Punya Uang 1 Miliar? Ini Cara Investasi yang Tepat
icon search
icon search

Top Performers

Punya Uang 1 Miliar? Ini Cara Investasi yang Tepat

Home / Artikel & Tutorial / judul_artikel

Punya Uang 1 Miliar? Ini Cara Investasi yang Tepat

Punya Uang 1 Miliar? Ini Cara Investasi yang Tepat

Daftar Isi

Punya uang 1 miliar sering terdengar seperti garis akhir. Banyak orang membayangkan nominal itu sudah cukup untuk hidup tenang, lebih bebas mengambil keputusan, dan tidak terlalu pusing memikirkan masa depan. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Uang besar memang membuka banyak pilihan, tetapi justru karena pilihannya banyak, risiko salah langkah juga ikut membesar.

Masalah utamanya bukan pada nominalnya. Masalahnya ada pada cara berpikir setelah uang itu ada di tangan. Sebagian orang langsung tergoda membeli aset besar, sebagian lain terlalu takut mengambil risiko sampai uangnya hanya diam di tabungan, dan tidak sedikit juga yang buru-buru masuk ke instrumen yang sebenarnya belum dipahami. Pada titik itu, uang 1 miliar bisa menjadi fondasi kekayaan jangka panjang, tetapi bisa juga berubah menjadi modal yang pelan-pelan habis tanpa terasa.

Alasan paling dasar kenapa uang besar tetap perlu dikelola dengan disiplin adalah daya belinya tidak diam di tempat. Bank Indonesia menegaskan sasaran inflasi Indonesia pada 2026 tetap berada di kisaran 2,5±1%, sementara inflasi inti Maret 2026 tercatat 0,13% secara bulanan. Artinya, uang yang hanya dibiarkan menganggur tetap menghadapi pengikisan nilai riil dari waktu ke waktu akibat inflasi yang terus berjalan..

Karena itu, pertanyaan “punya uang 1 miliar investasi apa” sebenarnya kurang lengkap. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: bagaimana cara menempatkan uang 1 miliar agar tetap aman, tetap likuid, dan tetap punya peluang tumbuh? Jawaban terbaik biasanya bukan satu instrumen tunggal, melainkan strategi yang dibangun dengan sadar.

 

Kenapa Uang 1 Miliar Tidak Otomatis Membuat Finansial Aman

Angka 1 miliar memang besar, tetapi besar di atas kertas tidak selalu berarti kuat dalam praktik. Saat seseorang menerima warisan, hasil jual aset, bonus bisnis, atau akumulasi tabungan bertahun-tahun, yang berubah bukan cuma saldo rekeningnya. Cara memandang uang pun ikut berubah. Di sinilah banyak kesalahan dimulai.

Rasa aman semu sering muncul terlalu cepat. Karena nominalnya besar, pengeluaran yang tadinya terasa mahal mulai terlihat wajar. Mobil yang dulu terasa mewah sekarang tampak masuk akal. Rumah yang tadinya terasa terlalu tinggi harganya tiba-tiba dianggap bisa dibeli sekarang juga. Pola seperti ini berbahaya karena uang besar sering habis bukan lewat satu keputusan besar, melainkan lewat serangkaian keputusan yang terlihat masuk akal saat diambil.

Ada jebakan lain yang lebih halus, yaitu mengira tabungan besar sudah cukup melindungi masa depan. Padahal, dana yang diam terlalu lama tanpa strategi akan tertinggal oleh inflasi dan kehilangan kesempatan bertumbuh. OJK sendiri menekankan bahwa literasi keuangan memengaruhi sikap dan perilaku dalam mengambil keputusan keuangan, dan survei nasional mereka menunjukkan tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia pada 2022 baru 49,68%. Itu berarti masih banyak keputusan finansial penting yang dibuat tanpa dasar pemahaman yang kuat.

Dari sini terlihat bahwa masalah terbesar bukan pada kurangnya uang, melainkan pada tidak adanya sistem untuk mengelola uang itu. Nominal besar tanpa kerangka berpikir yang tepat tetap bisa berakhir pada keputusan yang buruk.

