Tech Stock: Pengertian, Contoh, dan Tren 2026
icon search
icon search

Top Performers

Tech Stock: Pengertian, Contoh, dan Tren 2026

Home / Artikel & Tutorial / judul_artikel

Tech Stock: Pengertian, Contoh, dan Tren 2026

Tech Stock Pengertian, Contoh, dan Tren 2026

Daftar Isi

Ketika banyak orang mendengar istilah tech stock, yang terbayang biasanya hanya saham perusahaan besar seperti Apple, Microsoft, atau Google. Gambaran itu tidak salah, tetapi sekarang sudah tidak lagi cukup. Di 2026, tech stock tidak lagi hanya identik dengan software, gadget, atau internet. Sektor ini makin lekat dengan kecerdasan buatan, chip, cloud, sampai pembangunan data center dalam skala raksasa, terutama sejak perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai mendominasi arah teknologi modern. Itu sebabnya, memahami tech stock hari ini tidak bisa lagi memakai kacamata lama.

Perubahan itu juga membuat tech stock jadi salah satu topik yang paling menarik di pasar. Saat sektor teknologi melaju, dampaknya tidak hanya terasa di satu dua emiten, tetapi bisa memengaruhi indeks besar seperti S&P 500 dan Nasdaq, sentimen investor global, bahkan arah pembicaraan pasar secara keseluruhan. Karena itu, kalau kamu ingin memahami kenapa saham teknologi selalu jadi pusat perhatian, pembahasannya harus dimulai dari definisinya dulu, lalu bergerak ke contoh, karakter, risiko, dan tren terbaru yang sedang membentuk sektor ini.

 

Apa Itu Tech Stock?

Secara sederhana, tech stock adalah saham dari perusahaan yang kegiatan bisnis utamanya bergerak di sektor teknologi. Ini mencakup perusahaan perangkat lunak, perangkat keras, semikonduktor, layanan internet, cloud computing, sampai platform digital. Dalam klasifikasi pasar saham AS, sektor teknologi juga dikenali secara formal melalui indeks seperti S&P 500 Information Technology, yang berisi perusahaan-perusahaan teknologi dalam kerangka GICS.

Meski begitu, memahami tech stock hanya dari definisi sektor saja sering bikin orang keliru. Di pasar modern, beberapa saham dianggap bagian dari narasi teknologi bukan semata karena label sektornya, tetapi karena model bisnis, pertumbuhan, dan pengaruh teknologinya. Itu sebabnya nama seperti Amazon, Meta, sampai Tesla sering ikut dibahas dalam konteks tech stock, walaupun tidak semuanya masuk kategori teknologi dengan cara yang persis sama dalam klasifikasi indeks resmi. Di titik inilah tech stock berubah dari sekadar label industri menjadi cerminan perusahaan yang mendorong arah inovasi pasar.

Kalau ditarik lebih jauh, tech stock punya ciri yang membedakannya dari sektor lain. Perusahaan-perusahaan ini biasanya hidup dari inovasi, skalabilitas, dan pertumbuhan. Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi membangun ekosistem, infrastruktur, atau teknologi yang dipakai oleh banyak bisnis lain. Karena karakter itu, valuasi saham teknologi sering bergerak lebih agresif dibanding sektor tradisional. Dari sini mulai terlihat kenapa pembahasan tech stock selalu lebih luas daripada sekadar “saham perusahaan teknologi”.

 

Contoh Tech Stock Terbesar di Dunia Saat Ini

Setelah definisinya makin jelas, langkah berikutnya adalah melihat siapa pemain utamanya. Nama-nama besar inilah yang membuat tech stock selalu jadi sorotan investor, karena ukuran bisnis dan pengaruhnya terhadap pasar sudah sangat dominan.

Apple masih menjadi contoh paling mudah dipahami. Perusahaan ini tidak hanya menjual iPhone, iPad, atau Mac, tetapi membangun ekosistem yang membuat pengguna bertahan lama di dalam produknya. Dari perangkat keras sampai layanan digital, Apple menunjukkan bahwa tech stock bukan hanya soal menciptakan teknologi, tetapi juga soal mengunci nilai ekonomi dari ekosistem itu sendiri.

