Indeks Harga Perdagangan Besar: Arti, Fungsi, dan Data
icon search
icon search

Top Performers

Indeks Harga Perdagangan Besar: Arti, Fungsi, dan Data

Home / Artikel & Tutorial / judul_artikel

Indeks Harga Perdagangan Besar: Arti, Fungsi, dan Data

Indeks Harga Perdagangan Besar: Arti, Fungsi, dan Data

Daftar Isi

Kenapa IHPB penting buat kamu yang mengamati ekonomi dan investasi

Setiap kali harga beras, cabai, atau semen naik, efeknya tidak hanya terasa di warung dan toko bahan bangunan. Di belakang layar, ada indikator yang merekam perubahan harga di level grosir dan menjadi rujukan pemerintah, pelaku usaha, sampai analis pasar: Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB).

Kalau kamu selama ini lebih sering mendengar Indeks Harga Konsumen (IHK), IHPB bisa jadi “lapisan awal” yang memberi sinyal lebih cepat tentang tekanan harga di hulu. Dari sinyal inilah bank sentral, pelaku pasar, sampai investor crypto membaca arah inflasi dan risiko.

Supaya tidak sekadar tahu istilah, kamu perlu menguasai arti, rumus, contoh data, sampai bagaimana mengaitkan IHPB dengan keputusan investasi, termasuk ketika kamu memantau aset digital seperti Bitcoin sebagai acuan utama pergerakan pasar kripto.

 

Apa itu Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB)

Sebelum menyentuh rumus dan data, kamu perlu fondasi konsep yang jelas dulu. Di sini, definisi resmi dan praktiknya di lapangan saling melengkapi.

 

Definisi dan konsep dasar

Secara konsep, IHPB adalah indeks yang menggambarkan perubahan harga pada tingkat pedagang besar atau grosir untuk berbagai komoditas yang diperdagangkan di suatu wilayah (negara atau provinsi). Harga yang digunakan adalah harga transaksi antara pedagang besar pertama yang membeli dari produsen dengan pedagang besar berikutnya atau pengecer.

 

Beberapa poin penting dari definisi ini:

  • Subjeknya adalah harga grosir, bukan harga ritel ke konsumen. 
  • Komoditas yang dipantau sangat luas: hasil pertanian, pertambangan, sampai produk industri. 
  • IHPB disajikan dalam bentuk angka indeks dengan tahun dasar tertentu, misalnya 2018=100 untuk seri Indonesia terbaru. 

 

Kalau IHPB Umum Nasional berada di angka 119, artinya harga grosir rata-rata sekitar 19 persen lebih tinggi dibanding tahun dasar.

 

Bedanya IHPB dengan IHK dan indeks harga lain

Sering kali IHPB disamakan dengan inflasi konsumen, padahal keduanya mengukur hal yang berbeda.

 

  1. IHPB vs IHK (Indeks Harga Konsumen) 
    • IHPB: fokus ke harga grosir di pedagang besar. 
    • IHK: fokus ke harga yang dibayar konsumen akhir untuk paket barang dan jasa tertentu. 
    • Dampak ke kebijakan: IHK sering dijadikan target inflasi resmi, sedangkan IHPB membantu membaca tekanan harga di hulu. 
  2. IHPB vs Indeks Harga Produsen (Producer Price Index)
    Di banyak negara, indeks harga produsen mencatat harga di tingkat pabrik/produsen. Di Indonesia, konsep yang mendekati fungsi ini adalah IHPB dan indeks harga perdagangan internasional (IHPI) untuk ekspor-impor. 
  3. IHPB vs IHPI (Indeks Harga Perdagangan Internasional) 
    • IHPB: fokus pada komoditas domestik. 
    • IHPI: memotret pergerakan harga barang ekspor dan impor, berguna untuk analisis neraca perdagangan dan daya saing. 

 

Dengan membedakan ketiganya, kamu bisa menempatkan IHPB sebagai indikator yang menjembatani kondisi harga di sisi produsen dan pedagang besar, sebelum efeknya muncul di inflasi konsumen.

 

Cara kerja dan rumus Indeks Harga Perdagangan Besar

Setelah mengerti konsep, langkah selanjutnya adalah memahami bagaimana angka indeks itu dihitung. Ini penting supaya kamu tidak hanya melihat “angka 119” tanpa konteks.