 

Cara Pikir yang Tepat Sebelum Menentukan Instrumen

Sebelum membahas saham, obligasi, emas, deposito, atau aset kripto, ada satu hal yang perlu dibereskan dulu: tujuan uang itu mau dibawa ke mana. Banyak orang terlalu cepat bertanya soal instrumen, padahal yang lebih menentukan justru fungsi tiap bagian uang tersebut.

Kalau tujuan kamu adalah menjaga nilai aset, maka pendekatannya akan berbeda dengan orang yang ingin mengejar pertumbuhan agresif. Kalau kamu ingin passive income stabil, komposisinya juga akan berbeda dengan orang yang ingin mengembangkan kekayaan dalam horizon 5 sampai 10 tahun. Inilah kenapa artikel-artikel yang hanya berisi daftar “5 investasi terbaik” sering terasa dangkal. Mereka memberi pilihan, tetapi tidak membantu cara memutuskan.

Cara pikir yang lebih sehat adalah membagi uang berdasarkan peran melalui strategi diversifikasi investasi yang tepat. Sebagian dana berfungsi menjaga kestabilan. Sebagian lagi bekerja untuk pertumbuhan. Sebagian kecil bisa dipakai mengejar peluang lebih tinggi. Sisanya harus tetap likuid agar kamu tidak terjebak menjual aset saat kondisi belum ideal.

Begitu pola pikir ini dipahami, investasi tidak lagi terlihat seperti tebak-tebakan. Kamu tidak memilih instrumen karena sedang ramai, melainkan karena tahu instrumen itu bekerja untuk tujuan tertentu dalam portofolio.

 

Kerangka Investasi Uang 1 Miliar yang Lebih Masuk Akal

Daripada menaruh semua dana pada satu tempat, pendekatan yang lebih matang adalah membaginya ke beberapa lapisan. Bukan karena semua orang harus punya portofolio rumit, tetapi karena uang besar membutuhkan keseimbangan antara perlindungan, pertumbuhan, dan fleksibilitas.

Lapisan pertama adalah dana penjaga nilai. Di sini fokusnya bukan mengejar return setinggi mungkin, melainkan menjaga agar sebagian modal tetap stabil. Instrumen seperti deposito, obligasi negara, atau reksa dana pasar uang biasanya masuk ke kelompok ini. Fungsinya sederhana: meredam gejolak dan menjaga agar portofolio tidak terlalu rentan ketika pasar sedang buruk.

Lapisan kedua adalah mesin pertumbuhan. Bagian ini dipakai untuk mengejar kenaikan nilai aset secara lebih serius dalam jangka menengah sampai panjang. Saham, reksa dana saham, atau instrumen sejenis lebih cocok ditempatkan di sini. Instrumen seperti ini memang bergerak naik turun, tetapi justru di situlah potensi pertumbuhannya.

Lapisan ketiga adalah akselerator. Porsinya tidak perlu besar, tetapi cukup untuk memberi dorongan tambahan pada total hasil investasi. Di kelompok ini bisa masuk aset berisiko tinggi seperti kripto atau saham growth yang volatilitasnya besar. Penempatannya bukan untuk berjudi, melainkan untuk memberi peluang return lebih tinggi tanpa mengorbankan keseluruhan kestabilan portofolio.

Lapisan keempat adalah dana likuid. Ini bagian yang sering diremehkan, padahal sangat penting. Saat semua uang terlalu rapat ditempatkan di investasi, kamu kehilangan fleksibilitas. Padahal, kesempatan terbaik sering datang saat kamu punya kas. Dana likuid juga melindungi kamu dari keputusan panik ketika ada kebutuhan mendadak.

Kalau dibuat dalam gambaran sederhana, uang 1 miliar bisa dibagi menjadi empat fungsi: dana stabil, dana tumbuh, dana agresif, dan dana likuid. Proporsinya tidak harus sama untuk setiap orang, tetapi logikanya tetap sama: jangan biarkan seluruh uang mengerjakan satu tugas saja.

 

Simulasi Sederhana Agar Cara Pikirnya Lebih Terlihat

Bayangkan ada dua orang yang sama-sama punya uang 1 miliar. Orang pertama memasukkan semuanya ke tabungan biasa karena merasa aman. Orang kedua membagi uangnya ke beberapa lapisan: sebagian di instrumen stabil, sebagian di instrumen pertumbuhan, sebagian kecil di aset agresif, dan sebagian tetap likuid.

