Rangkuman: ChatGPT Perplexity
Pertumbuhan pasar kripto global terus berlanjut sejak persetujuan ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat pada 2024. Aliran dana institusi meningkat, perusahaan mulai menambahkan Bitcoin (BTC) ke neraca, dan integrasi antara pasar keuangan tradisional dan kripto semakin terlihat jelas.
Namun di balik ekspansi tersebut, satu tren justru bergerak berlawanan: investor retail di Asia mulai menyusut.
Market Tumbuh, Tapi Partisipasi Retail Menurun
Laporan terbaru Tiger Research menunjukkan bahwa meskipun kapitalisasi pasar dan aktivitas institusi meningkat, jumlah pengguna retail dan volume trading individu justru mengalami penurunan di berbagai negara Asia.
Fenomena ini menandai perubahan struktur pasar. Jika sebelumnya pertumbuhan kripto didorong oleh lonjakan pengguna baru, kini pasar lebih bergantung pada pemain lama dan investor institusi.
Salah satu penyebab utamanya adalah perubahan dinamika pasar. Pada siklus sebelumnya, lonjakan harga altcoin dengan volatilitas tinggi menjadi magnet utama bagi investor baru. Kini, kondisi tersebut mulai mereda.
Dominasi Bitcoin telah mencapai sekitar 60%, sementara altcoin tidak lagi menunjukkan pergerakan ekstrem seperti sebelumnya. Tanpa potensi “cuan cepat” yang menarik, minat investor baru pun ikut menurun.
Munculnya “Crypto-Curious”: Tertarik Tapi Belum Masuk
Di tengah penurunan partisipasi retail, muncul kelompok baru yang disebut sebagai crypto-curious.
Kelompok ini terdiri dari individu yang:
- Sudah mengenal kripto
- Memiliki ketertarikan
- Namun belum melakukan investasi
Tiger Research mencatat bahwa jumlah crypto-curious di Asia mencapai puluhan juta orang, didukung oleh populasi besar dan penetrasi internet yang tinggi.
Artinya, potensi pertumbuhan masih ada. Namun, konversi dari “tertarik” menjadi “investor aktif” menjadi tantangan utama industri saat ini.
Baca berita terbaru lainnya: Pemerintah Thailand All-In ke Crypto, Apa Dampaknya untuk Investor?
5 Penyebab Utama Retail Enggan Masuk Crypto
Penurunan minat retail bukan tanpa alasan. Laporan tersebut mengidentifikasi lima hambatan utama yang konsisten di berbagai negara Asia:
1. Ketidakpastian Regulasi
Banyak negara masih belum memiliki aturan yang jelas terkait perlindungan investor kripto. Ketidakpastian ini membuat calon investor ragu untuk masuk.
2. Risiko Keamanan
Kekhawatiran terhadap peretasan, kebangkrutan exchange, hingga pembekuan aset masih menjadi faktor besar yang menahan minat.
3. Beban Pajak
Kebijakan pajak yang tidak konsisten atau terlalu tinggi juga menjadi penghalang, terutama di negara seperti Jepang.
4. Akses yang Kompleks
Bagi pemula, proses masuk ke kripto masih dianggap rumit, mulai dari memahami wallet, staking, hingga penggunaan platform.
5. Persepsi Sosial
Di beberapa negara, kripto masih dipandang sebagai aktivitas spekulatif atau bahkan “judi”.
Menariknya, volatilitas sering disebut sebagai alasan utama. Namun dalam laporan ini, volatilitas hanya dianggap sebagai gejala, bukan akar masalah.
Tiap Negara Punya Masalah Berbeda

Sumber Gambar: Tiger Research
Kondisi retail kripto di Asia tidak seragam. Setiap negara memiliki hambatan unik yang memengaruhi adopsi.
Di Korea Selatan, misalnya, volume trading sangat besar dengan nilai transaksi KRW mencapai $663 miliar pada paruh kedua 2025. Namun, volume harian dan minat mulai menurun seiring meningkatnya daya tarik pasar saham.
Jepang menawarkan tingkat keamanan tinggi dengan regulasi ketat, termasuk kewajiban penyimpanan aset dalam cold wallet. Namun, pajak hingga 55% membuat investor enggan masuk.
Hong Kong justru berhasil menyelesaikan hampir semua hambatan utama, seperti regulasi, keamanan, dan pajak. Namun akses masih terbatas karena mayoritas layanan hanya ditujukan untuk investor profesional.
Sementara itu, Singapura menunjukkan kondisi yang lebih seimbang. Regulasi jelas, keamanan tinggi, dan tidak ada pajak kripto. Namun, meski tingkat awareness mencapai 94%, hanya 29% yang benar-benar memiliki aset kripto.
Ini menunjukkan bahwa menghapus hambatan saja tidak cukup untuk mendorong adopsi.
Peran Pemerintah Jadi Penentu
Beberapa negara mulai mengambil pendekatan aktif untuk mendorong adopsi.

Sumber Gambar: Tiger Research
Thailand, misalnya, memberikan pembebasan pajak trading kripto selama lima tahun melalui exchange resmi.
Indonesia juga melakukan langkah besar dengan mengalihkan pengawasan kripto ke OJK dan mengklasifikasikannya sebagai aset keuangan digital.
Di Vietnam dan Filipina, adopsi justru didorong oleh kebutuhan sehari-hari, seperti remitansi dan gaming, sebelum regulasi terbentuk.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa kombinasi antara regulasi, insentif, dan kebutuhan nyata dapat mempercepat adopsi retail.
Baca berita berikutnya: Korea Percepat Peluncuran KRW Stablecoin, Target Saingi Dominasi USD
Tekanan dari TradFi Mulai Terasa
Masuknya institusi ke dalam ekosistem kripto juga mengubah cara investor mengakses aset digital.
Produk seperti ETF Bitcoin, integrasi kripto di aplikasi perbankan, hingga layanan broker tradisional membuat investor tidak lagi harus menggunakan exchange kripto secara langsung.
Dengan kata lain, calon investor kini memiliki alternatif yang lebih familiar dan dianggap lebih aman.
Hal ini menjadi tantangan tambahan bagi platform kripto untuk tetap relevan di tengah perubahan lanskap tersebut.
Kesimpulan
Data terbaru menunjukkan bahwa minat terhadap kripto sebenarnya tidak hilang. Justru sebaliknya, tingkat awareness di Asia terus meningkat.
Masalah utamanya terletak pada konversi. Puluhan juta orang sudah mengenal dan tertarik pada kripto, tetapi belum cukup yakin untuk masuk.
Tanpa perubahan pada faktor fundamental seperti kepercayaan, kemudahan akses, dan pengalaman pengguna, tren ini berpotensi berulang di siklus berikutnya.
Pasar bisa terus tumbuh, tetapi tanpa partisipasi retail yang kuat, pertumbuhan tersebut akan semakin didominasi oleh institusi.

Artikel ini hasil Kolaborasi antara INDODAX x Tiger Research
FAQ
- Kenapa investor retail crypto di Asia menurun?
Penurunan terjadi karena kombinasi faktor seperti regulasi yang belum jelas, risiko keamanan, pajak tinggi, akses yang kompleks, dan persepsi negatif terhadap kripto. - Apa itu crypto-curious dalam konteks investasi crypto?
Crypto-curious adalah kelompok orang yang sudah mengenal dan tertarik pada kripto, tetapi belum melakukan investasi atau transaksi secara aktif. - Apakah minat terhadap crypto di Asia benar-benar menurun?
Tidak sepenuhnya. Awareness justru tinggi, tetapi banyak calon investor yang masih ragu untuk masuk karena berbagai hambatan. - Negara mana yang memiliki adopsi crypto retail tertinggi di Asia?
Korea Selatan memiliki volume trading tinggi, sementara Vietnam dan Filipina menunjukkan adopsi luas berbasis penggunaan sehari-hari. - Apakah ETF Bitcoin memengaruhi minat investor retail?
Ya, ETF memberikan alternatif investasi yang lebih mudah dan familiar, sehingga sebagian investor memilih jalur ini dibanding langsung menggunakan exchange crypto. - Apa faktor utama yang bisa mendorong investor baru masuk crypto?
Kepercayaan terhadap platform, regulasi yang jelas, keamanan aset, kemudahan akses, serta edukasi yang relevan menjadi faktor kunci untuk meningkatkan adopsi.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Regulasi Crypto, #Berita Kripto Asia






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