 

Rumus Laspeyres untuk IHPB

Secara teknis, IHPB menggunakan pendekatan indeks Laspeyres, yang mempertahankan bobot kuantitas dari tahun dasar. Bentuk umum rumusnya:

IHPB=?(Pn×Q0)?(P0×Q0)×100IHPB = \frac{\sum (P_n \times Q_0)}{\sum (P_0 \times Q_0)} \times 100IHPB=?(P0?×Q0?)?(Pn?×Q0?)?×100

 

Penjelasan singkat:

  • PnP_nPn? = harga komoditas pada periode sekarang 
  • P0P_0P0? = harga komoditas pada tahun dasar 
  • Q0Q_0Q0? = kuantitas atau bobot komoditas pada tahun dasar 
  • Tanda ?\sum? berarti penjumlahan untuk semua komoditas dalam keranjang. 

 

Intinya, harga sekarang dibandingkan dengan harga tahun dasar, dengan bobot kuantitas yang tetap, sehingga perubahan indeks lebih murni mencerminkan perubahan harga, bukan perubahan volume.

 

Contoh perhitungan sederhana

Bayangkan keranjang IHPB hanya berisi dua komoditas: beras dan semen. Misal:

  • Tahun dasar (2018): 
    • Beras: harga 10.000, kuantitas 10 
    • Semen: harga 50.000, kuantitas 2 

Total nilai tahun dasar:

  • Beras: 10.000 × 10 = 100.000 
  • Semen: 50.000 × 2 = 100.000 
  • Total = 200.000 

Tahun berjalan (2025), harga naik menjadi:

  • Beras: 12.000 
  • Semen: 55.000 

Total nilai tahun berjalan dengan kuantitas dasar:

  • Beras: 12.000 × 10 = 120.000 
  • Semen: 55.000 × 2 = 110.000 
  • Total = 230.000 

Maka:

IHPB=230.000200.000×100=115IHPB = \frac{230.000}{200.000} \times 100 = 115IHPB=200.000230.000?×100=115

Artinya, harga grosir rata-rata naik 15 persen dibanding tahun dasar.

Contoh ini masih sangat disederhanakan. Pada praktiknya, IHPB Indonesia mencakup ratusan komoditas dan bobot yang disusun lewat survei khusus.

 

Cara membaca angka IHPB

Supaya angka indeks tidak sekadar lewat di laporan, kamu bisa memegang tiga patokan sederhana:

  • IHPB > 100
    Harga grosir rata-rata lebih tinggi dibanding tahun dasar. 
  • IHPB = 100
    Harga grosir rata-rata setara dengan tahun dasar. 
  • IHPB < 100
    Harga grosir rata-rata lebih rendah dibanding tahun dasar. 

Selain itu, laporan resmi biasanya menampilkan:

  • Perubahan bulanan (m-to-m): bandingkan bulan ini dengan bulan sebelumnya. 
  • Perubahan tahunan (y-on-y): bandingkan bulan ini dengan bulan yang sama tahun lalu. 
  • Perubahan tahun kalender (y-to-d): bandingkan rata-rata sepanjang tahun berjalan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Perubahan tahunan dan tahun kalender biasanya lebih relevan ketika kamu menghubungkan IHPB dengan inflasi dan kebijakan moneter.

 

Cakupan komoditas dan sektor dalam IHPB Indonesia

Setelah menguasai cara membaca angka, pertanyaan berikutnya biasanya: komoditas apa saja yang masuk ke dalam indeks ini?

 

Tiga sektor utama: pertanian, pertambangan, dan industri

Dalam publikasi terbarunya, IHPB Indonesia dikelompokkan berdasarkan KBLI 2015 dan disajikan dalam tiga sektor besar:

 

  1. Sektor Pertanian 
    • Hasil pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, kehutanan, dan perikanan. 
    • Contoh komoditas: beras, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, kelapa sawit, dan hasil perikanan. 
  2. Sektor Pertambangan dan Penggalian 
    • Komoditas tambang dan bahan galian seperti batu bara, minyak dan gas (dalam batas tertentu), batu kapur, pasir, dan bahan bangunan alami. 
  3. Sektor Industri 
    • Produk manufaktur, dari makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, semen, aspal, cat, sampai produk logam, mesin, dan peralatan. 

 

Menurut publikasi IHPB 2024 dengan tahun dasar 2018=100, jumlah komoditas yang dipantau mencapai sekitar 687 komoditas.

Semakin luas cakupannya, semakin baik indeks ini menggambarkan dinamika harga di level grosir.