Orang pertama mungkin tidur lebih tenang pada bulan-bulan awal karena saldonya tidak bergerak banyak. Namun, waktu berjalan dan uangnya tidak benar-benar bekerja. Sementara itu, orang kedua menerima kenyataan bahwa sebagian portofolionya akan berfluktuasi, tetapi keseluruhan dananya punya arah yang jelas.

Inilah bedanya antara menyimpan uang dan mengelola uang. Menyimpan hanya menjaga nominal. Mengelola berarti memberi tugas pada tiap bagian modal agar hasil akhirnya lebih kuat. Dalam horizon beberapa tahun, perbedaan ini biasanya jauh lebih terasa daripada yang dibayangkan banyak orang.

Contohnya begini. Jika bagian stabil dari portofolio memberi hasil moderat, bagian pertumbuhan bergerak sehat, dan bagian agresif hanya diberi porsi terbatas, total portofolio bisa berkembang dengan profil risiko yang masih masuk akal. Bukan berarti hasilnya akan selalu mulus, tetapi setidaknya kamu tidak menggantungkan nasib seluruh kekayaan pada satu keputusan.

Dari titik ini terlihat bahwa pertanyaan utamanya memang bukan “investasi terbaik apa”, melainkan “bagaimana komposisi yang tepat untuk tujuan saya”. Di situlah kualitas keputusan mulai berubah.

 

Properti, Saham, Obligasi, atau Kripto: Mana yang Tepat?

Setelah kerangkanya jelas, barulah tiap instrumen bisa dinilai dengan lebih jujur. Tidak ada instrumen yang selalu paling bagus untuk semua orang. Yang ada adalah instrumen yang paling pas untuk peran tertentu.

Properti sering menjadi pilihan pertama karena dianggap nyata dan mudah dipahami. Banyak orang merasa lebih tenang membeli rumah, ruko, atau tanah karena asetnya terlihat secara fisik. Masalahnya, properti menyerap modal besar sekaligus dan tidak likuid. Saat kamu butuh uang cepat, properti bukan aset yang mudah dicairkan tanpa kompromi harga. Karena itu, properti lebih cocok dipandang sebagai bagian dari strategi, bukan jawaban tunggal.

Saham menawarkan pertumbuhan yang lebih menarik, terutama untuk horizon waktu yang cukup panjang sebagai salah satu instrumen investasi dengan potensi return tinggi. Namun, saham menuntut kesiapan mental. Harga bisa turun tajam dalam jangka pendek, bahkan saat fundamental perusahaan tetap baik. Kalau kamu masuk ke saham tanpa memahami volatilitasnya, kemungkinan besar yang muncul lebih dulu adalah panik, bukan hasil.

Obligasi dan instrumen pendapatan tetap biasanya terasa lebih tenang. Instrumen ini sering dipilih untuk menjaga kestabilan portofolio atau membangun arus hasil yang lebih terukur. Cocok untuk porsi yang memang ditujukan sebagai penyeimbang. Kelemahannya, return biasanya tidak seagresif instrumen pertumbuhan.

Kripto berada di sisi yang berbeda. Potensinya tinggi, tetapi risikonya juga besar. Karena itu, cara menempatkan aset kripto seharusnya tidak sama dengan cara menempatkan dana utama. Aset ini lebih masuk akal diposisikan sebagai pelengkap portofolio, bukan pusatnya. Banyak orang gagal bukan karena masuk kripto, tetapi karena menaruh porsi yang tidak sebanding dengan toleransi risikonya.

Kalau ditarik lebih jauh, setiap instrumen punya fungsi masing-masing. Properti kuat untuk penyimpanan nilai tertentu, saham kuat untuk pertumbuhan, obligasi kuat untuk kestabilan, dan kripto kuat sebagai akselerator berisiko tinggi. Begitu fungsinya dipahami, keputusan investasi jadi jauh lebih rasional.

 

Strategi yang Lebih Relevan untuk Kondisi Investor Indonesia

Ada satu hal yang sering terlewat ketika membahas investasi nominal besar: konteks lokal. Investor Indonesia umumnya masih punya kecenderungan kuat pada rasa aman. Itu wajar, karena banyak keputusan finansial besar lahir dari pengalaman melihat risiko secara langsung, entah dari bisnis, keluarga, atau gejolak ekonomi sebelumnya.

