Kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BOJ) mulai mengubah arah likuiditas global. Setelah bertahun-tahun mempertahankan suku bunga mendekati nol, BOJ kini menaikkan suku bunga ke 0,75% pada Desember 2025 dan diperkirakan bisa mencapai 1% pada pertengahan 2026.
“Bank of Japan sudah memberi sinyal jelas bahwa suku bunga akan terus naik. Setelah menaikkan suku bunga ke 0,75% pada Desember 2025, pasar memperkirakan kenaikan lanjutan di 2026, dengan target mendekati 1,00% di pertengahan tahun dan potensi total 1 hingga 3 kali kenaikan,” tulis analis Vincent Van Code pada unggahan akun X-nya.
Perubahan ini tidak hanya berdampak pada pasar mata uang, tetapi juga mulai menekan sistem pembayaran global.
Di tengah kondisi tersebut, XRP dan solusi On-Demand Liquidity (ODL) dari Ripple mulai kembali disorot sebagai alternatif yang lebih efisien.
Era Uang Murah Jepang Mulai Berakhir

Sumber Gambar: X.com
Selama puluhan tahun, Jepang dikenal sebagai sumber likuiditas murah.
Suku bunga rendah membuat yen menjadi mata uang favorit untuk strategi carry trade, di mana investor meminjam yen dengan biaya rendah lalu mengalokasikannya ke aset dengan imbal hasil lebih tinggi.
Namun, kenaikan suku bunga BOJ mengubah dinamika ini. Biaya pinjaman meningkat, dan arus likuiditas yang sebelumnya mengalir bebas mulai menyusut.
Kondisi ini memicu tekanan pada berbagai sektor, terutama perusahaan yang bergantung pada pembiayaan murah.
Baca juga berita serupa: Teori Lama Muncul Lagi: XRP Disebut Mata Uang Global IMF?
Tekanan Ganda: Biaya Naik dan Energi Melonjak
Di saat yang sama, perusahaan Jepang menghadapi lonjakan biaya energi. Harga minyak Brent dilaporkan berada di kisaran $100 hingga $107 per barel, yang mendorong kenaikan biaya energi hingga 30% hingga 50%.
Kombinasi antara biaya pinjaman yang meningkat dan beban operasional yang melonjak membuat arus kas perusahaan menjadi lebih ketat. Banyak bisnis mulai menunda pembayaran, menciptakan efek domino dalam rantai keuangan.
Situasi ini dikenal sebagai liquidity gridlock, yaitu kondisi di mana likuiditas tidak lagi mengalir lancar di dalam sistem.
Masalah Lama Sistem Perbankan Mulai Terlihat
Dalam kondisi likuiditas ketat, kelemahan sistem pembayaran tradisional menjadi semakin terlihat.
Sistem perbankan global masih mengandalkan mekanisme pre-funding melalui akun nostro dan vostro untuk memastikan transaksi lintas negara berjalan lancar.
Estimasi industri menunjukkan sekitar $5 triliun dana global terkunci dalam sistem ini. Dalam kondisi suku bunga rendah, dana yang mengendap ini masih bisa ditoleransi. Namun ketika suku bunga naik, biaya peluang dari dana tersebut menjadi semakin besar.
Artinya, semakin banyak dana yang “diam”, semakin besar kerugian yang harus ditanggung oleh bank dan perusahaan.
XRP dan ODL Muncul sebagai Alternatif
Di tengah tekanan tersebut, Ripple menawarkan solusi melalui ODL. Sistem ini memungkinkan transaksi lintas negara tanpa perlu pre-funding.
“Ripple menawarkan solusi melalui On-Demand Liquidity (ODL) di jaringan XRPL,” jelas Vincent.
Prosesnya berlangsung cepat:
- Mata uang lokal dikonversi menjadi XRP
- XRP dikirim dalam waktu sekitar 3–5 detik
- Dikonversi kembali ke mata uang tujuan
Dengan pendekatan ini, kebutuhan akan dana yang mengendap di berbagai negara bisa dihilangkan.
