Kecerdasan buatan makin sering dipakai untuk menjawab pertanyaan, membaca data, sampai membantu pengambilan keputusan, dan perkembangannya membuat pembahasan tentang validasi hasil AI jadi makin penting. Di saat yang sama, ada satu masalah yang belum benar-benar selesai: bagaimana cara memastikan output AI itu memang valid, tidak dimanipulasi, dan bisa dipercaya. Ini jadi makin penting ketika AI mulai masuk ke area yang sensitif seperti keuangan, identitas, otomatisasi, hingga aplikasi blockchain yang berjalan tanpa perantara.
Masalahnya bukan karena AI tidak canggih. Justru karena AI makin canggih, kebutuhan untuk memverifikasi hasil kerjanya ikut naik. Banyak model AI bekerja seperti kotak hitam. Kamu bisa melihat hasil akhirnya, tetapi tidak selalu tahu apakah input awalnya sudah benar, apakah prosesnya berjalan sesuai aturan, dan apakah hasil itu bisa diaudit dengan cara yang transparan. Di titik inilah blockchain mulai dilirik, bukan sekadar sebagai tempat menyimpan aset digital, tetapi sebagai lapisan kepercayaan untuk membuktikan bahwa proses AI berjalan sebagaimana mestinya terutama jika kamu sudah memahami apa itu blockchain sebagai fondasi sistem yang transparan dan sulit diubah. Gagasan inilah yang membuat nama Zypher Network mulai ikut dibicarakan di 2026, terutama karena proyek ini mendorong konsep verifiable AI lewat kombinasi AI, zero-knowledge, dan infrastruktur on-chain.
Kenapa Output AI Tidak Selalu Bisa Dipercaya?
Kalau dilihat dari luar, AI terasa praktis. Kamu memberi perintah, sistem memprosesnya, lalu jawaban muncul dalam hitungan detik. Namun di balik kemudahan itu, ada celah yang sering luput dibahas. AI bisa menghasilkan jawaban yang tampak meyakinkan meski dasarnya lemah. AI juga bisa bekerja dari input yang sudah berubah, data yang tidak utuh, atau parameter yang tidak diketahui pengguna. Ketika semua itu terjadi, hasil akhirnya mungkin tetap terlihat rapi, padahal fondasinya rapuh.
Dalam konteks biasa, masalah ini mungkin cuma berujung pada jawaban yang kurang akurat. Tetapi saat AI dipakai untuk analisis pasar, eksekusi trading, sistem reputasi, validasi identitas, atau otomasi keputusan, risikonya naik jauh lebih besar. Output yang tidak bisa diverifikasi berarti pengguna hanya diminta percaya. Padahal, di ekosistem blockchain, model semacam itu justru bertentangan dengan prinsip dasar transparansi dan auditabilitas.
Karena itu, perdebatan soal AI tidak lagi berhenti pada seberapa pintar modelnya. Fokusnya mulai bergeser ke pertanyaan yang lebih penting: apakah hasil AI bisa dibuktikan. Pergeseran inilah yang membuka ruang bagi pendekatan baru, yaitu menghubungkan AI dengan blockchain agar prosesnya tidak hanya cepat, tetapi juga bisa diverifikasi.
Bagaimana Cara AI Dibuktikan di Blockchain?
Saat blockchain dipakai untuk memverifikasi AI, fungsinya bukan sekadar mencatat hasil akhir. Peran terpentingnya justru ada pada penciptaan jejak bukti. Dengan blockchain, proses tertentu bisa direkam dalam bentuk yang sulit diubah, mudah diaudit, dan bisa diperiksa ulang oleh banyak pihak. Ini membuat kepercayaan tidak lagi bergantung pada satu operator atau satu perusahaan saja.