Karena karakter itu, pendekatan yang terlalu agresif biasanya tidak bertahan lama. Secara teori mungkin terlihat menarik, tetapi saat pasar bergejolak, banyak orang tidak sanggup memegang rencana awalnya. Di sinilah strategi yang realistis justru lebih kuat daripada strategi yang terlihat hebat di atas kertas.

Pendekatan yang lebih cocok biasanya memadukan instrumen aman dengan instrumen pertumbuhan. Bukan ekstrem ke satu sisi. Kalau semuanya aman, uang bergeraknya lambat. Kalau semuanya agresif, emosi yang mengendalikan keputusan. Jalan tengah yang dirancang dengan sadar jauh lebih berpeluang bertahan.

Faktor likuiditas juga sangat penting. Banyak orang merasa kaya saat memegang aset, tetapi kesulitan bergerak saat butuh dana cepat. Padahal, kekuatan portofolio bukan cuma dilihat dari potensi naiknya, melainkan juga dari kemampuan memberi ruang gerak saat keadaan berubah. Uang 1 miliar yang sepenuhnya terikat di aset tidak likuid bisa membuat pemiliknya tampak kaya, tetapi rapuh secara operasional.

Karena itu, strategi terbaik untuk investor Indonesia biasanya bukan strategi yang paling berani. Strategi terbaik adalah yang paling mungkin dijalankan dengan konsisten, bahkan saat pasar tidak ramah.

 

Kesalahan yang Paling Sering Membuat Uang Besar Menyusut

Kesalahan pertama adalah menganggap nominal besar harus segera dipakai untuk sesuatu yang besar juga. Pola ini terlihat meyakinkan, padahal sering lahir dari dorongan psikologis, bukan dari kebutuhan portofolio. Uang yang baru datang terasa seperti sesuatu yang harus segera “dibentuk” menjadi aset lain, padahal kadang keputusan terbaik justru memberi waktu untuk berpikir dan membagi peran uang itu terlebih dahulu.

Kesalahan kedua adalah terlalu konservatif. Banyak orang takut rugi sampai akhirnya tidak mengambil keputusan apa-apa. Sekilas terlihat aman, tetapi diam pun punya biaya. Saat dana hanya parkir tanpa strategi yang masuk akal, nilainya tidak benar-benar bertahan. Ia hanya terlihat utuh dalam nominal.

Kesalahan ketiga adalah all-in pada satu cerita. Ada yang merasa properti pasti naik, ada yang percaya saham selalu terbaik, ada yang menganggap kripto satu-satunya jalan percepatan aset. Cara pikir seperti ini berbahaya karena menutup ruang diversifikasi. Uang besar seharusnya membuat kamu lebih disiplin membagi risiko, bukan malah lebih percaya diri memusatkan semuanya pada satu taruhan.

Kesalahan keempat adalah tidak punya batas porsi. Ini yang sering terjadi pada aset berisiko tinggi. Banyak orang sebenarnya sadar risikonya besar, tetapi tetap masuk terlalu dalam karena tergoda potensi hasil. Bukan instrumennya yang salah, melainkan porsinya yang tidak proporsional.

Semua kesalahan ini punya akar yang sama: keputusan dibuat berdasarkan dorongan sesaat, bukan berdasarkan fungsi dan struktur. Saat akar masalahnya dipahami, peluang menghindarinya jauh lebih besar.

 

Apakah Aset Kripto Masih Masuk Akal untuk Portofolio 1 Miliar?

Pertanyaan ini penting karena semakin banyak orang melihat kripto sebagai bagian dari investasi modern, tetapi tetap ragu karena volatilitasnya. Keraguan itu sehat. Justru keputusan yang matang lahir dari keraguan yang dikelola, bukan dari keyakinan buta.

Kripto masuk akal jika diposisikan dengan benar. Artinya, bukan sebagai tempat menaruh mayoritas kekayaan, tetapi sebagai porsi terbatas yang fungsinya jelas: menambah potensi pertumbuhan portofolio. Dengan cara pandang seperti ini, kripto tidak harus dianggap lawan dari instrumen lain. Ia bisa menjadi pelengkap selama porsinya sesuai.