Dalam kondisi suku bunga yang meningkat, efisiensi seperti ini menjadi semakin relevan. Perusahaan dan institusi keuangan mulai mempertimbangkan opsi yang dapat mengurangi biaya sekaligus mempercepat aliran dana.
Baca selanjutnya: XRP Disebut Punya 3 Syarat Penting untuk Jadi Mata Uang Global
Potensi Perubahan di Sistem Pembayaran Global
Volume pembayaran global saat ini diperkirakan mencapai sekitar $21 triliun per hari. Dengan skala sebesar ini, bahkan perubahan kecil dalam efisiensi sistem dapat menghasilkan dampak yang signifikan.
“Semakin banyak penggunaan XRPL, semakin banyak bank dan penyedia pembayaran yang menerbitkan stablecoin mata uang lokal langsung di jaringan tersebut,” sebut Vincent.
Jika tekanan likuiditas terus berlanjut, pergeseran dari sistem tradisional ke solusi berbasis blockchain seperti ODL berpotensi meningkat. XRP, sebagai aset perantara dalam sistem tersebut, bisa mendapat dorongan dari peningkatan penggunaan.
Namun, penting untuk dicatat bahwa hal ini masih berada dalam tahap analisis dan proyeksi. Adopsi secara luas tetap bergantung pada keputusan institusi keuangan dan regulator.
Kesimpulan
Kenaikan suku bunga Jepang menandai berakhirnya era likuiditas murah yang selama ini menopang sistem keuangan global. Dampaknya mulai terasa pada arus kas perusahaan, biaya operasional, hingga efisiensi sistem pembayaran lintas negara.
Dalam kondisi seperti ini, solusi yang mampu mengurangi biaya dan mempercepat transaksi menjadi semakin relevan. XRP dan ODL muncul sebagai salah satu alternatif yang dinilai mampu menjawab tantangan tersebut.
Meski begitu, apakah perubahan ini benar-benar akan mendorong adopsi secara luas masih akan terlihat dalam beberapa waktu ke depan.
FAQ
- Apa itu On-Demand Liquidity (ODL) dari Ripple?
ODL adalah solusi pembayaran lintas negara yang menggunakan XRP sebagai aset perantara. Sistem ini memungkinkan transfer dana tanpa perlu menyimpan saldo di negara tujuan. - Kenapa kenaikan suku bunga Jepang berdampak ke sistem global?
Karena yen selama ini digunakan dalam carry trade global. Saat suku bunga naik, biaya pinjaman meningkat dan likuiditas global ikut tertekan. - Apa itu nostro dan vostro dalam perbankan?
Nostro dan vostro adalah rekening yang dimiliki bank di negara lain untuk memfasilitasi transaksi internasional. Dana dalam rekening ini sering mengendap dan tidak produktif. - Kenapa likuiditas jadi masalah saat suku bunga naik?
Karena biaya peluang meningkat. Dana yang tidak digunakan menjadi lebih mahal untuk dipertahankan, sehingga perusahaan dan bank mencari cara agar dana lebih efisien. - Apakah XRP sudah digunakan secara luas untuk pembayaran global?
XRP sudah digunakan dalam beberapa layanan Ripple, tetapi adopsi secara global masih berkembang dan bergantung pada keputusan institusi keuangan serta regulasi. - Apa hubungan harga minyak dengan likuiditas perusahaan?
Kenaikan harga minyak meningkatkan biaya operasional, terutama untuk energi. Hal ini bisa mengurangi arus kas dan memperburuk kondisi likuiditas perusahaan.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Referensi:
- CaptainAltcoin – How Japan’s Rate Hikes Make XRP and Ripple’s ODL Essential, diakses pada 20 Maret 2026
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Altcoin, #Berita XRP, #Berita Stablecoin, #Berita Kripto Jepang, #Berita Blockchain






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


