Saat krisis finansial 2008 mengguncang sistem keuangan global, banyak orang baru sadar bahwa bank besar sekalipun bisa runtuh ketika fondasinya terlalu rapuh. Masalahnya bukan hanya soal kerugian investasi, tetapi juga modal yang tidak cukup kuat, likuiditas yang menipis, dan penggunaan utang yang terlalu agresif.
Dari kondisi itulah Basel III lahir. Aturan ini dibuat untuk memperkuat perbankan agar lebih siap menghadapi tekanan ekonomi. Namun menariknya, Basel III kini tidak hanya dibahas oleh pelaku industri perbankan. Istilah ini juga mulai sering muncul di kalangan investor emas, Bitcoin, dan crypto.
Bagi sebagian orang, Basel III dianggap sebagai aturan teknis yang hanya relevan untuk bank. Namun bagi investor crypto, aturan ini bisa menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan antara krisis perbankan, kepercayaan terhadap sistem finansial, dan naiknya minat terhadap aset alternatif.
Lalu, Basel III adalah apa sebenarnya? Kenapa aturan bank bisa ramai dibahas di crypto? Dan apakah Basel III benar-benar bisa berdampak pada Bitcoin?
Apa Itu Basel III?
Basel III adalah rangkaian standar regulasi perbankan internasional yang dibuat untuk memperkuat ketahanan bank dalam menghadapi krisis. Aturan ini dikembangkan oleh Basel Committee on Banking Supervision atau BCBS, sebuah komite internasional yang merumuskan standar pengawasan perbankan global.
Secara sederhana, Basel III mengatur agar bank tidak terlalu lemah saat menghadapi tekanan ekonomi. Bank diwajibkan memiliki modal yang lebih kuat, likuiditas yang lebih sehat, dan batasan leverage agar tidak terlalu bergantung pada utang.
Bayangkan sebuah bank seperti rumah besar yang berdiri di atas fondasi. Jika fondasinya tipis, rumah itu mungkin terlihat megah dari luar, tetapi bisa retak saat dihantam badai. Basel III berusaha mempertebal fondasi tersebut agar bank tidak mudah goyah ketika pasar sedang kacau.
Karena itu, ketika ada pertanyaan “Basel III adalah apa?”, jawaban paling mudahnya adalah: Basel III adalah aturan internasional yang dibuat agar bank lebih kuat, lebih hati-hati, dan lebih siap menghadapi krisis keuangan.
Kenapa Basel III Dibuat?
Basel III tidak muncul tanpa alasan. Aturan ini lahir sebagai respons terhadap krisis finansial global 2008, salah satu krisis terbesar dalam sejarah ekonomi modern.
Saat itu, banyak bank terlalu agresif mengambil risiko. Mereka memberikan pinjaman dalam jumlah besar, memakai leverage tinggi, dan memiliki cadangan modal yang tidak cukup kuat untuk menyerap kerugian. Ketika pasar properti Amerika Serikat runtuh dan produk keuangan berisiko mulai gagal bayar, efeknya menyebar ke banyak lembaga keuangan.
Salah satu momen paling terkenal dari krisis itu adalah runtuhnya Lehman Brothers. Kejatuhan bank investasi besar tersebut memicu kepanikan di pasar global. Banyak lembaga keuangan kehilangan kepercayaan satu sama lain. Bank menjadi enggan memberi pinjaman, likuiditas mengering, dan ekonomi masuk ke fase tekanan berat.
Dari kejadian itu, regulator menyadari bahwa aturan lama belum cukup kuat. Bank tidak bisa hanya dinilai dari seberapa besar asetnya, tetapi juga dari kualitas modal, kemampuan memenuhi kebutuhan dana jangka pendek, dan seberapa besar risiko yang mereka ambil.
Basel III hadir untuk menutup kelemahan tersebut. Fokusnya bukan hanya membuat bank terlihat sehat saat ekonomi stabil, tetapi juga memastikan bank tetap bisa bertahan saat kondisi memburuk.
Bagaimana Cara Kerja Basel III?
Untuk memahami cara kerja Basel III, kamu tidak perlu masuk terlalu dalam ke rumus perbankan. Intinya, Basel III bekerja dengan memperketat tiga fondasi utama bank: modal, likuiditas, dan leverage.