 

Perdagangan domestik vs ekspor-impor

Mulai seri terbaru, IHPB difokuskan pada komoditas domestik. Untuk barang ekspor dan impor, pergerakan harga disajikan terpisah lewat Indeks Harga Perdagangan Internasional (IHPI) dengan tahun dasar yang berbeda.

 

Bagi analis pasar:

  • IHPB berguna untuk membaca tekanan harga di rantai pasok domestik. 
  • IHPI membantu memantau pengaruh harga global dan nilai tukar terhadap barang yang diperdagangkan lintas negara. 

 

Keduanya saling melengkapi ketika kamu mengamati komoditas yang sangat terkait pasar global, misalnya batu bara, minyak sawit, atau logam industri yang sering dikaitkan dengan siklus harga aset finansial.

 

Update terkini IHPB Indonesia 2024–2025

Setelah paham strukturnya, sekarang masuk ke data terbaru. Bagian ini penting jika kamu ingin menulis analisis, membuat konten edukasi, atau sekadar tidak ketinggalan tren.

 

Gambaran IHPB tahun 2024

Tabel IHPB Indonesia (2018=100) menunjukkan bahwa IHPB Umum Nasional tahun 2024 berada di sekitar 119,20, dengan tiga sektor utama:

  • Pertanian: indeks tahunan sekitar 114,49 
  • Pertambangan dan penggalian: sekitar 126,12 
  • Industri: sekitar 120,28 

Secara tahunan, angka ini menggambarkan bahwa:

  • Harga grosir di sektor tambang relatif berada di level paling tinggi dibanding tahun dasar. 
  • Sektor pertanian mengalami tekanan harga yang juga cukup kuat, terutama pada komoditas pangan strategis. 
  • Sektor industri bergerak lebih stabil, meskipun tetap ada tekanan dari energi dan bahan baku. 

 

Perkembangan IHPB sepanjang 2025

Memasuki 2025, BPS merilis berita resmi IHPB tiap bulan. Beberapa poin kunci yang bisa kamu tarik:

 

  • Januari 2025 
    • Perubahan IHPB Umum Nasional y-on-y sekitar 2,11 persen terhadap Januari 2024. 
    • Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok makanan, minuman, tembakau, tekstil, pakaian, dan produk kulit. 
  • Maret 2025 
    • Perubahan IHPB Umum Nasional y-on-y sekitar 1,58 persen. 
    • Kenaikan cukup terasa di produk logam, mesin, dan peralatan, didorong harga sawit, minyak goreng, mesin cetak, bawang merah, dan rokok kretek filter. 
  • Juni 2025 
    • Perubahan IHPB Umum Nasional y-on-y sekitar 1,36 persen. 
    • Seksi produk logam, mesin, dan peralatan meningkat sekitar 2,15 persen. 
  • September 2025 
    • Perubahan IHPB Umum Nasional y-on-y sekitar 2,31 persen. 
    • Kenaikan tertinggi justru terjadi pada hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan, sekitar 5,74 persen, didorong kenaikan harga beras, bawang merah, sawit, minyak goreng, dan jagung. 
  • Oktober 2025 
    • IHPB Umum Nasional naik 2,61 persen y-on-y. 
    • Sektor pertanian kembali menjadi penyumbang terbesar dengan kenaikan sekitar 7,06 persen, dipicu harga beras, cabai merah, sawit, jagung, dan bawang merah.  
  • November 2025 
    • IHPB Umum Nasional naik 2,35 persen y-on-y. 
    • Seksi hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan masih memimpin dengan kenaikan sekitar 5,76 persen. 

 

Rangkaian data ini menggambarkan bahwa sepanjang 2025 tekanan harga grosir banyak datang dari komoditas pangan dan hasil pertanian, sementara sektor konstruksi dan industri juga bergerak naik, meskipun dengan laju yang lebih moderat.

Buat kamu yang mengamati inflasi, pola ini memberi sinyal bahwa tekanan biaya di hulu terutama berasal dari pangan dan bahan bangunan, yang pada akhirnya bisa merembet ke harga konsumen.

 

Fungsi IHPB untuk pemerintah, pelaku usaha, dan investor

Setelah melihat angka, pertanyaan berikutnya biasanya: digunakan untuk apa saja?

 

Indikator awal inflasi dan deflator PDB

Bagi pemerintah dan bank sentral, IHPB berfungsi sebagai:

  • Indikator awal tekanan harga di tingkat produsen dan pedagang besar. 
  • Deflator PDB, yaitu alat untuk mengkonversi nilai produk domestik bruto dari harga berlaku ke harga konstan, sehingga pertumbuhan ekonomi bisa diukur secara riil. 

