Ether vs Ethereum: Kunci di Balik Perkembangan Kripto
icon search
icon search

Top Performers

Ether vs Ethereum: Mengapa Mereka tak Terpisahkan?

Home / Artikel & Tutorial / judul_artikel

Ether vs Ethereum: Mengapa Mereka tak Terpisahkan?

Ether vs Ethereum: Mengapa Mereka tak Terpisahkan?

Daftar Isi

Dalam perbincangan tentang dunia aset kripto, peran Ether (ETH) dan platform blockchain Ethereum memang sangat penting dan perlu dipahami. Ethereum adalah suatu platform komputasi terdesentralisasi yang digunakan untuk mengeksekusi program komputer yang dikenal sebagai smart contract (kontrak cerdas).

 

Platform ini memiliki aset kripto native yang disebut Ether (ETH) yang merupakan aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua setelah Bitcoin. Namun, Ether tidak hanya merupakan aset kripto, tetapi juga berfungsi sebagai “gas fee” yang memungkinkan berbagai transaksi dan aplikasi terdesentralisasi atau Decentralized Applications (dApps) beroperasi di dalam ekosistem Ethereum.

 

Adapun Ethereum, sebagai platform blockchain, diketahui telah menciptakan landasan bagi inovasi besar dalam dunia kripto. Dengan memahami perbedaan dan hubungan antara Ether dan Ethereum, kita dapat menghindari kesalahpahaman yang mungkin muncul. Artinya, Ether bukan sekadar koin digital, melainkan juga elemen kunci yang menggerakkan ekonomi di dalam blockchain Ethereum.

 

Nah, untuk lebih memahami tentang apa itu Ether (ETH), perannya di ekosistem Ethereum, keterkaitan di antara keduanya, hingga tren terkini dan proyeksi masa depan dari Ether, simak ulasan selengkapnya berikut ini.

 

Apa Itu Ether (ETH)?

Penting diketahui bahwa blockchain Ethereum merupakan salah satu jaringan blockchain tertua dan paling ramai digunakan. Ether, yang berfungsi sebagai biaya gas (gas fee), telah menjadi salah satu mata uang kripto terkemuka setelah Bitcoin dari segi nilai pasar.

 

Seperti dijelaskan di awal tulisan ini, Ether merupakan koin asli atau aset native yang digunakan di dalam blockchain Ethereum untuk memfasilitasi transaksi di seluruh ekosistemnya. Setiap transaksi yang dilakukan dalam ekosistem Ethereum mengharuskan pembayaran biaya komputasi (gas fee) kepada para penambang yang menjalankan komputasi transaksi tersebut. Pembayaran ini dilakukan menggunakan Ether.

 

Biaya gas ini meningkat seiring dengan kompleksitas komputasi yang diperlukan. Sebagai contoh, biaya pengiriman token ERC-20 lebih tinggi dibandingkan dengan pengiriman ETH, karena pengiriman token ERC-20 menggunakan interaksi dan komputasi pada smart contract, sedangkan pengiriman ETH tidak melibatkan proses tersebut.

 

Adapun ETH memiliki berbagai kegunaan, baik sebagai aset digital maupun untuk menjalankan berbagai transaksi di dalam ekosistem blockchain Ethereum. Perlu diketahui, Ethereum telah menjadi salah satu platform blockchain yang paling banyak digunakan untuk membangun dApps seiring dengan kemampuannya untuk mendukung lebih banyak program dibandingkan dengan Bitcoin.

 

Sebagai sebuah aset kripto, ETH memiliki peran penting sebagai biaya gas yang dibayarkan untuk menjalankan komputasi pada berbagai aplikasi yang dikembangkan di atas platform Ethereum. Hal itu pun menjadikan ETH sebagai salah satu aset kripto terbesar kedua setelah Bitcoin jika dilihat dari nilai pasar.

 

Ketika pertama kali diperdagangkan, nilai satu koin Ethereum adalah sekitar $2,83 atau sekitar Rp41.035. Namun, pada Juni 2021, harga ETH telah melonjak menjadi $2.578 per koinnya atau setara dengan Rp36.822.218. Puncak harga tertinggi ETH terjadi pada November 2021, mencapai $4.620. Namun, pada Desember 2022, harga Ethereum mengalami penurunan menjadi $1.225 per koinnya atau setara dengan Rp19.264.748.