Bank Wajib Memiliki Modal Lebih Kuat
Salah satu bagian terpenting dalam Basel III adalah kewajiban bank memiliki modal berkualitas tinggi. Modal ini berfungsi sebagai bantalan jika bank mengalami kerugian.
Dalam perbankan, salah satu istilah yang sering muncul adalah Common Equity Tier 1 atau CET1. Ini adalah modal inti berkualitas tinggi yang bisa digunakan bank untuk menyerap kerugian. Semakin kuat modal inti sebuah bank, semakin besar kemampuannya bertahan saat terjadi tekanan ekonomi.
Analogi sederhananya seperti dana darurat. Jika seseorang punya penghasilan besar tetapi tidak punya dana darurat, hidupnya tetap rentan saat terjadi masalah. Begitu juga bank. Aset besar tidak selalu berarti aman jika cadangan modalnya lemah.
Dengan Basel III, bank tidak bisa terlalu santai mengandalkan pertumbuhan aset tanpa memperkuat modal. Mereka harus menjaga kualitas permodalan agar risiko kerugian tidak langsung mengguncang seluruh sistem.
Likuiditas Bank Harus Lebih Sehat
Selain modal, Basel III juga memperketat aturan likuiditas. Likuiditas adalah kemampuan bank memenuhi kebutuhan dana dalam jangka pendek. Ini sangat krusial karena krisis bank sering terjadi bukan hanya karena bank rugi, tetapi karena bank tidak punya cukup dana cepat saat nasabah atau pihak lain menarik uang dalam jumlah besar.
Dalam Basel III, ada dua standar penting yang sering dibahas, yaitu Liquidity Coverage Ratio atau LCR dan Net Stable Funding Ratio atau NSFR.
LCR mengharuskan bank memiliki aset likuid berkualitas tinggi yang cukup untuk bertahan dalam kondisi tekanan selama periode tertentu. Aset likuid ini bisa segera dicairkan saat bank membutuhkan dana.
Sementara itu, NSFR mendorong bank menggunakan sumber pendanaan yang lebih stabil untuk jangka panjang. Dengan aturan ini, bank tidak terlalu bergantung pada dana jangka pendek yang bisa hilang cepat saat pasar panik.
Kedua aturan ini dirancang agar bank tidak mudah terseret krisis likuiditas. Sebab dalam banyak kasus, kepanikan bisa menyebar sangat cepat. Ketika kepercayaan hilang, masalah kecil bisa berubah menjadi krisis besar hanya dalam hitungan hari.
Leverage Bank Dibatasi
Basel III juga membatasi penggunaan leverage. Leverage adalah penggunaan dana pinjaman untuk memperbesar aktivitas bisnis atau investasi. Dalam kondisi normal, leverage bisa meningkatkan keuntungan. Namun saat kondisi memburuk, leverage juga bisa memperbesar kerugian.
Bank yang terlalu tinggi leverage-nya ibarat berdiri dengan kaki terlalu tipis sambil membawa beban besar. Selama kondisi tenang, semuanya terlihat baik. Namun ketika ada guncangan, risiko jatuhnya jauh lebih besar.
Dengan leverage ratio, Basel III mendorong bank agar tidak terlalu agresif memakai utang. Tujuannya agar bank tetap punya keseimbangan antara aset, modal, dan risiko.
Dari sini terlihat bahwa Basel III bukan sekadar aturan administratif. Regulasi ini mencoba memperbaiki pola lama perbankan yang terlalu bergantung pada pertumbuhan cepat, utang besar, dan asumsi bahwa pasar akan selalu stabil.
Apa Bedanya Basel I, Basel II, dan Basel III?
Basel III sebenarnya merupakan kelanjutan dari regulasi sebelumnya, yaitu Basel I dan Basel II. Ketiganya punya fokus yang berbeda karena lahir dari kondisi ekonomi yang berbeda.
Basel I diperkenalkan pada akhir 1980-an. Fokus utamanya adalah standar modal minimum. Saat itu, regulator ingin memastikan bank memiliki modal yang cukup terhadap aset berisiko yang mereka miliki.