Microsoft juga punya posisi yang sangat kuat, tetapi jalurnya sedikit berbeda. Kekuatannya bukan hanya ada pada Windows atau Office, melainkan juga pada Azure, software enterprise, dan agresivitasnya di AI. Dalam beberapa tahun terakhir, Microsoft makin dilihat sebagai pemain inti dalam gelombang AI dan cloud, dua area yang sekarang justru menjadi pusat gravitasi baru di sektor teknologi.

Lalu ada Nvidia, nama yang makin sulit dipisahkan dari pembahasan tech stock modern. Kalau dulu Nvidia lebih dikenal di kalangan gamer dan industri grafis, sekarang perusahaan ini justru dianggap sebagai salah satu tulang punggung ledakan AI. Permintaan chip AI yang terus tinggi membuat Nvidia, bersama rantai pasok semikonduktor lainnya, menempati posisi yang sangat penting dalam struktur pasar teknologi saat ini.

Di luar itu, Amazon tetap relevan bukan hanya karena e-commerce, tetapi terutama karena AWS dan infrastruktur cloud. Alphabet masih dominan lewat mesin pencari, iklan digital, dan pengembangan AI. Meta bergerak dari bisnis media sosial ke arah AI dan infrastruktur komputasi. Sementara itu, Broadcom, AMD, TSMC, dan ASML makin sering disebut karena perannya dalam menopang ekosistem chip dan AI. Dengan kata lain, contoh tech stock hari ini tidak lagi berhenti pada nama-nama konsumen yang akrab di telinga, tetapi sudah meluas ke perusahaan yang bekerja di belakang layar namun menentukan masa depan teknologi.

Kalau kamu sering mendengar istilah Magnificent 7, itulah kelompok saham yang paling sering mewakili wajah tech stock modern. Istilah ini merujuk pada Alphabet, Amazon, Apple, Meta, Microsoft, Nvidia, dan Tesla. Fidelity mencatat bahwa ketujuh saham ini sempat menjadi pusat perhatian pasar karena kapitalisasi dan pengaruhnya yang sangat besar, bahkan beberapa di antaranya sudah pernah menembus valuasi lebih dari US$4 triliun pada awal 2026.

 

Kenapa Tech Stock Jadi Penggerak Market Global?

Setelah melihat nama-nama besarnya, wajar kalau muncul pertanyaan berikutnya: kenapa tech stock terasa begitu menentukan arah market? Jawabannya ada pada ukuran, bobot, dan efek berantainya terhadap indeks utama.

S&P 500 sendiri mencakup sekitar 80 persen kapitalisasi pasar saham AS, dan saham-saham berkapitalisasi besar memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pergerakan indeks tersebut. Karena banyak nama terbesar di pasar berasal dari sektor teknologi atau narasi teknologi, setiap pergerakan besar di saham-saham itu akan cepat terasa ke indeks, ETF, dan sentimen investor global.

Data bobot perusahaan di S&P 500 juga menunjukkan betapa dominannya saham-saham teknologi dalam struktur pasar saat ini. Di jajaran teratas ada Nvidia, Apple, Microsoft, Amazon, Alphabet, Broadcom, dan Meta. Ketika perusahaan-perusahaan seperti ini menguat, pasar terlihat sehat dan optimistis. Sebaliknya, ketika mereka melemah, tekanan ke indeks langsung terasa. Itu sebabnya tech stock sering dipandang bukan sekadar sektor, tetapi mesin yang ikut menarik atau menahan pasar secara keseluruhan.

Ada alasan lain kenapa tech stock sering memimpin ketika market sedang bullish. Investor biasanya mencari perusahaan dengan prospek pertumbuhan laba yang tinggi, margin yang menarik, dan potensi dominasi jangka panjang. Sektor teknologi memenuhi tiga hal itu lebih sering daripada sektor lain. Inovasi baru, model bisnis berbasis platform, dan skala global membuat banyak perusahaan teknologi terlihat paling menjanjikan saat likuiditas pasar sedang longgar.

Namun kekuatan itu juga punya sisi lain. Karena ekspektasi terhadap tech stock biasanya sangat tinggi, sektor ini cepat sekali bereaksi terhadap perubahan suku bunga, perubahan sentimen AI, dan musim laporan keuangan. Dengan kata lain, menjadi penggerak market memang memberi pengaruh besar, tetapi sekaligus membuat sektor ini berada di bawah sorotan paling ketat.