 

Nah, jika kamu berminat untuk membeli ETH maka kamu bisa melakukan transaksi pembelian melalui aplikasi jual beli crypto terpercaya, yakni INDODAX. Adapun platform INDODAX telah terdaftar secara resmi sebagai Pedagang Fisik Aset Kripto di bawah Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) sehingga terjamin keamanannya. Kamu bisa men-download aplikasi INDODAX untuk membeli ETH.

 

Peran Ether di Ekosistem Ethereum

 

Ether vs Ethereum: Mengapa Mereka tak Terpisahkan?

 

Penting dipahami bahwa Ether (ETH) memiliki peran penting di dalam ekosistem Ethereum dan digunakan untuk berbagai tujuan di jaringan tersebut. Salah satu peran utama Ether di ekosistem Ethereum adalah sebagai sebuah aset digital.

 

Pada mulanya, Ether dibuat sebagai aset digital untuk digunakan di dalam jaringan Ethereum. Sebagian besar transaksi dan kontrak cerdas pun dilakukan dengan menggunakan Ether. Dalam hal ini, pengguna dapat mengirim dan menerima Ether di dalam ekosistem Ethereum.

 

Peran utama lainnya dari Ether, yakni untuk membayar biaya transaksi. Di sini, setiap kali seseorang mengirim Ether atau menjalankan fungsi di dalam kontrak cerdas, mereka harus membayar biaya transaksi. Adapun biaya tersebut dikenal sebagai “gas”, yang diperlukan untuk memastikan bahwa jaringan Ethereum berjalan dengan efisien dan mencegah penyalahgunaan jaringan.

 

Gas sendiri merupakan satuan pengukuran untuk mengukur seberapa banyak daya komputasi yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu tugas di jaringan Ethereum. Adapun transaksi/eksekusi kontrak cerdas memerlukan gas dan biaya transaksi dihitung berdasarkan jumlah gas yang digunakan. 

 

Di lain sisi, Ether pun berperan penting dalam menjaga keamanan jaringan. Para penambang (miners) yang memproses transaksi dan mengamankan jaringan akan mendapatkan reward (hadiah) berupa Ether atas usaha mereka. Hal itu pun memberikan insentif bagi para penambang untuk menjaga keandalan dan keamanan jaringan.

 

Selain itu, Ether juga digunakan sebagai alat penyimpan nilai, digunakan dalam proses pengambilan keputusan di dalam jaringan, serta dipakai untuk membuat token dan menjalankan kontrak cerdas di dalam jaringan Ethereum. Contohnya token ERC-20 dan ERC-721 yang sering kali dibuat dengan menggunakan Ether sebagai “gas” untuk melakukan kontrak cerdas.

 

Ekosistem Ethereum: Beyond Ether

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, teknologi smart contract di Ethereum menjadi pendorong inovasi baru dalam transaksi keuangan. Berikut ini adalah beberapa contoh implementasi smart contract yang sedang berlangsung saat ini, di antaranya:

 

1. Stablecoin

Harga aset kripto kerap kali sangat fluktuatif. Stablecoin yang memanfaatkan teknologi smart contract pun menyediakan solusi bagi masalah tersebut. Nilai stablecoin dipegang pada nilai aset non-digital, seperti rupiah dan dolar AS, untuk menjaga stabilitasnya.

 

Beberapa stablecoin terkenal mempertahankan stabilitas dengan menjamin nilai 1:1 dengan mata uang asli dan dapat dikonversi ke mata uang tersebut. Misalnya, Rupiah Token (IDRT), sebuah aset kripto di blockchain Ethereum, mempunyai nilai setara dengan rupiah. IDRT menciptakan representasi digital rupiah dengan menghasilkan token sebanding dengan jumlah rupiah yang didepositkan oleh pengguna dan mengirimkannya ke dompet Ethereum pengguna.

 

Selain IDRT, contoh lain dari stablecoin, yaitu USD Coin (USDC) yang dirancang untuk memiliki nilai yang sama dengan dolar AS. Keberadaan stablecoin memudahkan pengguna untuk mentransfer nilai ke berbagai tempat di seluruh dunia dalam waktu singkat. Stablecoin pun memberikan stabilitas yang dibutuhkan dalam ekosistem kripto serta menghubungkan infrastruktur keuangan tradisional dengan dunia blockchain.

 

2. Pinjam dan Meminjam di Ethereum

Teknologi smart contract di blockchain Ethereum juga memungkinkan pengembangan aplikasi peminjaman dan pemberian pinjaman aset kripto. Misalnya AAVE dan Compound, dua decentralized App (dApp) peminjaman dan pemberian pinjaman yang berbasis di ekosistem Ethereum.

