Investor legendaris Warren Buffett kembali menyoroti strategi menghadapi inflasi yang terus menggerus daya beli.
Dalam berbagai pernyataannya, CEO Berkshire Hathaway itu mengungkap tiga jenis aset yang dinilai mampu bertahan di tengah kenaikan harga, mulai dari properti, saham berkualitas, hingga emas.
Namun di luar itu, Buffett justru menegaskan bahwa investasi terbaik bukan hanya soal aset finansial.
Buffett: Investasi Terbaik Bukan Aset, Tapi Diri Sendiri
Dalam rapat pemegang saham tahunan Berkshire Hathaway, Buffett menekankan bahwa kemampuan individu menjadi faktor paling tahan terhadap inflasi.
“Investasi terbaik sejauh ini adalah segala sesuatu yang mengembangkan diri Anda sendiri, dan tidak dikenakan pajak sama sekali,” ujarnya, dikutip dari CNBC Indonesia.
Menurutnya, keterampilan seperti komunikasi dan keahlian spesifik tidak bisa tergerus inflasi. Bahkan, kemampuan tersebut justru dapat meningkatkan nilai seseorang di pasar kerja maupun bisnis.
Pernyataan ini menjadi fondasi penting sebelum membahas aset-aset yang lebih konvensional sebagai lindung nilai inflasi.
Baca juga berita terkait: Siapa Pemilik Bitcoin (BTC) Terbanyak di 2026? Ini Data Terbarunya
1. Properti Jadi Pilihan Utama Saat Inflasi Naik
Buffett menilai sektor properti sebagai salah satu instrumen yang relatif stabil menghadapi inflasi. Alasannya sederhana, nilai aset ini cenderung meningkat seiring kenaikan harga secara umum.
“Ini adalah bisnis yang Anda beli sekali dan kemudian Anda tidak perlu terus melakukan investasi modal setelahnya,” jelas Buffet.
Ia mencontohkan bahwa rumah yang dibangun puluhan tahun lalu hanya membutuhkan biaya awal, namun nilainya terus meningkat tanpa perlu tambahan investasi besar.
Logika ini membuat properti dianggap sebagai aset yang mampu “mengikuti” inflasi secara alami, terutama dalam jangka panjang.
2. Saham dengan Pricing Power Lebih Tahan Tekanan
Selain properti, Buffett menyoroti pentingnya memilih saham dari perusahaan yang memiliki kemampuan menaikkan harga tanpa kehilangan pelanggan.
Dalam suratnya kepada pemegang saham pada 1981, ia menyebut dua karakteristik utama bisnis yang kuat di masa inflasi:
- Mampu menaikkan harga dengan mudah
- Tidak membutuhkan tambahan modal besar untuk tumbuh
Perusahaan seperti Apple menjadi contoh karena memiliki daya tawar tinggi di pasar. Dengan model bisnis yang efisien, perusahaan seperti ini tetap mampu menjaga margin meski biaya meningkat.
Artinya, tidak semua saham tahan inflasi. Hanya perusahaan dengan “pricing power” yang dinilai mampu bertahan.
Baca selanjutnya: Bitcoin dan Emas Tak Lagi Sejalan, Siapa yang Kini Lebih Unggul?
3. Emas Tetap Jadi Lindung Nilai, Meski Bukan Favorit Buffett
Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai klasik terhadap inflasi. Nilainya cenderung stabil dan mampu menjaga daya beli dalam jangka panjang.
Meski demikian, Buffett dikenal tidak terlalu menyukai emas. Dalam suratnya pada 2011, ia menyebut emas sebagai aset yang tidak menghasilkan arus kas.
Namun, menariknya, Berkshire Hathaway sempat memiliki sekitar 21 juta saham perusahaan tambang emas Barrick Gold. Ini menunjukkan bahwa eksposur terhadap emas tetap dipertimbangkan dalam konteks tertentu.
Di sisi lain, sejumlah penasihat keuangan menilai emas tetap relevan sebagai pelindung nilai saat inflasi tinggi, karena tidak tergerus seperti mata uang.
Akses Saham Global Lewat Tokenized Stock di INDODAX
Sejalan dengan pandangan Buffett soal pentingnya memilih saham berkualitas, akses terhadap saham global kini juga berkembang melalui teknologi blockchain.
INDODAX telah menghadirkan aset Tokenized Stocks, yaitu aset digital yang nilainya dipatok 1:1 dengan harga saham perusahaan di pasar tradisional seperti Apple, Tesla, atau Google.

Melalui mekanisme ini, investor tidak membeli saham secara langsung melalui broker konvensional, melainkan membeli token yang merepresentasikan nilai saham tersebut di jaringan blockchain.
Investor kini dapat membeli dalam jumlah fraksional, melakukan transaksi tanpa batas waktu karena pasar berjalan 24 jam, serta menikmati penyelesaian transaksi secara real-time tanpa harus menunggu hari kerja seperti di bursa saham tradisional.
Selain itu, akses terhadap saham global menjadi lebih sederhana karena tidak memerlukan proses pembukaan akun broker internasional yang biasanya cukup kompleks.
Kesimpulan
Pandangan Warren Buffett menunjukkan bahwa menghadapi inflasi tidak cukup hanya mengandalkan satu jenis aset.
Properti, saham dengan pricing power, dan emas memang bisa membantu menjaga nilai kekayaan, tetapi fondasi utamanya tetap pada kemampuan individu itu sendiri.
Di tengah tekanan ekonomi, strategi yang relevan bukan sekadar mencari instrumen aman, melainkan memahami bagaimana setiap aset bekerja dalam siklus inflasi.
Dengan pendekatan ini, investor tidak hanya bertahan, tetapi juga memiliki peluang untuk tetap tumbuh meski harga terus naik.
FAQ
- Apa saja aset yang tahan terhadap inflasi menurut Warren Buffett?
Buffett menyoroti properti, saham dengan kemampuan menaikkan harga (pricing power), dan emas sebagai aset yang relatif tahan terhadap inflasi. Namun ia juga menekankan pentingnya investasi pada diri sendiri. - Kenapa properti dianggap sebagai aset anti inflasi?
Nilai properti cenderung naik seiring inflasi karena biaya pembangunan dan harga tanah ikut meningkat. Hal ini membuat aset tersebut mampu menjaga nilai dalam jangka panjang. - Apa itu saham dengan pricing power?
Saham dengan pricing power adalah saham perusahaan yang mampu menaikkan harga produk atau jasa tanpa kehilangan pelanggan. Ini penting saat inflasi karena biaya operasional ikut naik. - Apakah emas masih relevan sebagai lindung nilai inflasi?
Ya, emas masih dianggap sebagai aset lindung nilai karena daya belinya relatif stabil. Namun, Buffett sendiri kurang menyukai emas karena tidak menghasilkan pendapatan. - Mengapa investasi pada diri sendiri disebut paling penting?
Keterampilan dan pengetahuan tidak bisa tergerus inflasi. Bahkan, peningkatan skill dapat meningkatkan pendapatan dan peluang, sehingga menjadi bentuk investasi jangka panjang yang kuat.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Info Emas 2026, #Berita Tokenized Stock




Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