 

Tren Tech Stock 2026: AI, Chip, dan Data Center

Kalau ada satu hal yang paling membedakan pembahasan tech stock sekarang dibanding beberapa tahun lalu, itu adalah AI. Di 2026, pembicaraan tentang saham teknologi hampir tidak mungkin dipisahkan dari kecerdasan buatan, kebutuhan komputasi, dan perlombaan membangun infrastruktur.

Fidelity menilai AI sebagai salah satu tema utama pasar di 2026, sementara Deloitte memperkirakan industri semikonduktor global bisa mencapai rekor penjualan tahunan sekitar US$975 miliar di 2026, didorong oleh ledakan infrastruktur AI. Ini penting, karena menunjukkan bahwa pertumbuhan tech stock saat ini tidak hanya bertumpu pada aplikasi atau software di permukaan, tetapi pada lapisan dasar seperti chip, server, jaringan, dan data center.

Permintaan chip AI juga masih sangat kuat. Investopedia melaporkan bahwa pendapatan kuartalan TSMC mencetak rekor berkat ledakan data center AI, sementara permintaan perangkat keras AI dinilai belum menunjukkan tanda melambat. Dalam saat yang sama, investor juga mulai lebih selektif, karena belanja AI yang besar harus bisa dibuktikan menjadi laba dan arus kas nyata, bukan sekadar cerita pertumbuhan.

Di sinilah tech stock 2026 punya wajah yang lebih kompleks. Satu sisi, pasar masih terpukau oleh peluang AI. Sisi lain, investor mulai menuntut hasil. Teknologi bukan lagi hanya soal siapa yang paling inovatif, tetapi juga siapa yang paling mampu mengubah investasi besar menjadi bisnis yang efisien. Pergeseran dari fase euforia menuju fase pembuktian ini membuat sektor teknologi tetap menarik, tetapi tidak lagi bisa dibaca dengan cara yang terlalu sederhana.

Kalau diringkas, tren tech stock 2026 bertumpu pada tiga poros besar. Pertama, AI sebagai mesin utama narasi pertumbuhan. Kedua, semikonduktor sebagai fondasi fisik yang menopang AI. Ketiga, cloud dan data center sebagai arena tempat belanja modal besar terus mengalir. Dari sini kelihatan bahwa definisi tech stock sudah bergeser. Ia bukan cuma bicara soal perusahaan yang “menggunakan teknologi”, melainkan perusahaan yang berada di pusat pembangunan ekonomi digital baru.

 

Perbedaan Tech Stock dan AI Stock

Di tengah ramainya pembahasan AI, banyak orang mulai menyamakan tech stock dengan AI stock. Padahal dua istilah itu tidak sepenuhnya sama. Memahami perbedaannya penting supaya kamu tidak keliru membaca topik, terutama ketika melihat artikel pasar atau rekomendasi investasi.

Tech stock adalah kategori yang lebih luas. Semua saham perusahaan teknologi, dari software, hardware, cloud, keamanan siber, sampai semikonduktor, bisa masuk ke dalam payung besar ini. Sementara itu, AI stock lebih spesifik, yaitu saham perusahaan yang bisnisnya sangat terkait dengan kecerdasan buatan, baik sebagai pengembang model, penyedia infrastruktur AI, pembuat chip, maupun perusahaan yang pendapatannya sangat terdorong oleh adopsi AI.

Nvidia adalah contoh yang mudah dipahami. Ia jelas tech stock, tetapi saat ini juga sangat kuat masuk kategori AI stock karena chip-nya menjadi inti dari beban komputasi AI. Sebaliknya, Apple tetap tech stock yang besar, tetapi tidak selalu dilihat sebagai AI stock murni seperti Nvidia. Microsoft berada di tengah, karena ia adalah perusahaan teknologi besar yang kini juga sangat aktif mengintegrasikan AI ke cloud, software, dan produk-produknya.

Dengan kerangka ini, kamu bisa melihat satu aturan sederhana: semua AI stock pada dasarnya adalah tech stock, tetapi tidak semua tech stock adalah AI stock. Perbedaan ini penting karena narasi, risiko, dan ekspektasi pasar untuk AI stock biasanya lebih tajam. Saham-saham yang ditempatkan dalam tema AI sering menikmati premi sentimen yang lebih tinggi, tetapi juga lebih cepat terkena koreksi jika pertumbuhan tidak sesuai harapan.

