Kasus hantavirus mulai menarik perhatian market global setelah wabah yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius dilaporkan menyebabkan delapan orang terinfeksi dan tiga kematian.
Meski Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai situasi masih terkendali, investor mulai mengaitkan kasus ini dengan trauma besar saat pandemi COVID-19 menghantam pasar pada 2020.
Kekhawatiran itu muncul karena kondisi ekonomi global saat ini dinilai jauh lebih rapuh dibanding enam tahun lalu. Inflasi masih tinggi, perang geopolitik belum mereda, dan harga minyak terus mengalami tekanan.
Di tengah situasi tersebut, Bitcoin (BTC) dan pasar saham dinilai berpotensi mengalami volatilitas besar jika wabah kesehatan baru benar-benar meluas.
Hantavirus Jadi Sorotan Baru Market Global

Sumber Gambar: X.com
Menurut laporan WHO per 8 Mei 2026, wabah hantavirus di kapal MV Hondius menyebabkan tiga korban jiwa, termasuk dua kasus yang telah dikonfirmasi.
Pemerintah Spanyol bahkan mulai mengevakuasi penumpang kapal yang berada di dekat Tenerife, Kepulauan Canary.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut hantavirus pulmonary syndrome memiliki tingkat kematian hampir 38% bagi pasien yang mengalami gangguan pernapasan serius.
Meski WHO menegaskan wabah ini belum mengarah ke pandemi seperti COVID-19, pasar tetap menunjukkan kewaspadaan tinggi.
Investor menilai ancaman baru di sektor kesehatan dapat menjadi pemicu tekanan tambahan bagi ekonomi global yang sudah terbebani konflik geopolitik dan inflasi.
Baca berita lainnya: Trump Bawa CEO Apple, Nvidia, dan Elon Musk Bertemu Xi Jinping, Ada Apa?
Kondisi Ekonomi Dinilai Lebih Rapuh dari 2020
Berbeda dengan awal pandemi COVID-19 pada 2020, ekonomi global saat ini menghadapi tekanan dari berbagai arah secara bersamaan.
Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3,1%. Salah satu pemicunya adalah konflik AS-Iran yang memicu gangguan distribusi energi dan perdagangan internasional.
Harga minyak Brent kini berada di dekat level US$100 per barel setelah sempat melonjak di atas US$116 akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Penutupan jalur Selat Hormuz juga memunculkan kekhawatiran baru terkait pasokan pangan dan pupuk global.
Di sisi lain, inflasi Amerika Serikat masih bertahan tinggi di level 3,3% pada Maret 2026. Angka itu jauh lebih tinggi dibanding Februari 2020 yang berada di sekitar 2,3% sebelum COVID-19 resmi dinyatakan sebagai pandemi global.

Sumber Gambar: Trading Economies via Be(in)crypto
Kondisi ini membuat bank sentral diperkirakan memiliki ruang lebih sempit untuk memberikan stimulus besar seperti saat pandemi lalu.
Bitcoin dan Saham Berpotensi Hadapi Tekanan Besar
Di tengah ketidakpastian tersebut, Bitcoin dan pasar saham sebenarnya sedang berada dalam tren pemulihan kuat.
Bitcoin tercatat naik sekitar 22% sejak akhir Februari dan bertahan di area US$80.000. Sementara itu, indeks S&P 500 baru saja mencetak rekor tertinggi baru di level 7.365.
Namun situasi itu justru membuat sebagian investor semakin waspada. Market dinilai sedang berada di level valuasi tinggi sehingga lebih rentan terhadap aksi jual besar jika muncul sentimen negatif baru.
Trauma 2020 masih membekas di pasar. Saat WHO mendeklarasikan COVID-19 sebagai pandemi, indeks S&P 500 anjlok sekitar 34% hanya dalam 35 hari.

