Biaya operasional AI agent disebut masih lebih mahal dibanding mempekerjakan karyawan manusia.
Sejumlah investor teknologi menilai faktor ekonomi ini menjadi penghalang utama sebelum AI benar-benar menggantikan tenaga kerja, sekaligus memunculkan pertanyaan baru terhadap prospek jangka pendek sektor AI token.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi publik oleh investor teknologi Jason Calacanis dan CEO Social Capital Chamath Palihapitiya. Keduanya menyoroti lonjakan biaya penggunaan model AI berbasis token yang dinilai belum efisien secara bisnis.
Biaya AI Agent Bisa Tembus US$110 Ribu per Tahun
Jason Calacanis mengungkapkan ia membayar sekitar US$300 per hari untuk menjalankan AI agent berbasis model Claude milik Anthropic guna membantu operasional bisnisnya. Jika dihitung secara tahunan, angkanya mencapai sekitar US$110 ribu.
“Kapan jumlah token melebihi gaji karyawan?” tanya Calacanis dikutip dari Cointelegraph, merujuk pada alokasi penggunaan, yang disebut token, yang harus dibeli pengguna untuk menggunakan sebagian besar model AI.
Menurutnya, AI tersebut bahkan belum beroperasi secara penuh dan hanya berjalan di kisaran 10% sampai 20% kapasitas maksimal. Ia mempertanyakan titik di mana biaya token penggunaan AI bisa melampaui gaji karyawan manusia.
Komentar serupa disampaikan Chamath Palihapitiya. Ia menilai AI agent harus setidaknya dua kali lebih produktif dibanding karyawan agar masuk akal secara ekonomi. Tanpa lonjakan produktivitas signifikan, biaya model AI justru bisa membebani anggaran perusahaan.
“Jika dihitung secara keseluruhan untuk semua karyawan, terlihat jelas trennya. AI tersebut setidaknya harus dua kali lebih produktif dibanding karyawan lain,” jelasnya
Baca juga berita terkait: ChatGPT Ramal XRP, Solana, Dogecoin Bisa Cetak Rekor di 2026
Mark Cuban: Argumen Paling Masuk Akal soal AI dan PHK

Sumber Gambar: X.com
Investor sekaligus pengusaha Mark Cuban menyebut kritik soal biaya ini sebagai argumen paling kuat terhadap narasi bahwa AI akan segera menggantikan pekerja manusia dalam skala besar.
Ia mencontohkan bahwa delapan AI agent Claude dapat menghabiskan sekitar US$1.200 per hari untuk melakukan pekerjaan yang setara dengan satu karyawan.
Dalam perhitungan bisnis, AI harus menghasilkan produktivitas lebih dari dua kali lipat dibanding manusia agar biaya operasionalnya dinilai rasional.
Selain aspek biaya, Cuban juga menyinggung faktor non-teknis seperti moral, etika, dan dinamika tim yang sulit diukur secara kuantitatif. Elemen-elemen ini dinilai tetap relevan dalam pengambilan keputusan bisnis.
Pernyataan para investor ini muncul di tengah kekhawatiran global soal potensi pemutusan hubungan kerja akibat otomatisasi AI.
Sejumlah perusahaan teknologi dalam beberapa tahun terakhir memang melakukan efisiensi dengan mengintegrasikan sistem berbasis kecerdasan buatan.
Dampaknya ke AI Token dan Ekosistem Kripto
Isu biaya operasional AI juga berpotensi memengaruhi sentimen terhadap AI token yang belakangan populer di pasar kripto.
CEO Circle Jeremy Allaire sebelumnya memprediksi miliaran AI agent dapat menggunakan stablecoin untuk transaksi sehari-hari dalam lima tahun ke depan.
Sementara itu, pendiri Binance Changpeng Zhao menyatakan kripto berpotensi menjadi mata uang native bagi AI agent karena integrasinya yang alami dengan teknologi blockchain.