 

Kenapa Tech Stock Sering Naik dan Turun Drastis?

Setelah memahami posisinya yang besar di pasar, pergerakan tech stock yang sering ekstrem sebenarnya jadi lebih masuk akal. Saham teknologi dikenal sangat responsif terhadap ekspektasi. Masalahnya, ekspektasi di sektor ini hampir selalu tinggi.

Ketika pasar percaya bahwa perusahaan teknologi bisa tumbuh cepat, memperluas margin, dan memimpin inovasi berikutnya, harga sahamnya bisa naik sangat agresif. Inilah yang sering terjadi saat likuiditas longgar, suku bunga cenderung stabil, dan investor berani membayar mahal untuk pertumbuhan masa depan. Dalam situasi seperti itu, tech stock sering menjadi pemimpin reli pasar.

Sebaliknya, ketika suku bunga naik atau pasar mulai meragukan laju pertumbuhan laba, saham teknologi bisa terkoreksi lebih dalam dibanding sektor defensif. Ini karena valuasi mereka sering dibangun di atas proyeksi masa depan. Semakin jauh laba yang diharapkan itu berada di depan, semakin sensitif harga saham terhadap perubahan tingkat diskonto, biaya modal, dan sentimen makro. Fidelity juga mengingatkan bahwa industri teknologi sangat dipengaruhi oleh obsolesensi teknologi, siklus produk yang pendek, persaingan, dan kondisi ekonomi umum.

Di 2026, dinamika itu masih terlihat jelas. Pasar tetap menyukai tema AI, tetapi tidak semua saham teknologi bergerak searah. Beberapa emiten chip dan infrastruktur diuntungkan oleh lonjakan permintaan, sementara sebagian saham lain justru tertahan karena kekhawatiran bahwa belanja AI terlalu besar dan pengembaliannya belum pasti. Itu sebabnya, ketika membahas tech stock, kamu tidak bisa hanya melihat sektornya. Kamu juga harus melihat di bagian mana perusahaan itu bermain, apakah di software, chip, cloud, platform, atau infrastruktur.

 

Risiko Investasi Tech Stock yang Perlu Kamu Tahu

Daya tarik tech stock memang besar, tetapi itu bukan alasan untuk menutup mata terhadap risikonya. Justru karena pertumbuhannya cepat dan ekspektasinya tinggi, investor perlu paham bahwa sektor ini bisa menghadirkan fluktuasi yang lebih keras.

Risiko pertama adalah valuasi. Ketika pasar sedang terlalu optimistis, saham teknologi bisa diperdagangkan pada level yang sangat mahal dibanding laba saat ini. Selama pertumbuhan terus kuat, pasar mungkin masih bisa menerima harga itu. Namun saat pertumbuhan melambat atau target bisnis meleset, koreksinya bisa terasa tajam. Inilah sebabnya mengapa saham teknologi sering tampak luar biasa ketika sedang naik, tetapi juga bisa sangat tidak nyaman saat pasar berubah arah.

Risiko kedua adalah kompetisi dan siklus inovasi. Di sektor teknologi, posisi dominan hari ini tidak selalu aman untuk jangka panjang. Perusahaan yang terlambat beradaptasi bisa cepat tertinggal. Produk yang hari ini jadi standar bisa saja beberapa tahun lagi digantikan oleh teknologi baru. Karena itu, investor di tech stock tidak cukup hanya mengenal brand besar. Mereka juga perlu memahami apakah perusahaan tersebut masih memimpin secara inovasi atau justru mulai kehilangan momentum.

Risiko ketiga datang dari regulasi, geopolitik, dan rantai pasok. Banyak perusahaan teknologi global beroperasi lintas negara, sangat bergantung pada pasokan chip, manufaktur, hak kekayaan intelektual, dan aturan data. Gangguan di salah satu area ini bisa langsung memengaruhi prospek bisnis dan pergerakan harga saham. Jika ditambah dengan ketergantungan yang tinggi pada belanja modal AI, jelas bahwa sektor ini memang menawarkan potensi besar, tetapi tidak pernah bebas risiko.

Meski begitu, risiko bukan berarti sektor ini harus dihindari. Risikonya justru perlu dipahami supaya kamu bisa menempatkan tech stock dengan cara yang lebih proporsional. Semakin kamu paham dari mana pertumbuhan datang dan apa ancaman utamanya, semakin mudah juga membaca apakah sebuah saham teknologi sedang layak dihargai mahal atau justru sedang terlalu dipuja pasar.