Sumber Gambar: X.com
Bitcoin bahkan sempat kehilangan lebih dari 50% nilainya hanya dalam dua hari akibat panic selling dan krisis likuiditas global.
Analis menilai skenario serupa bisa kembali terjadi jika wabah hantavirus berkembang lebih luas dan memicu ketakutan global.
Baca juga: XRP, Bitcoin, dan Ethereum Bisa Jadi Aset Jaminan, Kata CEO Ripple
Harga Minyak dan Emas Ikut Jadi Perhatian
Selain saham dan crypto, pasar komoditas juga menjadi sorotan penting. Pada krisis COVID-19 2020, harga minyak sempat jatuh ke area negatif akibat runtuhnya permintaan global.
Namun kondisi sekarang berbeda karena pasar justru sedang menghadapi ancaman kekurangan pasokan akibat konflik geopolitik.
Jika aktivitas ekonomi kembali melambat karena ketakutan wabah, permintaan energi memang bisa menurun. Meski begitu, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi karena gangguan pasokan belum sepenuhnya selesai.
Sementara itu, emas dan perak juga mengalami tekanan sepanjang 2026. Setelah serangan AS-Israel ke Iran, harga emas turun lebih dari 12%, sedangkan perak melemah sekitar 9%.
Pada 2020, emas sempat jatuh bersamaan dengan market sebelum akhirnya bangkit ke rekor tertinggi berkat stimulus besar dari bank sentral. Namun banyak analis menilai pola pemulihan serupa belum tentu mudah terjadi kali ini.
Meski wabah hantavirus masih terbatas, market mulai memperhitungkan kemungkinan terburuk.
Investor saat ini menghadapi kombinasi tekanan yang jauh lebih kompleks dibanding 2020, mulai dari perang geopolitik, inflasi tinggi, suku bunga ketat, hingga valuasi aset yang sudah mahal.
Kesimpulan
Meski WHO menilai wabah hantavirus masih terkendali, market global mulai waspada terhadap potensi dampaknya ke ekonomi dan aset berisiko seperti Bitcoin dan saham.
Kekhawatiran muncul karena kondisi ekonomi 2026 dinilai jauh lebih rapuh dibanding 2020, mulai dari inflasi tinggi, perang geopolitik, hingga harga minyak yang masih mahal.
Jika wabah berkembang lebih luas, pasar berpotensi mengalami tekanan besar akibat panic selling dan aksi risk-off dari investor global.
FAQ
- Apa itu hantavirus?
Hantavirus adalah virus yang umumnya menyebar melalui tikus atau hewan pengerat. Virus ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius yang dikenal sebagai hantavirus pulmonary syndrome (HPS). - Apakah hantavirus bisa menjadi pandemi seperti COVID-19?
WHO saat ini menilai wabah hantavirus belum menunjukkan tanda menjadi pandemi global seperti COVID-19. Namun market tetap waspada karena potensi dampaknya terhadap ekonomi dan sentimen investor. - Kenapa Bitcoin bisa turun saat ada wabah penyakit?
Saat terjadi ketidakpastian besar, investor biasanya menjual aset berisiko untuk mengamankan dana. Bitcoin sering ikut terkena tekanan karena dianggap sebagai aset dengan volatilitas tinggi. - Apa yang dimaksud kondisi risk-off di market?
Risk-off adalah situasi ketika investor mengurangi kepemilikan aset berisiko seperti crypto dan saham, lalu berpindah ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS atau obligasi. - Apakah hantavirus berdampak ke harga minyak dan emas?
Potensinya ada. Jika wabah berkembang dan aktivitas ekonomi melemah, permintaan energi bisa turun sehingga memengaruhi harga minyak. Sementara emas biasanya menjadi aset pelindung saat market panik, meski tetap bisa mengalami volatilitas tinggi. - Kenapa market sekarang dianggap lebih rapuh dibanding 2020?
Karena ekonomi global sedang menghadapi tekanan bersamaan seperti inflasi tinggi, perang geopolitik, dan harga energi mahal. Kondisi ini membuat ruang stimulus dari pemerintah dan bank sentral menjadi lebih terbatas. - Apakah Bitcoin bisa crash lagi seperti saat pandemi COVID-19?
Belum tentu. Namun sebagian analis menilai market crypto tetap berisiko mengalami koreksi besar jika wabah kesehatan baru memicu kepanikan global dan aksi jual besar-besaran.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Referensi:
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin, #Prediksi Harga Crypto Hari Ini






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