Dalam skema seperti ini, yang dibutuhkan bukan seluruh isi model AI dibuka ke publik. Yang lebih penting adalah membuktikan bahwa sebuah input memang benar, bahwa proses tertentu memang dijalankan, dan bahwa output yang keluar memang terhubung dengan proses tadi. Dari sinilah muncul konsep verifiable AI, yaitu pendekatan yang berusaha membuat kerja AI tidak lagi berdiri di atas asumsi, tetapi di atas bukti kriptografis dan validasi jaringan. Menurut situs resminya, Zypher memosisikan diri sebagai decentralized validation network untuk memverifikasi output agent dan menghasilkan zero-knowledge proofs dalam skala yang lebih besar.
Kalau diterjemahkan secara sederhana, blockchain di sini berfungsi sebagai mesin pencatat kepercayaan. Ia tidak membuat AI lebih pintar, tetapi membuat hasil AI lebih bisa diuji. Itu perbedaan yang penting. Banyak orang bicara soal kemampuan AI, tetapi tidak banyak yang membahas bagaimana hasil AI bisa dipertanggungjawabkan. Justru di situlah nilai utama pendekatan ini.
Apa Itu Proof of Prompt dan Proof of Inference?
Untuk memahami mengapa Zypher menarik dibahas, kamu perlu melihat dua istilah yang paling sering dikaitkan dengan proyek ini: Proof of Prompt dan Proof of Inference. Keduanya bukan sekadar jargon teknis, tetapi inti dari cara verifiable AI dibangun.
Proof of Prompt bisa dipahami sebagai upaya untuk membuktikan bahwa input atau perintah yang masuk ke sistem AI memang sesuai dengan yang seharusnya. Ini penting karena perubahan kecil pada prompt bisa mengubah output secara drastis. Jika input awal tidak bisa dibuktikan, maka hasil akhir pun susah dipercaya. Menurut DappRadar dan CoinMarketCap, Proof of Prompt pada Zypher dirancang untuk menghubungkan input prompt dengan output yang dihasilkan secara verifiable, sambil menjaga agar data sensitif tidak harus dibuka ke publik.
Dari sini logikanya mulai terasa. Sebelum menilai jawaban AI benar atau salah, kamu perlu tahu dulu bahwa pertanyaan atau instruksi yang diberikan ke AI memang asli, utuh, dan tidak disusupi perubahan. Kalau fondasi ini goyah, seluruh hasil di atasnya ikut goyah.
Lalu ada Proof of Inference. Kalau Proof of Prompt fokus pada input, Proof of Inference bergerak ke tahap berikutnya, yaitu memastikan bahwa output AI memang dihasilkan melalui proses inferensi yang sah dan sesuai aturan. Dengan kata lain, yang ingin dibuktikan bukan cuma jawaban akhirnya, tetapi juga bahwa jalur menuju jawaban itu memang valid. Zypher menyebut dirinya sebagai home of Proof of Prompt and Proof of Inference pada repositori token resminya, sementara situsnya juga menempatkan keduanya sebagai bagian inti dari infrastruktur agent execution dan proof generation.
Kalau dua mekanisme ini digabung, hasilnya cukup menarik. Input bisa dibuktikan. Proses bisa dilacak. Output bisa diverifikasi. Di sinilah AI mulai bergerak dari sekadar alat yang pintar menjadi sistem yang lebih akuntabel.
Peran Zero-Knowledge dalam Verifikasi AI
Tantangan berikutnya muncul setelah itu. Bagaimana cara membuktikan proses AI tanpa membocorkan semua data di dalamnya? Ini penting, karena banyak aplikasi AI bekerja dengan data sensitif. Membuka semuanya demi transparansi justru bisa melahirkan masalah baru, terutama soal privasi, keamanan, dan kepemilikan data.
Di sinilah zero-knowledge proof, atau ZK, jadi relevan. Secara sederhana, ZK memungkinkan suatu pihak membuktikan bahwa sebuah pernyataan benar tanpa harus mengungkap seluruh detail di baliknya. Prinsip ini sangat cocok untuk verifikasi AI. Sistem bisa membuktikan bahwa output dihasilkan dari proses yang sah tanpa harus membocorkan data mentah, isi prompt secara penuh, atau seluruh parameter internal yang sensitif.