Basel II kemudian hadir dengan pendekatan yang lebih luas. Regulasi ini tidak hanya membahas modal, tetapi juga manajemen risiko dan pengawasan. Basel II mencoba membuat perbankan lebih peka terhadap berbagai jenis risiko, termasuk risiko kredit, risiko pasar, dan risiko operasional.
Namun krisis 2008 menunjukkan bahwa Basel II belum cukup. Banyak bank tetap terlihat sehat sebelum krisis, tetapi ternyata rapuh saat tekanan besar datang. Dari kelemahan itulah Basel III dirancang dengan standar yang lebih ketat.
Basel III memberi perhatian lebih besar pada kualitas modal, likuiditas, leverage, dan buffer modal. Artinya, bank tidak hanya diminta punya modal minimum, tetapi juga harus punya daya tahan ekstra saat ekonomi memburuk.
Perbedaan ini membuat Basel III lebih relevan dalam pembahasan sistem keuangan modern. Bukan karena aturan sebelumnya tidak berguna, tetapi karena risiko keuangan terus berubah dan membutuhkan perlindungan yang lebih kuat.
Kenapa Basel III Ramai Dibahas Investor Emas?
Basel III juga sering dikaitkan dengan emas karena emas selama ini dianggap sebagai aset safe haven. Saat kepercayaan terhadap sistem keuangan melemah, emas biasanya kembali dilirik sebagai aset pelindung nilai.
Dalam pembahasan Basel III, sebagian investor menyoroti bagaimana emas fisik dipandang dalam sistem keuangan. Narasi yang sering muncul adalah bahwa emas fisik memiliki posisi lebih kuat dibanding instrumen berbasis emas yang tidak sepenuhnya didukung aset nyata.
Inilah yang membuat Basel III sering masuk ke diskusi investor emas. Banyak orang menganggap aturan ini bisa meningkatkan minat terhadap emas fisik karena sistem perbankan didorong untuk lebih berhati-hati terhadap risiko aset dan likuiditas.
Namun, hubungan Basel III dan harga emas tidak bisa disederhanakan menjadi satu kalimat seperti “Basel III pasti membuat emas naik.” Harga emas tetap dipengaruhi banyak faktor, mulai dari suku bunga, inflasi, kebijakan bank sentral, nilai dolar AS, hingga ketegangan geopolitik.
Basel III bisa menjadi bagian dari narasi besar tentang stabilitas finansial, tetapi bukan satu-satunya penyebab perubahan harga emas. Karena itu, pembahasan Basel III dan emas perlu dilihat secara proporsional agar tidak berubah menjadi klaim berlebihan.
Apa Hubungan Basel III dengan Bitcoin dan Crypto?
Hubungan Basel III dengan Bitcoin dan crypto tidak bersifat langsung seperti regulasi yang mengatur exchange atau aset digital. Basel III adalah aturan untuk perbankan, bukan aturan khusus untuk Bitcoin.
Namun, hubungan tidak langsungnya cukup menarik. Bitcoin lahir setelah krisis finansial 2008, saat kepercayaan terhadap bank dan lembaga keuangan sedang jatuh. Banyak orang melihat Bitcoin sebagai respons terhadap sistem keuangan terpusat yang dianggap rapuh, terlalu dikendalikan lembaga besar, dan rentan terhadap krisis.
Di sinilah Basel III mulai sering dibahas dalam komunitas crypto. Aturan ini dianggap sebagai bukti bahwa sistem perbankan memang membutuhkan penguatan besar setelah krisis. Bagi sebagian investor crypto, hal itu memperkuat argumen bahwa aset digital seperti Bitcoin hadir sebagai alternatif di luar sistem bank tradisional.
Namun, perlu dibedakan antara fakta dan narasi pasar. Fakta utamanya, Basel III memperkuat aturan perbankan. Narasi tambahannya, sebagian pelaku pasar mengaitkan aturan ini dengan meningkatnya minat terhadap aset non-bank seperti Bitcoin dan emas.
Bitcoin sering disebut sebagai aset digital yang tidak bergantung pada bank sentral, tidak diterbitkan oleh pemerintah, dan memiliki suplai terbatas. Karakteristik ini membuat Bitcoin sering masuk ke diskusi tentang lindung nilai, terutama saat ada kekhawatiran terhadap inflasi, krisis bank, atau pelemahan kepercayaan terhadap sistem finansial.
