Harga Bitcoin (BTC) memasuki fase krusial di akhir tahun. Setelah kuartal terakhir ditutup dengan tekanan, arah pergerakan aset kripto terbesar ini kembali memicu perdebatan di kalangan analis.
Sebagian menilai masih ada peluang rebound menuju US$100 ribu, sementara lainnya mengingatkan risiko koreksi lebih dalam hingga area US$65 ribu.
Perbedaan pandangan tersebut mencerminkan kondisi pasar yang belum solid. Volatilitas masih tinggi, sementara sentimen investor cenderung rapuh di tengah tekanan makro dan ketidakpastian global.
Tekanan Akhir Tahun Membuat Arah Bitcoin Belum Tegas
Bitcoin disebut mengakhiri tahun dalam kondisi tertekan seiring performa kuartal terakhir yang relatif lemah.
Pergerakan harga jangka pendek dinilai masih fluktuatif, bukan karena perubahan tren besar, melainkan akibat faktor likuiditas dan dinamika makro global yang terus berubah.
Dalam situasi ini, pasar belum menunjukkan konsensus yang jelas. Arah harga Bitcoin bergerak tidak merata dan sangat sensitif terhadap perubahan sentimen, terutama terkait kebijakan moneter dan perkembangan ekonomi global.
Skenario Jangka Pendek: Rebound Terbatas dengan Risiko Bull Trap

Sumber Gambar: X.com/mrofwallstreet
Melansir dari Coinpedia, Sejumlah analis melihat peluang pemantulan harga dalam jangka pendek.
Market analyst yang dikenal dengan nama Mr. Wall Street menilai likuiditas di sisi bawah saat ini relatif tipis untuk menopang aksi jual besar. Kondisi tersebut membuka ruang bagi kenaikan sementara.
Ia memperkirakan Bitcoin berpotensi bergerak ke kisaran US$98.000 hingga US$104.000, area yang dinilai sebagai kantong likuiditas penting sekaligus zona fair value gap yang belum tertutup.
“Sehari setelahnya, Bitcoin memang turun dan menguji ulang area support di sekitar US$84 ribu, yang bertepatan dengan MA100 Weekly, setelah sebelumnya mencetak pergerakan naik palsu yang cukup kuat. Posisi long tereksekusi dengan presisi, dan saat ini saya memegang posisi long dari harga US$84.550 dolar. Rencana saya jelas, posisi ini hanya akan ditutup di area US$98 ribu–US$104 ribu, di mana terdapat Fair Value Gap yang beririsan dengan likuiditas signifikan,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan bahwa pergerakan naik ini belum tentu menandai dimulainya tren bullish baru.
Rebound tersebut berisiko menjadi bull trap, di mana harga naik sementara sebelum kembali melemah dan menjebak pembeli yang masuk di level atas.
“Saya tetap sangat bearish terhadap Bitcoin dan masih mengantisipasi pergerakan besar berikutnya menuju area US$64 ribu–US$70 ribu dolar. Namun dalam jangka pendek, kita sedang berada di area support kuat dengan likuiditas sisi bawah yang sangat terbatas,” jelasnya.
Baca juga berita terbatu: Harga Bitcoin (BTC) Tertahan di Area Rp1,5 Miliar! Ada Apa Sebenarnya?
Outlook 2026: Ketidakpastian Mendominasi
Pandangan jangka menengah hingga 2026 justru terlihat semakin tidak pasti. Alex Thorn, Head of Research Galaxy Digital, menyebut data pasar opsi menunjukkan peluang pergerakan Bitcoin ke arah yang sangat ekstrem.
“Bitcoin diperkirakan bisa mencapai US$250.000 pada akhir 2027. Sementara itu, 2026 dinilai terlalu kacau untuk diprediksi secara pasti, meski peluang Bitcoin mencetak rekor harga tertinggi baru pada tahun tersebut masih terbuka,” jelas Thorn.
Menurut Thorn, probabilitas Bitcoin berada di sekitar US$50.000 atau justru melonjak ke US$250.000 pada akhir 2026 hampir seimbang. Kondisi ini mencerminkan kebingungan pasar, bukan keyakinan terhadap satu arah tertentu.
Ia menilai tekanan makro, perubahan kebijakan moneter, serta risiko politik akan menjadi faktor utama yang membentuk pergerakan pasar kripto dalam periode tersebut.
Optimisme Jangka Panjang Masih Terjaga
Meski risiko jangka pendek dan menengah cukup besar, pandangan jangka panjang terhadap Bitcoin belum sepenuhnya berubah.
Thorn tetap melihat potensi Bitcoin menuju US$250.000 pada akhir 2027, seiring meningkatnya adopsi institusional dan peran Bitcoin yang semakin dipandang sebagai aset makro.

