Harga Bitcoin masih bertahan di kisaran $60.000 meski konflik geopolitik memanas. Menurut JPMorgan, pasar kripto saat ini kekurangan katalis kuat untuk keluar dari fase stagnasi.
Ether juga diperdagangkan di sekitar $2.000, sementara volume transaksi di berbagai platform menipis. Kondisi ini menunjukkan partisipasi investor, baik ritel maupun institusional, masih tertahan.
Di tengah sentimen negatif, JPMorgan menyebut satu faktor yang bisa mengubah arah pasar: Clarity Act, rancangan undang-undang struktur pasar kripto di AS.
Kenapa Bitcoin Tetap Stagnan?

Harga BTC saat perang AS – Iran | Sumber: TradingView
Meski perang sering memicu volatilitas, Bitcoin belum menunjukkan reli signifikan. Pasar dinilai menunggu kepastian regulasi sebelum modal besar kembali masuk.
JPMorgan menyebut ketidakjelasan aturan menjadi beban utama. Investor besar cenderung menahan diri karena risiko hukum dan kepatuhan masih abu-abu.
Tanpa kerangka regulasi yang jelas, dana institusi sulit mengalokasikan modal dalam skala besar. Inilah yang membuat harga Bitcoin bergerak dalam rentang sempit.
Baca juga: Konflik Iran vs AS Membara, Apakah Harga Bitcoin Akan Ikut Terseret?
Apa Itu Clarity Act?
Clarity Act adalah rancangan undang-undang yang bertujuan membagi pengawasan antara regulator komoditas dan regulator sekuritas.
Token akan diklasifikasikan sebagai komoditas digital atau sekuritas, sehingga kewajiban dan aturannya lebih jelas.
JPMorgan menilai pemisahan yurisdiksi ini dapat mengurangi ketidakpastian hukum. Jika disahkan, regulasi ini berpotensi membuka pintu bagi manajer aset besar, dana pensiun, dan korporasi untuk meningkatkan eksposur kripto.
Rancangan tersebut juga memungkinkan proyek baru menggalang dana hingga $75 juta per tahun tanpa registrasi penuh, selama memenuhi aturan keterbukaan informasi.
Langkah ini dinilai bisa menghidupkan kembali penerbitan token dan aktivitas pendanaan yang sebelumnya berpindah ke luar negeri.
Kenapa Bisa Jadi Katalis Harga?
New: @JPMorgan says the Clarity Act could be the catalyst crypto needs, with a clear regulatory framework potentially unlocking institutional capital and driving a significant upside move in H2 2026. pic.twitter.com/Ee3Ykwm4qI
— CoinDesk (@CoinDesk) February 28, 2026
Menurut JPMorgan, pasar saat ini digerakkan oleh sentimen dan arus dana. Regulasi yang jelas dapat menjadi katalis struktural, bukan sekadar sentimen jangka pendek.
Jika institusi masuk secara signifikan, likuiditas pasar akan meningkat. Likuiditas yang lebih dalam biasanya membuat volatilitas lebih terkendali dan menarik lebih banyak produk investasi.
JPMorgan memperkirakan persetujuan regulasi struktur pasar kemungkinan terjadi pada pertengahan tahun. Jika itu terjadi, dampaknya bisa terasa pada paruh kedua tahun ini.
Namun hingga kini, pembahasan di Senat masih tertunda dan belum mencapai kesepakatan final. Ketidakpastian politik membuat rancangan tersebut masih berada dalam limbo.
Kesimpulan
Meski konflik global meningkat, Bitcoin belum menemukan momentum reli.
Menurut JPMorgan, bukan perang yang akan menggerakkan pasar, melainkan kepastian regulasi melalui Clarity Act.
Jika regulasi disahkan dan membuka jalan bagi partisipasi institusi, harga berpotensi terdorong oleh arus modal baru.
Namun selama undang-undang tersebut belum jelas arahnya, pasar kripto kemungkinan tetap bergerak dalam rentang terbatas.
FAQ
1. Apa itu Clarity Act dalam konteks kripto?
Clarity Act adalah rancangan undang-undang di AS yang bertujuan membagi pengawasan token antara regulator komoditas dan sekuritas agar aturan lebih jelas.
2. Mengapa regulasi bisa memengaruhi harga Bitcoin?
Kepastian hukum membuat institusi lebih percaya diri mengalokasikan dana, sehingga meningkatkan likuiditas dan potensi permintaan.
3. Apakah perang tidak berpengaruh pada Bitcoin?
Perang bisa memicu volatilitas jangka pendek, tetapi faktor struktural seperti regulasi sering lebih menentukan arah jangka menengah.
4. Apa arti likuiditas dalam pasar kripto?
Likuiditas adalah kemudahan membeli atau menjual aset tanpa memengaruhi harga secara drastis. Semakin tinggi likuiditas, semakin stabil pergerakan harga.
5. Kapan Clarity Act berpotensi disahkan?
Analis dari JPMorgan memperkirakan pertengahan tahun sebagai waktu yang mungkin, tetapi hingga kini pembahasannya masih tertunda di Senat.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Alo
Referensi
CoinDesk – Bitcoin is stuck in a rut but JPMorgan says new legislation could be the ultimate spark, diakses pada 2 Maret 2026
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin, #Berita Tokoh Kripto Dunia, #Prediksi Harga Crypto Hari Ini





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