Meski begitu, bukan berarti Basel III otomatis membuat harga Bitcoin naik. Pengaruhnya lebih banyak berada di level sentimen makro. Ketika publik membahas risiko perbankan, krisis likuiditas, atau kepercayaan terhadap sistem finansial, narasi Bitcoin sebagai aset alternatif biasanya ikut menguat.
Apakah Basel III Berdampak Langsung ke Harga Crypto?
Basel III tidak berdampak langsung ke harga crypto seperti halnya listing token, halving Bitcoin, keputusan suku bunga, atau regulasi aset digital. Basel III bekerja di sektor perbankan, sedangkan crypto bergerak dalam ekosistem aset digital.
Namun, efek tidak langsungnya tetap bisa muncul melalui sentimen pasar. Ketika aturan perbankan diperketat, investor bisa membaca hal itu sebagai sinyal bahwa sistem keuangan global sedang berusaha mengurangi risiko. Pembahasan tentang risiko sistemik, krisis likuiditas, dan stabilitas bank biasanya membuat investor kembali melihat aset alternatif.
Dalam kondisi tertentu, Bitcoin bisa mendapat perhatian lebih besar ketika muncul kekhawatiran terhadap bank. Hal ini pernah terlihat saat terjadi krisis kepercayaan pada beberapa bank besar. Saat isu perbankan ramai, narasi Bitcoin sebagai aset di luar sistem bank kembali muncul.
Namun investor tetap harus hati-hati. Crypto adalah aset berisiko tinggi. Bitcoin memang punya narasi sebagai aset alternatif, tetapi harganya tetap sangat volatil. Faktor seperti suku bunga, arus dana institusi, regulasi crypto, ETF, likuiditas pasar, dan sentimen global tetap punya pengaruh besar.
Jadi, Basel III lebih tepat dilihat sebagai bagian dari konteks makro, bukan pemicu langsung pergerakan harga crypto.
Mitos dan Fakta Basel III di Crypto
Karena Basel III sering dibahas dalam konteks emas dan crypto, banyak narasi berlebihan muncul di internet. Beberapa di antaranya terdengar menarik, tetapi tidak semuanya akurat.
Salah satu narasi yang sering muncul adalah Basel III akan membuat Bitcoin naik drastis. Faktanya, Basel III tidak mengatur harga Bitcoin dan tidak menciptakan permintaan langsung terhadap Bitcoin. Jika ada pengaruh, sifatnya lebih ke sentimen dan cara investor membaca risiko sistem keuangan.
Narasi lain menyebut Basel III akan menghancurkan dolar AS. Klaim seperti ini terlalu jauh. Basel III memang berkaitan dengan stabilitas bank, tetapi bukan aturan yang dirancang untuk menggantikan mata uang tertentu.
Ada juga narasi bahwa Basel III akan memicu reset finansial besar-besaran. Istilah seperti ini sering dipakai dalam konten spekulatif. Faktanya, Basel III adalah reformasi regulasi perbankan yang diterapkan bertahap oleh berbagai negara. Prosesnya teknis, panjang, dan tidak bekerja seperti tombol yang langsung mengubah sistem finansial dalam satu malam.
Bagi investor crypto, memahami perbedaan antara fakta dan spekulasi sangat penting. Pasar crypto sering bergerak cepat karena narasi. Jika kamu hanya mengikuti potongan informasi tanpa memahami konteksnya, risiko salah mengambil keputusan bisa semakin besar.
Basel III memang relevan untuk dipahami, tetapi bukan karena ia menjadi “kode rahasia” bull market. Relevansinya ada pada cara aturan ini memperlihatkan bahwa sistem keuangan global terus beradaptasi setelah krisis besar.
Apakah Basel III Berlaku di Indonesia?
Indonesia juga mengadopsi kerangka Basel III melalui regulasi perbankan yang disesuaikan dengan kondisi nasional. Pengawasan terhadap bank dilakukan oleh otoritas terkait, termasuk Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia sesuai ruang lingkup masing-masing.
Penerapan Basel III di Indonesia bertujuan memperkuat ketahanan perbankan nasional. Bank didorong memiliki modal yang cukup, manajemen risiko yang lebih baik, serta kemampuan menjaga likuiditas saat menghadapi tekanan ekonomi.