Saat ini, sejumlah AI agent telah beroperasi di jaringan seperti Ethereum Layer 2 Base dan Fetch.ai untuk melakukan mikrotransaksi, pengelolaan aset, hingga koordinasi aktivitas ekonomi berbasis smart contract.
Namun, jika biaya token AI masih tinggi dan adopsi korporasi tertahan, pertumbuhan fundamental proyek AI berbasis kripto dapat berjalan lebih lambat dari ekspektasi pasar.
Baca selanjutnya: Privasi ChatGPT Dipertanyakan, Nesa Dorong AI Terdesentralisasi
Evaluasi AI di Smart Contract
OpenAI pada pekan ini juga meluncurkan benchmark baru untuk menguji kemampuan model AI dalam mendeteksi, menambal, bahkan mengeksploitasi kerentanan keamanan pada smart contract.
Menurut OpenAI, pengujian di lingkungan yang memiliki dampak ekonomi nyata semakin penting, mengingat smart contract mengamankan miliaran dolar aset digital.
AI agent dinilai bisa menjadi alat penting baik bagi pihak yang menjaga keamanan maupun pihak yang mencoba mengeksploitasi celah sistem.
Langkah ini menunjukkan bahwa integrasi AI dan blockchain terus berkembang, meskipun tantangan biaya masih menjadi sorotan utama.
Kesimpulan
Narasi bahwa AI akan segera menggantikan tenaga kerja secara masif mendapat bantahan dari sisi ekonomi. Dengan biaya operasional yang masih tinggi, perusahaan cenderung menahan ekspansi AI agent jika produktivitasnya belum melampaui manusia secara signifikan.
Bagi sektor AI token, dinamika ini menjadi sinyal penting. Prospek jangka panjang tetap terbuka, terutama jika biaya komputasi dan token usage menurun.
Namun dalam jangka pendek, pasar akan mencermati apakah adopsi riil mampu mengikuti ekspektasi yang sudah terlanjur tinggi.
FAQ
- Apa itu AI agent dan bagaimana cara kerjanya?
AI agent adalah sistem kecerdasan buatan yang dapat menjalankan tugas secara semi-otomatis atau otomatis penuh, mulai dari analisis data, layanan pelanggan, hingga eksekusi transaksi berbasis smart contract. AI agent bekerja menggunakan model bahasa atau model pembelajaran mesin yang membutuhkan token untuk memproses input dan menghasilkan output. - Mengapa biaya AI agent bisa lebih mahal dari karyawan?
Model AI modern menggunakan sistem berbasis token, di mana setiap permintaan dan respons memerlukan komputasi yang dihitung dalam satuan tertentu. Jika penggunaan tinggi dan berjalan terus-menerus, biaya token dan infrastruktur komputasi dapat melampaui gaji tahunan karyawan manusia. - Apakah AI benar-benar akan menggantikan pekerjaan manusia?
Penggantian pekerjaan sangat bergantung pada efisiensi biaya dan produktivitas. Jika AI agent mampu bekerja dua kali lebih produktif dengan biaya lebih rendah, adopsi akan meningkat. Namun saat biaya operasional masih tinggi, perusahaan cenderung berhati-hati. - Apa kaitan AI agent dengan AI token di kripto?
AI token biasanya terkait dengan proyek blockchain yang mengembangkan infrastruktur atau layanan berbasis kecerdasan buatan. Jika penggunaan AI agent meningkat, permintaan terhadap token ekosistem tersebut berpotensi ikut terdorong. Sebaliknya, jika adopsi tertahan, sentimen terhadap AI token dapat melemah. - Apakah stablecoin bisa menjadi alat transaksi AI agent?
Sejumlah pelaku industri kripto memprediksi AI agent akan menggunakan stablecoin untuk transaksi otomatis karena sifatnya yang stabil dan mudah diintegrasikan dengan smart contract. Namun, implementasinya masih bergantung pada perkembangan regulasi, biaya, dan kesiapan infrastruktur blockchain.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Altcoin, #Berita Artificial intelligence (AI), #AI Crypto





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