 

Hubungan Tech Stock dengan Crypto

Buat pembaca yang akrab dengan aset digital, topik ini sebenarnya punya kaitan yang menarik. Tech stock dan crypto memang berbeda kelas aset, tetapi keduanya sering bertemu dalam satu titik: narasi inovasi.

Tech stock mewakili perusahaan publik yang mendorong pengembangan teknologi lewat software, chip, cloud, dan infrastruktur digital. Sementara itu, crypto sering dipandang sebagai lapisan teknologi finansial dan jaringan digital baru yang tumbuh di atas konsep blockchain dan logika desentralisasi. Itulah sebabnya, ketika pasar sedang antusias pada tema teknologi, pembicaraan tentang AI, komputasi, blockchain, dan infrastruktur digital sering ikut bergerak dalam lanskap narasi yang mirip.

Kaitannya semakin terasa ketika kamu melihat peran infrastruktur. Di pasar saham, Nvidia, Microsoft, Amazon, atau Broadcom bisa dipandang sebagai pemain infrastruktur teknologi. Di crypto, jaringan seperti Ethereum sering dibahas sebagai fondasi untuk aplikasi, smart contract, dan ekosistem on-chain. Analogi ini memang tidak berarti keduanya sama, tetapi cukup membantu untuk memahami kenapa investor yang tertarik pada teknologi sering juga memperhatikan dua pasar ini sekaligus.

Di sisi lain, perkembangan AI juga ikut membuka jembatan baru. Munculnya token AI dan proyek-proyek yang membawa narasi komputasi terdesentralisasi membuat sebagian investor melihat crypto sebagai versi yang lebih spekulatif dari tema inovasi yang juga sedang mendorong tech stock. Tentu pendekatannya harus hati-hati, karena profil risiko kedua pasar sangat berbeda. Namun dari sudut pandang edukasi, memahami tech stock bisa membantu kamu membaca bagaimana narasi teknologi bergerak lebih luas, termasuk saat ia merembet ke aset digital.

 

Kesimpulan

Tech stock bukan lagi istilah sederhana untuk menyebut saham perusahaan teknologi. Di 2026, maknanya sudah berkembang jauh. Ia kini mewakili kumpulan perusahaan yang berada di pusat inovasi global, dari software dan cloud sampai chip, AI, dan infrastruktur data center. Pergeseran inilah yang membuat tech stock tetap relevan, bahkan ketika pasar terus berubah.

Kalau dulu orang melihat tech stock hanya sebagai saham dari perusahaan gadget atau internet, sekarang gambarnya jauh lebih besar. Saham teknologi telah menjadi cermin dari arah perkembangan ekonomi digital. Ia bisa menggerakkan indeks utama, membentuk sentimen investor, dan memengaruhi cara pasar menilai masa depan.

Karena itu, memahami tech stock tidak cukup berhenti di definisi atau daftar nama emiten. Yang lebih penting adalah memahami kenapa sektor ini punya pengaruh besar, bagaimana AI mengubah struktur pertumbuhannya, dan risiko apa yang ikut tumbuh di belakang potensi tersebut. Dari sana, kamu bukan hanya tahu apa itu tech stock, tetapi juga mengerti kenapa topik ini terus jadi pusat perhatian investor.

 

FAQ

1. Apa itu tech stock?

Tech stock adalah saham perusahaan yang bisnis utamanya bergerak di sektor teknologi, seperti software, hardware, semikonduktor, cloud, layanan internet, dan platform digital. Di 2026, pembahasan tech stock juga makin dekat dengan AI dan infrastruktur komputasi karena pertumbuhan sektor ini banyak didorong oleh kebutuhan chip, cloud, dan data center.

2. Apa saja contoh tech stock terbesar?

Contoh tech stock terbesar yang paling sering dibahas saat ini antara lain Apple, Microsoft, Nvidia, Amazon, Alphabet, Meta, dan Tesla. Kelompok ini sering disebut sebagai Magnificent 7 karena ukuran kapitalisasi dan pengaruhnya yang sangat besar terhadap pasar.