Bagi masyarakat umum, dampaknya mungkin tidak selalu terasa secara langsung. Kamu mungkin tidak melihat perubahan ini ketika membuka rekening, memakai mobile banking, atau mengajukan pinjaman. Namun di balik layar, aturan seperti Basel III membantu memastikan bank tidak terlalu rapuh saat ekonomi sedang tertekan.
Dalam konteks yang lebih luas, perbankan yang sehat penting untuk stabilitas ekonomi. Jika bank kuat, risiko krisis yang menyebar ke sektor lain bisa ditekan. Sebaliknya, jika bank lemah, masalah di sektor keuangan bisa menjalar ke bisnis, konsumsi, investasi, dan pasar aset.
Karena itu, pembahasan Basel III di Indonesia tetap relevan, terutama bagi kamu yang ingin memahami bagaimana regulasi global mempengaruhi sistem keuangan nasional.
Kenapa Investor Crypto Perlu Memahami Basel III?
Investor crypto sering fokus pada chart, token, narasi market, atau berita exchange. Itu wajar karena crypto bergerak cepat. Namun semakin matang pasar crypto, semakin besar pula pengaruh faktor makro terhadap pergerakan harga.
Basel III membantu kamu memahami sisi lain dari pasar, yaitu bagaimana sistem perbankan menjaga stabilitas setelah krisis. Ketika bank diperketat aturan modal dan likuiditasnya, hal itu menunjukkan bahwa risiko sistemik bukan hal kecil. Sistem keuangan modern sangat saling terhubung, sehingga masalah di satu sektor bisa mempengaruhi sektor lain.
Bagi investor crypto, pemahaman ini berguna karena Bitcoin dan aset digital sering bergerak mengikuti perubahan sentimen terhadap sistem finansial. Saat kepercayaan terhadap bank turun, narasi aset alternatif bisa menguat. Saat likuiditas global mengetat, aset berisiko seperti crypto bisa ikut tertekan. Saat investor mencari lindung nilai, Bitcoin dan emas sering masuk ke percakapan yang sama, meski karakter risikonya berbeda.
Dengan memahami Basel III, kamu tidak hanya melihat crypto dari sisi harga harian. Kamu juga mulai memahami kenapa isu bank, suku bunga, likuiditas, dan regulasi global bisa mempengaruhi cara pasar menilai Bitcoin.
Inilah alasan Basel III layak dibahas dalam konteks crypto. Bukan karena aturan ini secara langsung mengatur Bitcoin, tetapi karena ia menjelaskan bagaimana sistem keuangan tradisional berusaha memperbaiki kelemahannya setelah krisis. Dari sana, kamu bisa melihat posisi crypto dengan sudut pandang yang lebih luas dan matang.
Kesimpulan
Basel III adalah aturan perbankan internasional yang dibuat untuk memperkuat bank setelah krisis finansial 2008. Aturan ini menekankan modal yang lebih kuat, likuiditas yang lebih sehat, dan pembatasan leverage agar bank tidak mudah runtuh saat ekonomi mengalami tekanan.
Meski Basel III bukan regulasi crypto, pembahasannya tetap relevan bagi investor aset digital. Alasannya, crypto tumbuh dalam era ketika kepercayaan terhadap sistem keuangan tradisional mulai sering dipertanyakan. Bitcoin, emas, dan aset alternatif lainnya kerap masuk ke percakapan yang sama saat isu krisis bank, inflasi, dan stabilitas finansial kembali muncul.
Namun, Basel III tidak boleh dipahami secara berlebihan. Aturan ini tidak otomatis membuat Bitcoin naik, tidak langsung mengubah harga emas, dan bukan pemicu tunggal perubahan besar dalam sistem finansial. Basel III lebih tepat dibaca sebagai sinyal bahwa perbankan global belajar dari krisis dan berusaha membangun fondasi yang lebih kuat.
Bagi kamu yang berinvestasi di crypto, memahami Basel III bisa membantu membaca pasar dengan lebih jernih. Crypto bukan hanya soal harga hari ini, tetapi juga soal bagaimana kepercayaan, likuiditas, dan regulasi membentuk arah pasar ke depan.