Sumber Gambar: X.com/Sykodelic_
Analis lain, Sykodelic, juga menilai Bitcoin masih berada di bawah nilai wajarnya jika dibandingkan dengan likuiditas global dan emas.
“Kita belum memasuki fase bear market secara menyeluruh di pasar keuangan. Justru kondisinya berlawanan dengan itu. Jika melihat hubungan historis yang sangat erat antara emas, likuiditas, dan Bitcoin, terlihat bahwa Bitcoin saat ini hampir 90% berada di bawah nilai wajarnya,” unggah Skyodelic pada akun X-nya.
Berdasarkan hubungan historis, ia memperkirakan fair value Bitcoin berada di sekitar US$153.000, dengan peluang kenaikan lebih tinggi jika harga kembali mendekati rata-rata jangka panjang.
Baca selanjutnya: Bitcoin vs Ethereum vs XRP, Ini Aset yang Paling Siap Hadapi Tahun 2026
Risiko Koreksi Masih Mengintai pada 2026
Di sisi lain, pandangan bearish tetap mewarnai diskusi mengenai 2026. Sejumlah analis menilai tahun tersebut berpotensi menjadi fase koreksi dalam siklus Bitcoin.
Lark Davis berpendapat puncak siklus telah tercapai di kisaran US$126.000. Analisis siklus dari Fidelity juga mengarah pada tahun yang menantang, dengan area support kuat diperkirakan berada di rentang US$65.000 hingga US$75.000.
Mr. Wall Street menambahkan bahwa Bitcoin berpotensi menguji area US$64.000 hingga US$70.000 pada akhir kuartal pertama atau awal kuartal kedua 2026. Zona ini dinilai sebagai fase reset awal, meski belum tentu menjadi titik terendah akhir.
Kesimpulan
Bitcoin saat ini berada di persimpangan penting. Peluang rebound menuju US$100 ribu masih terbuka dalam jangka pendek, tetapi risiko koreksi tajam ke area US$65 ribu tidak bisa diabaikan.
Perbedaan pandangan analis menegaskan bahwa pasar kripto memasuki fase penuh ketidakpastian, di mana pergerakan harga lebih banyak ditentukan oleh faktor makro dan likuiditas dibanding euforia.
FAQ
- Apakah Bitcoin masih bisa naik ke US$100 ribu dalam waktu dekat?
Beberapa analis melihat peluang rebound jangka pendek karena faktor likuiditas. Namun, kenaikan ini dinilai berisiko dan belum tentu menandai tren naik baru. - Mengapa risiko bull trap sering dikaitkan dengan pergerakan Bitcoin saat ini?
Karena kenaikan harga bisa terjadi tanpa dukungan tren kuat. Dalam kondisi seperti ini, harga berpotensi naik sementara sebelum kembali turun tajam. - Kenapa level US$65 ribu dianggap penting oleh banyak analis?
Level tersebut dinilai sebagai zona support kuat berdasarkan analisis siklus dan historis, sekaligus area reset awal jika koreksi terjadi pada 2026. - Faktor apa yang paling memengaruhi harga Bitcoin saat ini?
Kondisi makro global, kebijakan moneter, likuiditas pasar, serta risiko politik menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan Bitcoin. - Apakah prospek jangka panjang Bitcoin masih positif?
Sebagian analis tetap optimistis dalam jangka panjang, meski menilai perjalanan menuju level harga yang lebih tinggi tidak akan berlangsung mulus.
Itulah informasi berita crypto hari ini. Aktifkan notifikasi agar Anda selalu mendapatkan informasi terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Jangan sampai ketinggalan berita terbaru terkait dunia kripto, pergerakan pasar, dan masih banyak lagi di laman artikel edukasi crypto terpopuler.
Anda juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya.
Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin, #Prediksi Harga Crypto Hari Ini






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