Karena itu, kombinasi AI dan ZK terasa lebih masuk akal daripada sekadar trend sesaat. AI butuh kepercayaan. Blockchain memberi jejak audit. ZK menjaga agar proses pembuktian itu tidak menghancurkan privasi. Menurut laman resmi Zypher dan halaman Zytron mereka, fokus proyek ini memang bergerak di area agent execution, ZK proof verification, dan auditable AI computation on-chain.
Kalau ditarik lebih jauh, ini menjelaskan kenapa narasi AI dan blockchain belakangan tidak lagi berhenti di soal token atau chatbot melainkan mulai masuk ke pembahasan infrastruktur dan utilitas yang lebih dekat dengan konsep apa itu Web3. Arah pembahasannya mulai naik ke infrastruktur. Pertanyaan besarnya bukan lagi “AI bisa dipakai buat apa,” melainkan “bagaimana AI bisa dipakai di sistem yang tidak boleh bergantung pada kepercayaan buta.”
Zypher Network Bukan Sekadar Nama Proyek, tetapi Contoh Arah Baru
Setelah konsepnya jelas, barulah Zypher Network bisa dilihat dalam konteks yang tepat. Proyek ini lebih cocok dipahami sebagai infrastruktur verifiable AI daripada sekadar koin yang menumpang narasi AI. Dari berbagai materi resmi yang tersedia, Zypher memposisikan dirinya sebagai jaringan validasi terdesentralisasi untuk agent outputs, dengan insentif kriptoekonomi, prover nodes, dan arsitektur yang mendorong pembuktian AI secara on-chain atau semi-on-chain. Repositori token resminya juga menjelaskan POP sebagai token inti ekosistem, digunakan untuk mining rewards, pembayaran verifikasi AI agent, governance, dan kolaborasi lintas platform. Supply totalnya ditetapkan 10 miliar POP.
Yang membuat pembahasan soal Zypher lebih menarik lagi adalah proyek ini tidak berhenti di klaim konsep. Di situs resminya, Zypher juga menonjolkan Zytron sebagai high-performance BNB Layer 2 yang dioptimalkan untuk AI agent execution, zero-knowledge proof verification, dan developer integration. Masih dari situs yang sama, mereka menyebut telah ada lebih dari 3 juta wallet yang berinteraksi di fase pre-mainnet. Meski angka seperti ini tetap perlu dilihat sebagai klaim proyek dan bukan jaminan adopsi massal, setidaknya itu menunjukkan bahwa narasi yang dibangun bukan sekadar wacana satu halaman.
Artinya, saat kamu membahas Zypher Network, sudut pandangnya sebaiknya bukan “ini coin bagus atau tidak,” melainkan “ini contoh bagaimana industri mulai mencari cara untuk membuktikan kerja AI lewat infrastruktur blockchain.” Sudut pandang seperti ini jauh lebih aman, lebih edukatif, dan lebih kuat untuk artikel yang ingin menang di pencarian.
Kerja Sama dengan Conflux Menunjukkan Arah Implementasi
Sebuah konsep akan selalu terasa lebih kuat ketika mulai punya jejak implementasi. Di sinilah data yang kamu share soal kerja sama Zypher Network dan Conflux jadi penting. Dari materi yang kamu kirim, kolaborasi itu diposisikan sebagai upaya menggabungkan AI dan zero-knowledge untuk mendorong skalabilitas, privasi, serta pengalaman Web3 yang lebih efisien. Dalam narasi itu, Conflux hadir sebagai blockchain layer-1 yang fokus pada infrastruktur dApp yang cepat dan scalable, sementara Zypher membawa pendekatan AI plus ZK untuk memperkuat sisi validasi dan pengalaman pengguna.
