Bitcoin (BTC) kembali berada di bawah tekanan setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan.
Aset kripto terbesar di dunia itu tercatat turun 3% selama 24 jam ke sekitar US$58.800 atau mendekati Rp1 miliar per BTC/IDR, sekaligus menjadi level terendah sejak September 2024.

Sumber Gambar: CoinMarketCap
Penurunan ini terjadi setelah indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi yang menjadi acuan utama Federal Reserve (The Fed), tercatat naik 3,8% secara tahunan (year-over-year) pada April 2026.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak Mei 2023 dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.
Data inflasi picu aksi jual Bitcoin
Rilis data inflasi langsung memicu aksi jual di berbagai aset berisiko. Selain Bitcoin, pasar saham Amerika Serikat juga ikut melemah karena investor kembali menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed.
Di pasar kripto, tekanan jual berlangsung sangat cepat. Dalam waktu sekitar satu jam setelah data diumumkan, lebih dari US$600 juta posisi leverage dilikuidasi.
Besarnya nilai likuidasi menunjukkan banyak trader sebelumnya bertaruh harga Bitcoin akan bertahan di level support, namun skenario tersebut gagal ketika tekanan jual meningkat.
Akibatnya, likuidasi posisi long mempercepat penurunan harga dan mendorong Bitcoin ke level terendahnya dalam hampir dua tahun.
Baca juga berita terkait: Harga BTC Tembus Zona “Bitcoin is Dead”, Sinyal Beli atau Bahaya?
Inflasi PCE kembali menjadi sorotan
Berbeda dengan Consumer Price Index (CPI) yang lebih sering dikenal masyarakat, PCE merupakan indikator inflasi yang paling diperhatikan Federal Reserve dalam menentukan arah suku bunga.
Selain inflasi utama yang mencapai 3,8%, Core PCE yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi juga naik menjadi 3,3% secara tahunan. Angka tersebut merupakan kenaikan terbesar sejak November 2023.
Proyeksi awal untuk Mei 2026 memperkirakan inflasi PCE dapat meningkat menjadi 4,1%, sehingga kekhawatiran pasar terhadap suku bunga tinggi The Fed kembali menguat.
Konflik geopolitik ikut memperburuk tekanan inflasi
Kenaikan inflasi tidak lepas dari lonjakan harga energi. Meningkatnya ketegangan terkait konflik Iran mendorong harga bahan bakar naik, yang kemudian berdampak pada biaya produksi, distribusi, hingga harga barang dan jasa.
Tekanan inflasi yang kembali meningkat membuat ruang bagi Federal Reserve untuk segera memangkas suku bunga menjadi semakin terbatas.
Mengapa inflasi tinggi berdampak pada Bitcoin?
Inflasi yang masih tinggi membuat pelaku pasar memperkirakan suku bunga Amerika Serikat akan tetap tinggi lebih lama dari yang sebelumnya diharapkan.
Kondisi tersebut biasanya menekan aset berisiko seperti Bitcoin karena investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih stabil, seperti obligasi pemerintah AS.
Akibatnya, permintaan terhadap aset kripto melemah dan tekanan jual meningkat.
Baca berita lainnya: 10 Crash Bitcoin Terbesar Sepanjang Sejarah, Pernah Anjlok Hingga 99%
Outflow ETF turut menambah tekanan jual

Sumber Gambar: SoSoValue
Selain sentimen inflasi, pelemahan Bitcoin juga terjadi di tengah arus keluar dana dari spot Bitcoin ETF.
Berdasarkan data SoSoValue, spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat membukukan net outflow harian sebesar US$469,08 juta pada Rabu (24/6).
Ketika investor menarik dana dari ETF, pengelola dana harus menjual sebagian kepemilikan Bitcoin untuk memenuhi proses redemption.
Penjualan tersebut menambah pasokan Bitcoin di pasar sehingga memperbesar tekanan jual yang sudah dipicu kondisi makroekonomi.
Kesimpulan
Lonjakan inflasi PCE AS menjadi 3,8% memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Sentimen tersebut memicu aksi jual di pasar kripto, membuat Bitcoin sempat turun ke sekitar US$58.000 atau mendekati Rp1 miliar.
Selanjutnya, pelaku pasar akan mencermati data inflasi dan kebijakan The Fed sebagai penentu arah pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek.
FAQ
1. Apa itu PCE dan mengapa memengaruhi harga Bitcoin?
PCE (Personal Consumption Expenditures Price Index) adalah indikator inflasi yang menjadi acuan utama Federal Reserve. Jika PCE meningkat, pasar biasanya memperkirakan suku bunga akan tetap tinggi sehingga aset berisiko seperti Bitcoin cenderung tertekan.
2. Mengapa inflasi tinggi membuat harga Bitcoin turun?
Inflasi yang tinggi membuat peluang penurunan suku bunga menjadi lebih kecil. Akibatnya, investor lebih memilih aset dengan imbal hasil tetap seperti obligasi dibandingkan Bitcoin yang tidak memberikan yield.
3. Apa perbedaan PCE dan CPI?
Keduanya sama-sama mengukur inflasi. Namun, CPI mengukur perubahan harga dari sisi konsumen, sedangkan PCE memiliki cakupan pengeluaran yang lebih luas dan menjadi indikator favorit Federal Reserve dalam menentukan kebijakan moneter.
4. Apa yang dimaksud likuidasi di pasar kripto?
Likuidasi terjadi ketika posisi trading dengan leverage ditutup otomatis oleh bursa karena harga bergerak berlawanan dan margin sudah tidak mencukupi. Likuidasi dalam jumlah besar sering mempercepat penurunan maupun kenaikan harga.
5. Mengapa arus keluar spot Bitcoin ETF dapat menekan harga?
Ketika investor menarik dana dari spot Bitcoin ETF, pengelola ETF perlu menjual sebagian Bitcoin yang dimiliki untuk memenuhi redemption. Penjualan tersebut menambah pasokan di pasar sehingga dapat memberikan tekanan terhadap harga Bitcoin.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi CS Indodax
- Nomor resmi Customer Support: (021) 5065 8888
- Nomor resmi CS Indodax Prioritas: (021) 5036 8888
- Email bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin, #Berita Regulasi Crypto






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