Kalau IHPB naik cukup tajam dalam beberapa bulan, terutama pada kelompok pangan dan energi, biasanya analis akan mewaspadai potensi inflasi yang lebih tinggi dalam beberapa kuartal ke depan.

 

Dasar eskalasi harga pada kontrak jangka panjang

Di sektor konstruksi, infrastruktur, dan pengadaan publik, IHPB juga sering dimanfaatkan sebagai:

 

  • Dasar eskalasi harga kontrak multi-tahun 
  • Penentu penyesuaian biaya bahan bangunan dan jasa konstruksi, supaya kontraktor tidak terlalu dirugikan oleh kenaikan harga material seperti semen, aspal, baja, atau pasir. 

Bagi pelaku usaha, pemahaman terhadap IHPB membantu dalam:

  • Menyusun strategi harga dan margin. 
  • Mengatur stok ketika terlihat tren kenaikan harga di kelompok komoditas tertentu. 

 

Bahan analisis untuk investor dan analis pasar

Investor institusi dan analis kadang memanfaatkan IHPB untuk:

  • Menilai sektor mana yang sedang mengalami tekanan biaya paling besar. 
  • Mengaitkan kenaikan biaya produksi dengan laba perusahaan sektor terkait, misalnya emiten semen, pupuk, atau logam. 

 

Bagi investor ritel, kamu mungkin tidak mengolah angka sampai sedetail itu, tetapi memahami arah IHPB membantu kamu membaca suasana makroekonomi yang menjadi latar belakang pasar saham dan crypto.

 

Menghubungkan IHPB dengan aset keuangan dan crypto

Setelah menempatkan IHPB dalam konteks ekonomi, sekarang saatnya mengaitkannya dengan aset yang sering kamu pantau: saham dan crypto.

 

Dari harga grosir ke inflasi dan suku bunga

Alurnya bisa diringkas seperti ini:

 

  1. IHPB naik
    Menandakan harga grosir naik di tingkat pedagang besar. 
  2. Biaya produksi dan distribusi meningkat
    Perusahaan menanggung biaya bahan baku, energi, dan logistik yang lebih mahal. 
  3. IHK berpotensi ikut tertekan
    Kalau kenaikan biaya tidak bisa ditahan di level produsen, sebagian akan diteruskan ke konsumen. 
  4. Bank sentral merespons lewat kebijakan moneter
    Ketika inflasi menguat, suku bunga berpotensi tetap tinggi atau bahkan naik. 

 

Ketika suku bunga berada di level tinggi, aset berisiko seperti saham dan crypto biasanya menghadapi tekanan, karena investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang lebih aman seperti deposito atau obligasi pemerintah.

 

IHPB, sentimen risiko, dan minat pada aset digital

Di sisi lain, ketika IHPB meningkat karena lonjakan harga komoditas pangan dan energi, sebagian investor mulai mencari aset pelindung nilai terhadap inflasi, misalnya:

 

  • Emas 
  • Beberapa komoditas tertentu 
  • Aset digital dengan narasi “store of value” seperti Bitcoin 

 

Narasi ini tidak selalu berjalan mulus, karena harga crypto sangat dipengaruhi faktor lain seperti regulasi, adopsi, dan sentimen pasar global. Namun, data IHPB dan inflasi grosir tetap menjadi salah satu bahan bakar diskusi ketika investor menilai seberapa besar tekanan harga di ekonomi riil.

 

Cara memanfaatkan data IHPB dalam strategi investasi kamu

Sebagai investor ritel, kamu bisa menggunakan IHPB sebagai salah satu elemen dalam kerangka analisis makro:

 

  1. Perhatikan tren, bukan satu angka tunggal 
    • Apakah IHPB cenderung naik stabil, melonjak, atau justru melandai dalam 6–12 bulan terakhir? 
    • Bagian mana yang naik paling tajam: pertanian, pertambangan, atau industri? 
  2. Sambungkan dengan indikator lain 
    • Bandingkan dengan IHK, BI Rate, nilai tukar, dan data pertumbuhan ekonomi. 
    • Pola ini membantu kamu menebak apakah pasar sedang berada di fase tightening atau mulai lebih longgar. 
  3. Sesuaikan eksposur aset berisiko 
    • Ketika data inflasi dan IHPB menunjukkan tekanan masih kuat, kamu bisa lebih selektif dalam menambah posisi di aset berisiko, termasuk crypto. 
    • Sebaliknya, ketika tekanan harga mereda dan suku bunga berpotensi turun, selera risiko investor biasanya mulai membaik. 