 

Melalui AAVE dan Compound, pengguna dapat mendepositkan aset kripto untuk mendapatkan bunga atau meminjam aset kripto lainnya. Pemakaian kedua aplikasi ini memerlukan dompet Ethereum dan sejumlah dana dalam bentuk ETH atau token ERC-20. Dengan adanya AAVE dan Compound, siapa saja bisa terlibat dalam kegiatan peminjaman dan pemberian pinjaman aset tanpa perlu bergantung pada bank atau lembaga keuangan tradisional.

 

3. Decentralized Exchange (DEXs)

Pertukaran terdesentralisasi atau Decentralized Exchanges (DEXs) adalah aplikasi yang memfasilitasi pertukaran token menggunakan teknologi smart contract. Salah satu contoh DEX yang dibangun di atas Ethereum yang sangat populer, yaitu Uniswap dan Sushiswap.

 

Melalui DEXs, pengguna bisa menukarkan ETH dengan token ERC-20 atau sebaliknya serta menukarkan antar token ERC-20. Selama mengikuti standar token ERC-20, berbagai jenis token dapat ditukarkan menggunakan DEXs.

 

Adanya Keterkaitan Antar Keduanya

Pada dasarnya, Ether (ETH) dan Ethereum adalah dua konsep yang saling terkait, tetapi mempunyai peran masing-masing yang berbeda dalam ekosistem blockchain Ethereum. Ethereum merupakan sebuah platform blockchain yang memungkinkan pengembang untuk membuat dan menjalankan dApps di atasnya. Di lain sisi, Ether adalah aset kripto yang digunakan di dalam jaringan Ethereum. 

 

Perlu diingat lagi, Ethereum dirancang untuk mendukung smart contracts yang merupakan kode pemrograman yang bisa mengeksekusi tugas tertentu saat kondisi yang ditetapkan terpenuhi. Ether digunakan sebagai “gas” untuk menjalankan operasi-operasi ini, termasuk eksekusi smart contracts.

 

Di lain sisi, Ether pun dipakai sebagai insentif bagi para penambang (atau validator dalam konteks Ethereum 2.0) yang membantu untuk menjaga jaringan tetap terdesentralisasi dan aman. Penambang akan menerima Ether sebagai imbalan untuk menambahkan blok ke blockchain.

 

Ether juga digunakan sebagai aset digital untuk melakukan transaksi di dalam jaringan Ethereum. Setiap kali seseorang mengirimkan Ether, hal itu secara otomatis akan mencerminkan transfer nilai di dalam ekosistem Ethereum. Sementara itu, saat seseorang menjalankan atau berinteraksi dengan smart contracts maka ia harus membayar biaya transaksi dalam bentuk Ether. Hal itu berguna untuk membantu mencegah penyalahgunaan jaringan dan memastikan bahwa orang-orang yang menggunakan sumber daya jaringan membayar untuk penggunaan tersebut.

 

Sejatinya, Ethereum dan Ether memang saling melengkapi. Ether sendiri sangat penting untuk menjaga fungsionalitas jaringan Ethereum. Tanpa Ether, tidak mungkin menjalankan transaksi, menerapkan smart contracts, atau memastikan keamanan jaringan. Keberadaan Ether sendiri mendukung ekosistem Ethereum dengan memberikan insentif bagi para pengembang untuk menciptakan aplikasi terdesentralisasi dan bagi para penambang (validator) untuk menjaga jaringan tetap aman dan terdesentralisasi.

 

Sejarah dan Evolusi

 

Ether vs Ethereum: Mengapa Mereka tak Terpisahkan?

 

Sejarah Ether dan Ethereum diketahui telah mencerminkan perjalanan panjang menuju pengembangan teknologi blockchain dan pertumbuhan ekosistem kripto secara keseluruhan. Merujuk pada sejarahnya, Ethereum pertama kali diusulkan oleh Vitalik Buterin pada tahun 2013. Hal itu merupakan evolusi dari ide untuk memperluas fungsionalitas Bitcoin dengan memungkinkan smart contracts.

 

Adapun pendanaan untuk pengembangan Ethereum diperoleh melalui penawaran umum perdana (ICO) pada tahun 2014, di mana Ether (ETH) pertama kali dijual kepada para investor. Selanjutnya, Ethereum pun diluncurkan pada 30 Juli 2015, dengan peluncuran blok pertama atau “Genesis Block”.

 

Seiring berjalannya waktu, Ethereum 2.0 yang bertujuan untuk beralih dari konsensus Proof-of-Work (PoW) ke Proof-of-Stake (PoS) mulai dikembangkan untuk meningkatkan skalabilitas dan efisiensi jaringan. Fase-fase pertama Ethereum 2.0 diluncurkan dan memulai transisi menuju PoS.

 

Selanjutnya, adanya peluncuran Ethereum sebagai platform blockchain baru dan pengumpulan dana melalui ICO diketahui memainkan peran penting dalam pembentukan ekosistem kripto modern. Salah satu peristiwa penting yang membentuk peran keduanya dalam industri kripto adalah ketika terjadinya serangan Decentralized Autonomous Organization (DAO). Pada 2016 lalu, serangan terhadap DAO di atas Ethereum menyebabkan pencurian besar-besaran Ether.

 

Untuk mengatasi konsekuensi serangan DAO tersebut, komunitas Ethereum memutuskan untuk melakukan hard fork, lalu menciptakan Ethereum (ETH) dan Ethereum Classic (ETC) sebagai dua rantai blockchain terpisah. Pada akhirnya, upaya untuk meningkatkan kinerja dan keamanan jaringan melalui Ethereum 2.0 dan transisi ke PoS menjadi sebuah langkah penting yang dilakukan terkait evolusi Ethereum.

 

Pentingnya Mempertahankan Keduanya

Perlu digarisbawahi, Ether menjadi kekuatan pendorong di dalam ekosistem Ethereum. Dengan mempertahankan keberlanjutannya, Ether terus mendukung eksekusi transaksi dan smart contracts di dalam jaringan. Hal ini penting untuk menjaga fungsionalitas blockchain dan memungkinkan berbagai aplikasi terdesentralisasi untuk berjalan. Di samping itu, Ether pun berperan penting dalam mempertahankan ketahanan jaringan Ethereum. Melalui insentif bagi penambang (atau validator dalam Ethereum 2.0), Ether memastikan bahwa jaringan tetap aman, terdistribusi, dan tahan terhadap serangan.

 

Lebih jauh, Ethereum yang didukung oleh Ether juga memainkan peran kunci dalam mendorong inovasi di ruang Decentralized Finance (DeFi). Keberlanjutan Ether mendukung likuiditas, kolateral, dan fungsionalitas kontrak pintar yang menjadi dasar bagi berbagai proyek DeFi, mulai dari pinjaman, pertukaran, hingga protokol lainnya.

 

Adapun Ethereum yang memiliki kemampuan untuk menjalankan smart contracts diketahui telah membuka jalan bagi berbagai contoh penggunaan, di antaranya keuangan, logistik, identitas digital, dan masih banyak lagi yang lainnya. Maka dari itu, mempertahankan Ether menjadi kunci untuk memastikan bahwa inovasi terus berkembang di berbagai sektor. Di lain sisi, Ethereum pun telah menjadi platform utama untuk proyek-proyek DeFi. Pertumbuhan DeFi juga menjadi salah satu faktor utama dalam mendorong adopsi kripto secara lebih luas sebab hal itu memberikan alternatif terdesentralisasi untuk layanan keuangan tradisional.

 

Karena itu, dapat disimpulkan bahwa Ether dan Ethereum berperan penting dalam membentuk dan mempertahankan ekosistem kripto. Keberlanjutan Ether mendukung transaksi, keamanan jaringan, dan inovasi di dalam Ethereum, sedangkan Ethereum, sebagai platform, terus mendorong pertumbuhan dan adopsi teknologi blockchain secara lebih luas. Keduanya pun saling bergantung dan memainkan peran penting dalam menggerakkan evolusi ekosistem kripto global.

 

Tren Terkini dan Proyeksi Masa Depan

Adapun tren terbaru dari Ether dan Ethereum bisa dilihat dari pengembangan Ethereum 2.0 dan PoS. Pengembangan Ethereum 2.0 sendiri terus berlanjut, dengan fokus pada implementasi PoS untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan jaringan. Di samping itu, sektor DeFi juga terus menjadi tren utama di dalam ekosistem Ethereum, dengan pertumbuhan proyek-proyek seperti protokol pinjaman, pertukaran terdesentralisasi, dan liquidity mining.

 

Kemudian, juga ada solusi skalabilitas Layer-2, seperti Optimistic Rollups dan zk-Rollups, yang mendapatkan popularitas untuk mengatasi tantangan skalabilitas Ethereum sehingga memungkinkan transaksi yang lebih cepat dan biaya yang lebih rendah. Sementara itu, terkait proyeksi masa depan untuk Ether dan Ethereum, dengan lanjutan pengembangan Ethereum 2.0, proyeksi masa depan melibatkan penukaran dari PoW ke PoS yang diharapkan meningkatkan kecepatan dan efisiensi jaringan.

 

Di lain sisi, sektor DeFi pun diperkirakan terus berkembang dengan lebih banyak inovasi, seperti pengenalan produk-produk keuangan yang lebih kompleks, pertumbuhan protokol lending dan borrowing, serta solusi cross-chain untuk meningkatkan interoperabilitas. Pada akhirnya, jika Ethereum 2.0 berhasil mengatasi masalah skalabilitas dan biaya transaksi maka Ethereum akan berpotensi berperan dalam revitalisasi sistem keuangan global yang membuka pintu bagi inklusi keuangan yang lebih besar dan solusi keuangan yang terdesentralisasi.

 

Integrasi blockchain dan smart contracts di Ethereum juga bisa membawa manfaat besar bagi berbagai industri, dari rantai pasokan hingga asuransi, dengan potensi mengurangi birokrasi dan meningkatkan efisiensi.

 

Beli Ethereum di INDODAX

Nah, sekarang kamu sudah memahami tentang apa itu Ether (ETH), perannya di ekosistem Ethereum, keterkaitan di antara keduanya, hingga tren terkini dan proyeksi masa depan dari Ether.

 

Selanjutnya, jika kamu ingin membeli Ethereum (ETH) maka kamu bisa melakukannya di INDODAX. Berikut ini panduan untuk untuk membeli Ethereum di INDODAX yang perlu diketahui, yaitu:

 

  • Pertama, silakan login ke akun INDODAX kamu.
  • Lakukan deposit (jika saldo masih kosong).
  • Lanjutkan dengan membuka INDODAX market, lalu cari Ethereum di market INDODAX.
  • Selanjutnya, carilah kolom penjualan dan masukkan harga Ethereum yang diinginkan beserta jumlah saldonya. Kamu bisa menggunakan metode Instan atau metode Limit.
  • Sebagai alternatif, kamu bisa langsung menempatkan order penjualan dengan harga yang kamu tentukan setelah kamu memiliki Ethereum. Pastikan bahwa harga tersebut menguntungkan.

 

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, Ether berfungsi sebagai aset digital di dalam jaringan Ethereum yang memungkinkan transaksi dan pembayaran biaya operasional jaringan (gas). Di samping itu, Ether juga memberikan insentif bagi penambang (atau validator) untuk menjaga jaringan tetap aman melalui PoW atau PoS.

 

Sementara itu, Ethereum menyediakan platform untuk menjalankan smart contracts yang memungkinkan pembuatan dan pelaksanaan kode pemrograman tanpa intermediasi pihak ketiga. Ethereum merupakan basis bagi pertumbuhan ekosistem DeFi dan berbagai dApps yang menciptakan alternatif terdesentralisasi untuk layanan keuangan tradisional.

 

Pada dasarnya, memahami Ether dan Ethereum penting untuk memahami fungsionalitas dan kegunaan ekosistem kripto. Pemahaman mendalam terhadap Ether dan Ethereum tidak hanya diperlukan untuk berpartisipasi secara efektif dalam ekosistem kripto, tetapi juga untuk mengenali potensi transformasional yang dapat dibawa oleh oleh keduanya ke berbagai sektor dan industri di masa depan. 

Apakah artikel ini membantu?

Beri nilai untuk artikel ini

You already voted!
Artikel Terkait

Temukan lebih banyak artikel berdasarkan topik yang diminati.

RollerCoin: Game Penambang Kripto & Cara Mainnya
01/03/2024
RollerCoin: Game Penambang Kripto & Cara Mainnya

Salah satu game berbasis blockchain yang menjadi perbincangan hangat belakangan

01/03/2024
Kenal LYFE Lebih Dekat: Revolusi Investasi Properti Digital di Indonesia
29/02/2024
Kenal LYFE Lebih Dekat: Revolusi Investasi Properti Digital di Indonesia

Era digital yang terus berkembang dengan pesat memicu lahirnya inovasi-inovasi

29/02/2024
CEX: Cara Kerja, Kelebihan, dan Perbandingan vs DEX
29/02/2024
CEX: Cara Kerja, Kelebihan, dan Perbandingan vs DEX

Di zaman yang serba digital, aset kripto yang terdapat pada

29/02/2024