3. Apa bedanya tech stock dan AI stock?

Tech stock adalah kategori luas untuk saham perusahaan teknologi. AI stock adalah bagian yang lebih spesifik, yaitu saham perusahaan yang pertumbuhannya sangat terkait dengan kecerdasan buatan. Nvidia misalnya termasuk keduanya, sedangkan Apple lebih sering diposisikan sebagai tech stock umum daripada AI stock murni.

4. Kenapa tech stock sering naik saat market bullish?

Saat pasar sedang optimistis, investor biasanya mencari saham dengan pertumbuhan laba tinggi dan prospek jangka panjang yang kuat. Tech stock sering dianggap memenuhi karakter itu, sehingga arus dana cenderung masuk ke sektor ini lebih dulu. Karena bobotnya juga besar di indeks utama, kenaikan saham teknologi sering ikut menarik pasar secara keseluruhan.

5. Apakah tech stock cocok untuk pemula?

Tech stock bisa dipelajari oleh pemula, tetapi tetap perlu dipahami risikonya. Sektor ini menarik karena pertumbuhan dan inovasinya tinggi, tetapi juga cenderung lebih volatil. Buat pemula, yang paling penting bukan buru-buru mengejar saham yang sedang ramai, melainkan memahami model bisnis, posisi perusahaan, dan alasan kenapa pasar memberi valuasi tertentu pada saham tersebut.

 

Itulah informasi menarik tentang Tech Stock yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.

Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.

 

Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.

Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!

Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.

 

Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]

 

Follow Sosmed Twitter Indodax sekarang

Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram

 

 

Author : RB

DISCLAIMER:  Segala bentuk transaksi aset kripto memiliki risiko dan berpeluang untuk mengalami kerugian. Tetap berinvestasi sesuai riset mandiri sehingga bisa meminimalisir tingkat kehilangan aset kripto yang ditransaksikan (Do Your Own Research/ DYOR). Informasi yang terkandung dalam publikasi ini diberikan secara umum tanpa kewajiban dan hanya untuk tujuan informasi saja. Publikasi ini tidak dimaksudkan untuk, dan tidak boleh dianggap sebagai, suatu penawaran, rekomendasi, ajakan atau nasihat untuk membeli atau menjual produk investasi apa pun dan tidak boleh dikirimkan, diungkapkan, disalin, atau diandalkan oleh siapa pun untuk tujuan apa pun.
  

Lebih Banyak dari Tutorial

Pelajaran Dasar

Calculate Staking Rewards with INDODAX earn

Select an option
dot Polkadot 2.25%
bnb BNB 0.52%
sol Solana 4.62%
eth Ethereum 2.32%
ada Cardano 1.02%
pol Polygon Ecosystem Token 1.87%
trx Tron 2.75%
DOT
0
Berdasarkan harga & APY saat ini
Stake Now

Pasar

Nama Harga 24H Chg
KUNCI/IDR
Kunci Coin
2
100%
DEGEN/IDR
Degen
31
63.16%
DVI/IDR
Dvision Ne
3
50%
DEFI/IDR
DeFi
4
33.33%
SIREN/IDR
siren
13.783
29.38%
Nama Harga 24H Chg
STIK/IDR
Staika
1.916
-38.19%
MYX/IDR
MYX Financ
4.723
-26.95%
GRASS/IDR
Grass
6.965
-26.78%
PORTAL/IDR
Portal
318
-26.39%
ALITAS/IDR
Alitas
3
-25%
Apakah artikel ini membantu?

Beri nilai untuk artikel ini

You already voted!
Artikel Terkait

Temukan lebih banyak artikel berdasarkan topik yang diminati.

Cara Mencairkan USDT ke Rupiah, Ternyata Semudah Ini
03/06/2026
Cara Mencairkan USDT ke Rupiah, Ternyata Semudah Ini

Punya USDT tapi bingung cara mengubahnya menjadi Rupiah? Situasi ini

03/06/2026
Cara Mendapatkan Centang Hijau di WhatsApp Business Resmi
02/06/2026
Cara Mendapatkan Centang Hijau di WhatsApp Business Resmi

Bagi pemilik bisnis, WhatsApp bukan lagi sekadar aplikasi untuk membalas

02/06/2026
5 Cara Memulai Investasi Cryptocurrency untuk Gen Z
29/05/2026
5 Cara Memulai Investasi Cryptocurrency untuk Gen Z

Di era digital seperti sekarang, semakin banyak Gen Z yang

29/05/2026