Yang sering keliru adalah cara masuknya. Banyak orang baru melirik kripto saat harga sedang ramai dibicarakan. Mereka masuk karena takut ketinggalan, bukan karena strategi. Akibatnya, saat pasar berbalik, yang tersisa hanya penyesalan dan kesan bahwa instrumennya bermasalah. Padahal, masalah utamanya adalah titik masuk dan ukuran posisi yang tidak disiplin.

Kalau kamu punya uang 1 miliar, aset kripto lebih masuk akal dipandang sebagai bagian kecil namun strategis dari portofolio. Cukup besar untuk memberi dampak bila berkembang baik, tetapi cukup kecil untuk tidak merusak keseluruhan rencana bila pasar bergerak buruk. Pendekatan seperti ini jauh lebih dewasa daripada cara berpikir serba all-in atau serba anti.

 

Jadi, Cara Investasi yang Tepat Itu Seperti Apa?

Kalau diringkas tanpa menyederhanakan terlalu jauh, cara investasi yang tepat untuk uang 1 miliar adalah cara yang membuat uang itu bekerja dalam beberapa arah sekaligus. Sebagian menjaga nilai. Sebagian tumbuh dengan stabil. Sebagian kecil mengejar peluang lebih tinggi. Sebagian lagi tetap siap dipakai saat keadaan berubah.

Pendekatan seperti ini mungkin tidak terasa seatraktif janji hasil besar dari satu instrumen, tetapi justru di situlah kekuatannya. Kekayaan yang bertahan biasanya dibangun lewat keputusan yang tenang, bukan keputusan yang paling terdengar hebat.

Pada akhirnya, uang 1 miliar bukan tiket otomatis menuju aman secara finansial. Uang itu baru punya makna ketika kamu tahu mana yang harus dilindungi, mana yang harus dibiarkan tumbuh, dan mana yang sebaiknya tidak diberi porsi berlebihan. Saat kerangka itu sudah jelas, pilihan instrumen akan terasa jauh lebih mudah.

 

Kesimpulan

Punya uang 1 miliar memang membuka banyak pintu, tetapi pintu yang terbuka tidak semuanya perlu dimasuki. Kesalahan terbesar biasanya terjadi ketika uang besar diperlakukan seperti jawaban, padahal ia baru bahan baku untuk membangun keputusan yang lebih baik.

Cara investasi yang tepat bukan soal mencari satu instrumen paling hebat. Yang lebih penting adalah menyusun portofolio yang masuk akal untuk kondisi kamu sendiri. Ada bagian yang perlu dijaga, ada yang perlu ditumbuhkan, ada yang boleh dibuat lebih agresif, dan ada yang harus tetap cair. Di situlah keseimbangan bekerja.

Kalau kamu bisa menahan diri dari keputusan impulsif, tidak terjebak rasa aman palsu, dan berani membagi uang sesuai fungsinya, 1 miliar tidak hanya bertahan lebih lama. Uang itu juga punya peluang lebih besar untuk berkembang menjadi fondasi finansial yang jauh lebih kuat beberapa tahun ke depan.

 

FAQ

1. Punya uang 1 miliar sebaiknya langsung diinvestasikan semua atau tidak?

Tidak harus semuanya langsung masuk investasi. Tetap masuk akal menyisihkan sebagian dana dalam bentuk likuid untuk kebutuhan darurat, peluang baru, atau kebutuhan jangka pendek. Yang penting bukan seberapa cepat seluruh uang ditaruh, tetapi seberapa tepat pembagiannya.

2. Apakah menaruh uang 1 miliar di tabungan termasuk keputusan yang buruk?

Tidak selalu buruk untuk kebutuhan likuiditas, tetapi kurang ideal jika seluruh dana hanya diam di tabungan dalam jangka panjang. Inflasi tetap menggerus daya beli, sehingga dana besar biasanya lebih sehat jika dibagi antara kebutuhan aman, kebutuhan tumbuh, dan kebutuhan likuid.

3. Apakah properti lebih aman daripada saham?

Properti dan saham punya risiko yang berbeda, bukan sekadar siapa yang lebih aman. Properti cenderung tidak likuid dan butuh modal besar, sementara saham lebih likuid tetapi harganya bisa berfluktuasi lebih cepat. Pilihannya bergantung pada tujuan dan fungsi uang yang ingin kamu bangun.