FAQ
1. Basel III adalah aturan untuk siapa?
Basel III adalah aturan untuk sektor perbankan, terutama bank yang beroperasi secara internasional. Namun penerapannya bisa diadopsi oleh regulator di masing-masing negara, termasuk dalam bentuk aturan permodalan, likuiditas, dan manajemen risiko bank.
Bagi masyarakat umum, Basel III tidak terasa seperti aturan yang langsung mengatur aktivitas sehari-hari. Namun dampaknya tetap penting karena aturan ini membantu menjaga stabilitas bank yang digunakan masyarakat untuk menyimpan uang, menerima gaji, mengajukan kredit, dan menjalankan transaksi keuangan.
2. Apa tujuan utama Basel III?
Tujuan utama Basel III adalah membuat bank lebih kuat saat menghadapi krisis. Aturan ini mendorong bank memiliki modal yang lebih berkualitas, likuiditas yang cukup, dan leverage yang lebih terkendali.
Dengan standar yang lebih ketat, bank diharapkan tidak mudah kolaps ketika terjadi tekanan ekonomi. Basel III juga bertujuan mengurangi risiko sistemik, yaitu risiko ketika masalah di satu lembaga keuangan menyebar ke banyak lembaga lain.
3. Kenapa Basel III dikaitkan dengan Bitcoin?
Basel III dikaitkan dengan Bitcoin karena aturan ini lahir dari upaya memperbaiki kelemahan sistem perbankan setelah krisis 2008. Pada saat yang hampir bersamaan, Bitcoin muncul sebagai aset digital yang tidak bergantung pada bank atau otoritas pusat.
Karena itu, komunitas crypto sering melihat Basel III sebagai bagian dari percakapan besar tentang kepercayaan terhadap sistem finansial. Basel III memperkuat bank dari dalam sistem, sedangkan Bitcoin menawarkan alternatif di luar sistem bank tradisional.
4. Apakah Basel III bisa mempengaruhi harga crypto?
Basel III tidak mempengaruhi harga crypto secara langsung. Aturan ini tidak mengatur Bitcoin, Ethereum, exchange crypto, atau token digital.
Namun, Basel III bisa mempengaruhi sentimen secara tidak langsung. Ketika isu perbankan, likuiditas, atau stabilitas finansial ramai dibahas, investor biasanya ikut melihat aset alternatif seperti Bitcoin. Meski begitu, harga crypto tetap lebih banyak dipengaruhi faktor lain seperti suku bunga, likuiditas pasar, regulasi aset digital, adopsi institusi, dan kondisi market secara umum.
5. Apa hubungan Basel III dengan emas?
Basel III sering dikaitkan dengan emas karena emas dianggap sebagai aset safe haven. Dalam kondisi ekonomi yang penuh tekanan, emas sering dilihat sebagai aset pelindung nilai.
Sebagian investor menghubungkan Basel III dengan meningkatnya perhatian terhadap emas fisik. Namun hubungan Basel III dan harga emas tidak bisa dianggap sebagai penyebab langsung. Harga emas tetap dipengaruhi banyak faktor, termasuk inflasi, suku bunga, nilai dolar AS, dan kondisi geopolitik.
6. Apakah Indonesia sudah menerapkan Basel III?
Indonesia sudah mengadopsi kerangka Basel III dalam regulasi perbankan nasional. Penerapannya dilakukan melalui aturan yang menyesuaikan standar internasional dengan kondisi sistem keuangan Indonesia.
Fokus utamanya adalah memperkuat modal bank, menjaga likuiditas, dan meningkatkan manajemen risiko. Dengan begitu, perbankan Indonesia diharapkan lebih siap menghadapi tekanan ekonomi, baik dari dalam negeri maupun dari kondisi global.
7. Apa bedanya Basel I, Basel II, dan Basel III?
Basel I berfokus pada standar modal minimum bank. Basel II memperluas pendekatan dengan menambahkan pengelolaan risiko dan pengawasan. Basel III kemudian hadir setelah krisis finansial 2008 dengan aturan yang lebih ketat terkait modal, likuiditas, leverage, dan buffer modal.
Perbedaan paling besar ada pada tingkat ketahanan yang dituntut. Basel III tidak hanya ingin bank terlihat sehat saat kondisi normal, tetapi juga mampu bertahan saat pasar menghadapi tekanan besar.
Itulah informasi menarik tentang Base III yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.
Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar
