Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru menunjukkan bahwa The Fed masih belum siap melunak terhadap inflasi.
Sikap hawkish ini langsung memicu kekhawatiran di pasar keuangan, termasuk pasar crypto yang selama beberapa bulan terakhir sangat sensitif terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Dalam minutes FOMC yang dirilis pada Rabu (20/5), mayoritas pejabat Federal Reserve mengisyaratkan bahwa suku bunga tinggi kemungkinan akan bertahan lebih lama.
Bahkan, beberapa anggota membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan apabila inflasi kembali memanas.
The Fed Masih Khawatir Inflasi Belum Jinak

Sumber Gambar: X.com
The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75%. Namun perhatian pasar tertuju pada nada pernyataan yang dinilai lebih agresif dibanding ekspektasi sebelumnya.
Beberapa pejabat Fed menilai inflasi masih sulit dikendalikan akibat kombinasi kenaikan harga energi, konflik geopolitik di Timur Tengah, hingga gangguan rantai pasok global.
Dalam laporan tersebut, staf The Fed memperkirakan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) naik menjadi 3,5% pada Maret 2026, lebih tinggi dibanding 2,8% pada Februari.
Kondisi ini membuat sebagian anggota Fed menilai kebijakan moneter saat ini belum cukup ketat untuk mengembalikan inflasi ke target 2%.
“Jika tekanan harga terus meningkat, suku bunga tambahan mungkin diperlukan,” tulis risalah FOMC tersebut.
Pernyataan itu langsung dibaca pasar sebagai sinyal hawkish baru dari bank sentral AS.
Baca juga berita terbaru: Bitcoin, XRP, dan Ethereum Naik Saat Senat AS Tekan Trump soal Iran
Empat Pejabat Fed Berbeda Pendapat
FOMC kali ini juga mencatat empat dissent atau perbedaan suara, jumlah tertinggi sejak 1992. Hal ini menunjukkan mulai munculnya perpecahan internal di tubuh Federal Reserve.
Stephen Miran menjadi satu-satunya pejabat yang mendukung pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin karena khawatir kebijakan moneter terlalu ketat dan dapat menekan pasar tenaga kerja.
Sementara itu, Beth Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie Logan justru menolak bahasa kebijakan yang membuka peluang pelonggaran moneter.
Perbedaan pandangan tersebut membuat pelaku pasar semakin sulit memprediksi arah kebijakan The Fed dalam beberapa bulan ke depan.
Di sisi lain, investor kini mulai fokus pada data inflasi AS berikutnya serta rapat FOMC bulan Juni untuk mencari petunjuk arah suku bunga selanjutnya.
Bitcoin Terancam Kehilangan Momentum
Tekanan terhadap Bitcoin (BTC) muncul karena pasar crypto kini semakin dipengaruhi faktor makroekonomi global, terutama kebijakan suku bunga AS.
Saat suku bunga tinggi bertahan lebih lama:
- imbal hasil obligasi AS cenderung naik,
- dolar AS menguat,
- likuiditas pasar berkurang,
- minat investor terhadap aset berisiko melemah.
Kondisi tersebut biasanya memberi tekanan pada saham teknologi dan crypto, termasuk Bitcoin.
Analis pasar senior Capital.com, Daniela Hathorn, mengatakan Bitcoin kini bergerak seperti aset makro berisiko tinggi atau high-beta macro asset.
“Pasar memasuki rilis risalah FOMC dengan mencari konfirmasi apakah The Fed kini lebih khawatir terhadap inflasi yang terus bertahan dibanding risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi,” kata Daniela Hathorn sebelum risalah tersebut dirilis dikutip dari Be(In)Crypto.
Menurutnya, sinyal hawkish dari The Fed dapat memicu fase konsolidasi setelah reli Bitcoin dalam beberapa pekan terakhir.
Ia menyoroti area US$76.000 hingga US$74.800 sebagai support penting Bitcoin. Sementara level US$82.000 menjadi resistance utama jika pasar mulai kembali optimistis terhadap arah kebijakan The Fed.
Investor Mulai Pantau Yield Obligasi dan Dolar AS
Pasca rilis FOMC minutes, perhatian investor tidak hanya tertuju pada harga Bitcoin, tetapi juga pergerakan yield obligasi AS dan indeks dolar.
Jika yield Treasury terus naik, investor cenderung memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman dibanding aset volatil seperti crypto.
Di saat yang sama, penguatan dolar AS juga berpotensi menekan harga Bitcoin karena likuiditas global menjadi lebih ketat.
Situasi ini membuat pasar crypto berada dalam posisi sensitif menjelang data inflasi AS berikutnya.
Baca berikutnya: Kevin Warsh Resmi Jadi Ketua The Fed Jumat Ini, Crypto Ikut Tegang
Pergantian Ketua The Fed Ikut Jadi Sorotan
Pasar juga mulai memperhatikan transisi kepemimpinan dari Jerome Powell ke Kevin Warsh yang diperkirakan akan berlangsung dalam waktu dekat.
Investor menilai arah kebijakan moneter setelah pergantian pimpinan The Fed dapat menentukan apakah suku bunga tinggi akan bertahan hingga 2026 atau tidak. Jika kebijakan tetap agresif, tekanan terhadap pasar crypto berpotensi berlanjut lebih lama.
Kesimpulan
Risalah FOMC terbaru memperlihatkan bahwa The Fed masih memprioritaskan perang melawan inflasi dibanding mendorong pertumbuhan ekonomi. Sikap hawkish ini membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga semakin menurun dan memicu tekanan baru terhadap Bitcoin.
Dalam jangka pendek, pasar crypto kemungkinan masih bergerak volatil sambil menunggu data inflasi dan keputusan FOMC berikutnya. Jika tekanan inflasi terus meningkat, peluang Bitcoin untuk kembali reli besar dalam waktu dekat bisa semakin terbatas.
FAQ
- Apa itu FOMC dan kenapa berpengaruh ke Bitcoin?
FOMC adalah komite Federal Reserve yang menentukan kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Keputusan FOMC sangat memengaruhi likuiditas global, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan pasar crypto. - Apa maksud The Fed bersikap hawkish?
Hawkish berarti The Fed cenderung mendukung suku bunga tinggi untuk menekan inflasi. Sikap ini biasanya membuat pasar crypto dan saham lebih tertekan karena uang beredar menjadi lebih ketat. - Kenapa suku bunga AS bisa memengaruhi harga Bitcoin?
Saat suku bunga naik atau bertahan tinggi, investor lebih tertarik menyimpan dana di obligasi AS yang dianggap lebih aman. Akibatnya, minat terhadap aset berisiko seperti Bitcoin bisa menurun. - Apa dampak FOMC terhadap market crypto saat ini?
FOMC terbaru membuat investor mulai khawatir bahwa pemangkasan suku bunga akan tertunda. Kondisi ini berpotensi memicu koreksi atau konsolidasi di pasar crypto dalam jangka pendek. - Apakah Bitcoin pasti turun setelah FOMC hawkish?
Tidak selalu. Namun sentimen hawkish biasanya meningkatkan volatilitas pasar crypto. Pergerakan Bitcoin selanjutnya tetap bergantung pada data inflasi, kondisi ekonomi AS, dan respons investor global. - Apa yang dimaksud support dan resistance Bitcoin?
Support adalah area harga yang dianggap kuat untuk menahan penurunan Bitcoin. Sedangkan resistance merupakan area yang sulit ditembus saat harga naik. Dalam analisis terbaru, area US$76.000 menjadi support penting dan US$82.000 menjadi resistance utama BTC.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin, #Prediksi Harga Crypto Hari Ini, #Berita The Fed






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