Kalau dibaca lebih tenang, inti dari kerja sama seperti ini bukan sekadar pengumuman partnership yang ramai di media kripto. Yang lebih penting adalah arah berpikir di belakangnya. Industri mulai sadar bahwa AI tidak cukup hanya ditanamkan ke dalam produk. AI juga perlu dibuktikan. Ketika proyek blockchain mulai bermitra dengan infrastruktur verifiable AI, itu menandakan ada kebutuhan baru yang sedang dibentuk, yaitu kebutuhan akan trust layer untuk agent, inference, dan otomasi.
Di sinilah Zypher menjadi relevan sebagai studi kasus. Ia menunjukkan bahwa narasi verifiable AI sudah bergerak dari level teori ke level eksperimen industri. Belum tentu semuanya akan berhasil besar, tetapi jejaknya sudah mulai tampak.
Mengapa Narasi Ini Penting untuk Masa Depan Web3?
Web3 sejak awal menjual gagasan tentang kepemilikan, transparansi, dan sistem tanpa perantara. Namun ketika AI masuk ke dalam ekosistem itu, masalahnya jadi lebih rumit. AI bisa membantu pengguna, mengotomatiskan keputusan, sampai memproses data dalam jumlah besar, tetapi ia juga membawa risiko sentralisasi baru. Kalau hasil AI tidak bisa diaudit, pengguna hanya diminta percaya pada operator model, bukan pada sistem terbuka.
Karena itu, verifiable AI bisa dianggap sebagai upaya menyambungkan dua kebutuhan besar sekaligus. Dari sisi AI, ada kebutuhan akan kepercayaan. Dari sisi blockchain, ada kebutuhan akan utilitas yang lebih nyata dari sekadar transfer token. Ketika keduanya digabung, lahirlah ruang baru yang lebih menarik: AI yang tidak hanya bekerja, tetapi juga bisa dibuktikan kerjanya.
Dalam konteks ini, Zypher bukan satu-satunya nama yang mungkin akan muncul. Namun ia termasuk salah satu proyek yang cukup jelas menyusun narasinya di sekitar Proof of Prompt, Proof of Inference, validation network, prover nodes, dan AI-focused infrastructure. Ditambah lagi, proyek ini mengumumkan pendanaan sebesar 7 juta dolar AS pada Juli 2025 untuk mempercepat pengembangan ZK protocol stack dan AI-specific rollup infrastructure. Itu memberi sinyal bahwa pasar modal ventura juga melihat ada ruang pertumbuhan di sektor ini.
Meski begitu, penting juga untuk menjaga kepala tetap dingin. Pendanaan dan partnership bukan bukti final bahwa suatu proyek pasti sukses. Tetapi keduanya cukup untuk menunjukkan bahwa pasar mulai menganggap verifiable AI sebagai bidang yang layak diperhatikan.
Potensi Penggunaan di Dunia Nyata
Nilai sebuah infrastruktur baru biasanya baru terasa ketika kamu melihat ke mana ia bisa dipakai. Dalam kasus verifiable AI, potensi penggunaannya cukup luas. Di area DeFi, sistem seperti ini bisa dipakai untuk membantu memverifikasi keputusan bot atau agent yang menjalankan strategi tertentu. Di sektor identitas dan keamanan, pendekatan serupa bisa dipakai untuk memastikan keputusan model tidak keluar dari input yang sudah dimanipulasi. Di game dan aplikasi on-chain, verifikasi juga jadi penting agar interaksi berbasis AI tidak mudah diperdebatkan hasilnya.
Situs resmi Zypher dan halaman Zytron mereka memang banyak menekankan use case untuk AI agents, developer tooling, proof generation, gaming, dan audited AI workloads. Sementara DappRadar menyorot Proof of Prompt sebagai mekanisme yang menjaga instruksi dan respons agent tetap utuh, traceable, dan auditable. Kalau dibawa ke level yang lebih luas, ini berarti pasar sedang mencari cara agar agent AI tidak hanya aktif, tetapi juga dapat dipercaya oleh pengguna, protokol, maupun aplikasi lain yang berinteraksi dengannya.
Dengan kata lain, verifiable AI bukan sekadar tambahan fitur. Ia bisa menjadi lapisan yang menentukan apakah AI layak dipakai untuk tugas-tugas bernilai tinggi atau hanya cocok untuk eksperimen ringan.
Tantangan yang Tetap Perlu Diwaspadai
Meski ide dasarnya kuat, teknologi seperti ini belum bebas dari tantangan. Pertama, tingkat kompleksitasnya masih tinggi. Banyak istilah yang terlibat, mulai dari inference, prompt integrity, prover nodes, sampai zero-knowledge verification. Kalau tidak diterjemahkan dengan baik, proyeknya mudah terlihat keren di atas kertas tetapi sulit dipahami pasar yang lebih luas.
Kedua, adopsi nyata masih perlu waktu. Klaim infrastruktur, wallet interaction, dan berbagai partnership memang bisa menjadi tanda pertumbuhan, tetapi itu belum otomatis berarti penggunaan masif di tingkat industri. Banyak proyek Web3 punya teknologi menarik, namun gagal menembus penggunaan yang konsisten karena pasar belum siap atau pengalaman pengguna masih terlalu rumit.
Ketiga, tantangan terbesar justru ada pada pembuktian manfaat. Pada akhirnya, pengguna tidak akan bertahan hanya karena istilah teknisnya terdengar canggih. Mereka akan bertahan jika verifikasi AI benar-benar mengurangi risiko, memperbaiki efisiensi, dan memberi rasa aman yang nyata. Kalau manfaat itu tidak terasa, narasi sekuat apa pun akan cepat kehilangan tenaga.
Jadi, membahas Zypher Network secara edukatif perlu keseimbangan. Jangan terlalu merendahkan karena teknologinya masih awal. Jangan juga terlalu mengagungkan seolah semua masalah AI sudah selesai. Posisi yang paling sehat adalah melihatnya sebagai contoh proyek yang sedang mencoba menjawab celah penting dalam hubungan antara AI dan blockchain.
Apakah Verifikasi AI Bisa Jadi Standar Baru?
Pertanyaan ini belum punya jawaban final, tetapi arahnya mulai terlihat. Makin banyak keputusan diserahkan ke sistem otomatis, makin tinggi tuntutan untuk membuktikan bagaimana keputusan itu dihasilkan. Hal yang sama pernah terjadi di banyak sektor teknologi. Selama sistem masih kecil, orang bisa menerima model berbasis kepercayaan. Tetapi ketika skalanya membesar dan nilainya meningkat, bukti jadi lebih penting daripada janji.
Di situlah verifiable AI punya peluang. Bukan karena semua aplikasi AI wajib masuk blockchain, tetapi karena ada jenis penggunaan tertentu yang memang membutuhkan auditability, transparency, dan cryptographic assurance. Untuk konteks seperti DeFi, agent execution, identitas on-chain, atau otomatisasi bernilai tinggi, kebutuhan itu terasa jauh lebih nyata.
Kalau tren ini berlanjut, proyek seperti Zypher bisa ikut membentuk standar baru tentang bagaimana AI dipakai di lingkungan yang tidak ingin bergantung pada kepercayaan buta. Bisa jadi jalannya masih panjang. Bisa jadi bentuk akhirnya nanti berbeda dari yang dibayangkan hari ini. Namun satu hal sudah cukup jelas: pembahasan AI ke depan tidak akan berhenti pada kualitas output. Cepat atau lambat, pembuktian proses akan jadi bagian dari percakapan yang sama pentingnya.
Kesimpulan
Zypher Network menarik bukan semata karena ia membawa label AI atau karena punya token POP. Yang membuatnya layak dibahas justru karena ia berdiri di titik yang sedang dicari banyak orang: bagaimana membuat AI bisa dibuktikan, bukan hanya digunakan. Lewat konsep seperti Proof of Prompt, Proof of Inference, validasi terdesentralisasi, dan integrasi zero-knowledge, proyek ini mencoba menawarkan satu jawaban atas masalah kepercayaan yang selama ini membayangi AI.
Dari sana, kerja sama dengan Conflux memberi konteks bahwa ide ini sudah mulai diuji di level ekosistem, bukan hanya di atas whitepaper. Sementara struktur produk, token, dan pendanaan menunjukkan bahwa Zypher sedang berusaha membangun fondasi jangka panjang, bukan sekadar menumpang hype sesaat.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan apakah semua proyek seperti ini akan berhasil. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah masa depan AI memang membutuhkan sistem pembuktian yang lebih kuat. Jika jawabannya iya, maka pembahasan tentang verifiable AI akan makin besar, dan nama seperti Zypher Network layak dipahami sejak sekarang, bukan karena ia sudah selesai, tetapi karena ia sedang mencoba menjawab pertanyaan yang memang belum selesai.
FAQ
1. Apa itu Zypher Network?
Zypher Network adalah proyek infrastruktur blockchain yang berfokus pada verifiable AI, yaitu pendekatan untuk membuktikan bahwa output AI dihasilkan dari input dan proses yang sah. Proyek ini menempatkan diri sebagai decentralized validation network untuk agent outputs dan memakai kombinasi AI, blockchain, serta zero-knowledge proofs.
2. Apa fungsi Proof of Prompt di Zypher Network?
Proof of Prompt berfungsi untuk membuktikan bahwa input atau prompt yang diberikan ke AI tetap utuh dan tidak diubah sebelum diproses. Ini penting karena perubahan kecil pada prompt bisa menghasilkan output yang sangat berbeda. Dengan mekanisme ini, hubungan antara input dan hasil bisa diaudit dengan lebih baik.
3. Apa bedanya Proof of Prompt dan Proof of Inference?
Proof of Prompt fokus pada keaslian dan integritas input, sedangkan Proof of Inference fokus pada pembuktian bahwa output benar-benar dihasilkan melalui proses inferensi yang valid. Singkatnya, yang satu menjaga fondasi perintah, yang satu lagi membantu membuktikan jalur menuju hasil akhir.
4. Kenapa AI perlu dibuktikan dengan blockchain?
Karena banyak sistem AI bekerja seperti kotak hitam. Pengguna bisa melihat hasil, tetapi tidak selalu tahu apakah prosesnya dapat dipercaya. Blockchain memberi jejak yang sulit diubah dan lebih mudah diaudit, sehingga cocok dipakai sebagai lapisan kepercayaan untuk aplikasi AI yang membutuhkan akuntabilitas lebih tinggi.
5. Apa hubungan Zypher Network dengan Conflux?
Berdasarkan data yang kamu share, Zypher Network menjalin kolaborasi dengan Conflux untuk mendorong infrastruktur Web3 yang lebih scalable, privacy-focused, dan terhubung, dengan kombinasi AI dan zero-knowledge capabilities. Ini membuat Zypher relevan sebagai contoh implementasi awal verifiable AI di ekosistem blockchain.
6. Apakah POP adalah token resmi Zypher Network?
Ya. Berdasarkan repositori resmi token Zypher, POP adalah token ERC-20 resmi dalam ekosistem Zypher Network. Fungsinya mencakup mining rewards, pembayaran verifikasi AI agent, governance, dan medium kolaborasi lintas platform. Total supply yang dicantumkan adalah 10 miliar POP.
7. Apakah Zypher Network sudah besar?
Masih lebih tepat disebut proyek tahap awal hingga berkembang, bukan pemain mapan yang sudah matang sepenuhnya. Namun proyek ini sudah menunjukkan beberapa sinyal penting, seperti pendanaan 7 juta dolar AS pada 2025, pengembangan infrastruktur Zytron, serta klaim lebih dari 3 juta wallet interaction di pre-mainnet menurut situs resminya. Itu memberi tanda bahwa pasar mulai memperhatikannya, meski adopsi jangka panjangnya tetap perlu dibuktikan.
Itulah informasi menarik tentang Zypher Network yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.
Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