 

IHPB tidak memberikan sinyal beli-jual langsung untuk Bitcoin atau altcoin. Namun, indeks ini membantu kamu memahami konteks ekonomi yang memengaruhi arah besar arus modal.

 

Keterbatasan dan hal yang perlu kamu waspadai dari IHPB

Tidak ada indikator yang sempurna, termasuk IHPB. Mengetahui kelemahannya penting supaya kamu tidak menarik kesimpulan berlebihan.

 

Tidak langsung mencerminkan harga konsumen

IHPB fokus pada harga grosir di tingkat pedagang besar. Di sepanjang rantai pasok, masih ada:

  • Biaya distribusi dan logistik 
  • Biaya pemasaran 
  • Margin pengecer 

 

Karena itu, kenaikan IHPB tidak selalu satu banding satu dengan kenaikan IHK. Ada kalanya produsen dan pedagang menyerap sebagian kenaikan biaya, sehingga inflasi konsumen tidak melonjak setinggi inflasi grosir.

 

Keterlambatan data dan potensi revisi

Laporan IHPB bulanan biasanya dirilis dengan jeda sekitar beberapa minggu setelah akhir bulan referensi.

 

Artinya:

  • Ketika kamu membaca data, kondisi di lapangan sudah sedikit bergeser. 
  • Bagi trader jangka sangat pendek, data ini mungkin terasa lambat. 
  • Beberapa angka bisa mengalami revisi seiring pembaruan data. 

 

Karena itu, IHPB cocok dipakai untuk analisis tren menengah-panjang, bukan untuk keputusan trading harian.

 

Struktur komoditas tiap negara berbeda

Kalau kamu membandingkan IHPB Indonesia dengan negara lain, kamu perlu ingat:

  • Keranjang komoditas, bobot, dan tahun dasar bisa berbeda. 
  • Struktur ekonomi (misalnya berbasis komoditas atau manufaktur) juga tidak sama. 

 

Jadi, perbandingan yang paling aman biasanya dilakukan antarperiode dalam negara yang sama, bukan lintas negara tanpa penyesuaian.

 

Kesimpulan

Indeks Harga Perdagangan Besar bukan sekadar tabel angka di laporan statistik. Di balik indeks ini, ada cerita tentang:

 

  • bagaimana harga beras, cabai, semen, dan mesin naik-turun di tingkat grosir, 
  • bagaimana pelaku usaha menyesuaikan strategi harga dan biaya, 
  • bagaimana pemerintah dan bank sentral membaca tekanan inflasi, 
  • dan bagaimana investor menilai risiko sekaligus mencari peluang, termasuk di pasar crypto. 

 

Dengan memahami arti, rumus, cakupan, dan data terbaru IHPB, kamu bisa memposisikan diri sedikit lebih depan dibanding pembaca laporan yang hanya melihat angka di permukaan.

Pada akhirnya, indeks seperti IHPB membantu kamu menyambungkan titik antara ekonomi riil dan portofolio investasi, sehingga keputusan yang kamu ambil tidak hanya mengikuti sentimen, tetapi juga didukung pemahaman data yang lebih kuat.

 

Itulah informasi menarik tentang Indeks Harga  perdagangan yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.

Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.

 

Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.

Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!

 

Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]

 

Follow Sosmed Twitter Indodax sekarang

Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram

 

FAQ 

 

1. Apa bedanya IHPB dengan IHK dalam praktik sehari-hari?

IHPB mengukur perubahan harga di tingkat pedagang besar atau grosir, sedangkan IHK mengukur harga yang dibayar konsumen akhir. Kenaikan IHPB biasanya muncul lebih dulu di rantai pasok. Kalau kenaikan itu diteruskan ke konsumen, baru terlihat pada indeks Harga Konsumen (IHK). Karena itu, IHPB sering dianggap sebagai salah satu sinyal awal tekanan inflasi di hulu.

2. Apakah kenaikan IHPB selalu berarti inflasi akan melonjak?

Tidak selalu. Produsen dan pedagang bisa menahan sebagian kenaikan biaya lewat efisiensi, pengurangan margin, atau strategi promosi. Namun, kalau kenaikan IHPB berlangsung cukup lama dan mencakup komoditas penting seperti pangan dan energi, risiko inflasi tentu membesar dan bank sentral akan memperhatikannya.

