
Jika suatu saat Bitcoin matang sebagai aset moneter global, Grayscale memperkirakan volatilitasnya akan menurun dan korelasinya terhadap pasar ekuitas berkurang. Namun, untuk saat ini, hubungan dengan saham teknologi masih kuat.
Baca selanjutnya: Grayscale Sebut Bitcoin (BTC) Mirip Saham Tech, Bukan Safe Haven
Faktor Regulasi Masih Jadi Sentimen
Di luar faktor makro, regulasi juga menjadi perhatian pasar. Grayscale menyinggung tertundanya pembahasan CLARITY Act di Senat AS sebagai salah satu faktor yang membebani valuasi kripto dalam jangka pendek.
Pemerintah AS bahkan menggelar pertemuan lanjutan dengan pelaku industri untuk mendorong kepastian aturan.
Ketidakpastian regulasi sering kali memicu aksi ambil untung dan menambah tekanan pada aset berisiko seperti kripto.
Kesimpulan
Koreksi lebih dari 50% pada Bitcoin memang terlihat ekstrem. Namun, data yang dipaparkan Grayscale menunjukkan bahwa penurunan ini selaras dengan pelemahan saham teknologi, bukan akibat krisis struktural di sektor kripto.
Investor AS menjadi kontributor utama tekanan jual, sementara pemegang jangka panjang relatif bertahan. Di tengah volatilitas tersebut, Grayscale melihat peluang pada ETH, SOL, LINK, serta sektor privacy dan prediction markets.
Bagi pelaku pasar, fase seperti ini sering menjadi momen evaluasi ulang: apakah Bitcoin akan tetap bergerak seperti saham growth, atau perlahan mendekati karakter emas digital yang lebih stabil.
FAQ
- Mengapa Bitcoin bisa turun lebih dari 50% dalam waktu singkat?
Penurunan tajam Bitcoin sering dipicu kombinasi sentimen makro, aksi ambil untung, dan korelasi dengan aset berisiko seperti saham teknologi. Dalam kasus terbaru, pergerakannya selaras dengan koreksi saham software AS. - Apa arti korelasi Bitcoin dengan saham teknologi?
Korelasi berarti Bitcoin bergerak searah dengan saham tech. Saat investor mengurangi eksposur pada aset growth, baik saham maupun kripto cenderung ikut tertekan. - Siapa yang paling banyak menjual saat BTC crash?
Berdasarkan data Grayscale, tekanan jual terbesar datang dari investor berbasis AS, terlihat dari diskon harga di Coinbase dan arus keluar dana dari spot Bitcoin ETP. - Mengapa ETH, SOL, dan LINK disebut berpotensi pulih?
Ketiganya berperan penting dalam infrastruktur smart contract, oracle, dan adopsi stablecoin. Jika aktivitas on-chain dan tokenisasi aset meningkat, proyek-proyek ini bisa mendapat manfaat lebih cepat dibanding sektor lain. - Apa itu CLARITY Act dan mengapa berpengaruh ke harga kripto?
CLARITY Act adalah rancangan undang-undang di AS yang bertujuan memberi kepastian regulasi untuk aset digital. Ketidakpastian atau penundaan regulasi sering memicu volatilitas karena investor menunggu kejelasan aturan. - Apakah crash 50% berarti pasar kripto memasuki bear market panjang?
Tidak selalu. Dalam sejarahnya, Bitcoin beberapa kali mengalami koreksi lebih dari 40–50% sebelum melanjutkan tren naik. Namun, arah selanjutnya tetap dipengaruhi kondisi makro, likuiditas global, dan sentimen investor.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Referensi:
- CoinPedia – Grayscale Names Top Crypto Recovery Picks After 50% Bitcoin Crash: ETH, SOL, LINK & More, diakses pada 12 Februari 2026
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin, #Berita Altcoin





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