4. Berapa porsi yang masuk akal untuk aset berisiko tinggi seperti kripto?

Tidak ada angka tunggal yang cocok untuk semua orang, tetapi logika umumnya adalah memberi porsi terbatas agar potensi pertumbuhan tetap ada tanpa membuat keseluruhan portofolio terlalu rapuh. Porsi ini harus disesuaikan dengan toleransi risiko dan tujuan investasi kamu.

5. Kenapa banyak orang justru kehilangan arah setelah punya uang besar?

Karena uang besar sering menciptakan rasa aman yang terlalu cepat. Saat itu terjadi, keputusan mulai digerakkan oleh gaya hidup, rasa percaya diri berlebihan, atau ketakutan yang tidak terukur. Tanpa kerangka yang jelas, nominal besar justru mempermudah orang mengambil keputusan yang salah.

6. Apa inti strategi investasi yang paling masuk akal untuk uang 1 miliar?

Intinya adalah pembagian fungsi. Sebagian dana dipakai menjaga kestabilan, sebagian untuk pertumbuhan, sebagian kecil untuk peluang yang lebih agresif, dan sebagian tetap likuid. Strategi seperti ini biasanya lebih tahan terhadap perubahan kondisi pasar dibanding pendekatan all-in pada satu instrumen.

 

Itulah informasi menarik tentang topik apabila “Punya uang 1 miliar yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.

Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.

 

Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.

Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur INDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!

Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.

 

Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]

 

Follow Sosmed Twitter Indodax sekarang

Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram

 

 

Author : RB

DISCLAIMER:  Segala bentuk transaksi aset kripto memiliki risiko dan berpeluang untuk mengalami kerugian. Tetap berinvestasi sesuai riset mandiri sehingga bisa meminimalisir tingkat kehilangan aset kripto yang ditransaksikan (Do Your Own Research/ DYOR). Informasi yang terkandung dalam publikasi ini diberikan secara umum tanpa kewajiban dan hanya untuk tujuan informasi saja. Publikasi ini tidak dimaksudkan untuk, dan tidak boleh dianggap sebagai, suatu penawaran, rekomendasi, ajakan atau nasihat untuk membeli atau menjual produk investasi apa pun dan tidak boleh dikirimkan, diungkapkan, disalin, atau diandalkan oleh siapa pun untuk tujuan apa pun.
  

Lebih Banyak dari Tutorial

Pelajaran Dasar

Calculate Staking Rewards with INDODAX earn

Select an option
dot Polkadot 2.25%
bnb BNB 0.52%
sol Solana 4.62%
eth Ethereum 2.32%
ada Cardano 1.02%
pol Polygon Ecosystem Token 1.87%
trx Tron 2.75%
DOT
0
Berdasarkan harga & APY saat ini
Stake Now

Pasar

Nama Harga 24H Chg
TAIKO/IDR
Taiko
8.585
428.31%
COLLAT/IDR
Collateriz
34
79.2%
RDNT/IDR
Radiant Ca
19
72.73%
DEXE/IDR
DeXe
392.500
55.64%
MPRO/IDR
Max Proper
4
33.33%
Nama Harga 24H Chg
WTEC/IDR
World Trad
1
-50%
BICO/IDR
Biconomy
555
-29.66%
CHT/IDR
CyberHarbo
3
-25%
VBG/IDR
Vibing
6
-25%
VOLT/USDT
Volt Inu
0
-20%
Apakah artikel ini membantu?

Beri nilai untuk artikel ini

You already voted!
Artikel Terkait

Temukan lebih banyak artikel berdasarkan topik yang diminati.

VTI vs SPY: Mana ETF Amerika yang Lebih Menarik?
22/06/2026
VTI vs SPY: Mana ETF Amerika yang Lebih Menarik?

Bagi investor yang mulai melirik pasar saham Amerika, nama VTI

22/06/2026
Solana Devnet Faucet: Fungsi dan Tren Terbarunya
22/06/2026
Solana Devnet Faucet: Fungsi dan Tren Terbarunya

Ketika membahas Solana, kebanyakan orang langsung teringat pada kecepatan transaksi,

22/06/2026
Monad vs Solana: Mana Lebih Kuat di Dunia Crypto?
19/06/2026
Monad vs Solana: Mana Lebih Kuat di Dunia Crypto?

Dinamika blockchain Layer-1 dalam beberapa tahun terakhir berkembang sangat cepat.

19/06/2026