3. Bagaimana IHPB digunakan dalam kontrak konstruksi dan proyek pemerintah?

Dalam proyek jangka panjang, terutama konstruksi, nilai kontrak sering mencantumkan klausul eskalasi berdasarkan indeks tertentu. IHPB bahan bangunan atau kelompok konstruksi dipakai sebagai rujukan untuk menyesuaikan nilai kontrak terhadap kenaikan harga semen, beton, baja, dan material lain, sehingga risiko lonjakan biaya tidak sepenuhnya ditanggung satu pihak.

4. Apakah IHPB bisa dipakai sebagai sinyal beli atau jual crypto?

IHPB lebih cocok dipakai sebagai indikator latar makro, bukan sinyal trading langsung. Kenaikan IHPB yang menandakan inflasi grosir bisa memengaruhi ekspektasi suku bunga dan sentimen risiko. Dari situ, minat investor terhadap aset berisiko, termasuk crypto, bisa ikut berubah. Namun, harga crypto juga sangat dipengaruhi faktor lain, jadi sebaiknya kamu tetap menggabungkan analisis makro, analisis teknikal, data on-chain, dan sentimen pasar supaya keputusan trading kamu lebih terukur.

5. Di mana kamu bisa mendapatkan data IHPB terbaru untuk analisis?

Data resmi IHPB dipublikasikan oleh lembaga statistik nasional dalam bentuk berita rilis bulanan, tabel statistik, dan publikasi tahunan. Kamu bisa mengunduh angka indeks per sektor, komoditas, dan periode waktu, lalu mengolahnya sendiri untuk kebutuhan analisis, riset, atau konten edukasi yang lebih mendalam.

 

Author : RB

DISCLAIMER:  Segala bentuk transaksi aset kripto memiliki risiko dan berpeluang untuk mengalami kerugian. Tetap berinvestasi sesuai riset mandiri sehingga bisa meminimalisir tingkat kehilangan aset kripto yang ditransaksikan (Do Your Own Research/ DYOR). Informasi yang terkandung dalam publikasi ini diberikan secara umum tanpa kewajiban dan hanya untuk tujuan informasi saja. Publikasi ini tidak dimaksudkan untuk, dan tidak boleh dianggap sebagai, suatu penawaran, rekomendasi, ajakan atau nasihat untuk membeli atau menjual produk investasi apa pun dan tidak boleh dikirimkan, diungkapkan, disalin, atau diandalkan oleh siapa pun untuk tujuan apa pun.
  

Lebih Banyak dari Tutorial

Pelajaran Dasar

Calculate Staking Rewards with INDODAX earn

Select an option
dot Polkadot 2.25%
bnb BNB 0.52%
sol Solana 4.62%
eth Ethereum 2.32%
ada Cardano 1.02%
pol Polygon Ecosystem Token 1.87%
trx Tron 2.75%
DOT
0
Berdasarkan harga & APY saat ini
Stake Now

Pasar

Nama Harga 24H Chg
DEXE/IDR
DeXe
423.947
63.06%
COLLAT/IDR
Collateriz
29
51.13%
TAIKO/IDR
Taiko
7.000
37.12%
MPRO/IDR
Max Proper
5
25%
HOT/IDR
Holo
6
20%
Nama Harga 24H Chg
UB/IDR
Unibase
1.699
-34.65%
VBG/IDR
Vibing
6
-33.33%
CBG/IDR
Chainbing
7
-30%
BICO/IDR
Biconomy
526
-25.07%
CHT/IDR
CyberHarbo
3
-25%
Apakah artikel ini membantu?

Beri nilai untuk artikel ini

You already voted!
Artikel Terkait

Temukan lebih banyak artikel berdasarkan topik yang diminati.

Zooko Wilcox Ungkap Bug Serius di Zcash Orchard
23/06/2026
Zooko Wilcox Ungkap Bug Serius di Zcash Orchard

Isu keamanan kembali mengguncang ekosistem Zcash setelah laporan teknis mengungkap

23/06/2026
BEP20 vs ERC20: Pilih yang Mana untuk USDT?
23/06/2026
BEP20 vs ERC20: Pilih yang Mana untuk USDT?

Saat ingin transfer USDT, kamu biasanya akan melihat beberapa pilihan

23/06/2026
Trust Wallet vs MetaMask, Mana yang Lebih Aman?
23/06/2026
Trust Wallet vs MetaMask, Mana yang Lebih Aman?

Saat kamu mulai menyimpan aset kripto sendiri, pilihan wallet menjadi

23/06/2026