Bitcoin (BTC) kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan bahwa Iran dan Amerika Serikat tengah mendekati kesepakatan damai sementara atau memorandum of understanding (MOU).
Negosiasi tersebut mencakup penghentian konflik, pembukaan kembali Selat Hormuz, hingga pembahasan pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Iran.
Melansir dari Crypto.News, kabar ini memicu spekulasi baru di pasar crypto terkait potensi pergerakan harga BTC menuju level psikologis $100.000.
Iran dan AS Disebut Tengah Bahas Kesepakatan Damai
Axios melaporkan negosiator dari kedua negara sedang menyusun draft kesepakatan satu halaman yang bertujuan mengakhiri konflik dan membuka kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz.
Kesepakatan itu juga disebut akan membuka negosiasi lanjutan selama 30 sampai 60 hari terkait:
- pembatasan program nuklir Iran
- inspeksi uranium
- pencairan aset Iran yang dibekukan
- pelonggaran sanksi minyak dan perbankan
Reuters menambahkan Iran sedang meninjau proposal AS yang memungkinkan sebagian sanksi dicabut secara bertahap jika Teheran menyetujui pembatasan pengayaan uranium.
Kabar tersebut langsung berdampak ke pasar energi global karena Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak internasional.
Baca juga: 3 Altcoin AI Made in USA Ini Siap Melonjak Usai Perang Iran-AS Reda
Harga Minyak dan Bitcoin Langsung Jadi Sorotan
Sebelumnya pasar sempat khawatir konflik Iran-AS dapat mengganggu distribusi minyak global dan mendorong harga Brent menembus di atas $100 per barel.
Ketakutan itu sempat meningkatkan sentimen risk-off di pasar keuangan. Investor mulai masuk ke aset alternatif seperti emas dan Bitcoin untuk mengantisipasi inflasi dan ketidakpastian global.
Dalam kondisi geopolitik memanas, Bitcoin kerap diposisikan sebagai aset lindung nilai atau crisis hedge. Namun situasi mulai berubah setelah muncul kabar negosiasi damai.
Harga minyak mulai bergerak turun karena pasar menilai risiko gangguan pasokan energi global mulai mereda. Jika tekanan geopolitik menurun, investor biasanya kembali masuk ke aset berisiko seperti saham teknologi dan pasar ekuitas.
Kondisi ini justru bisa membuat momentum kenaikan Bitcoin melambat dalam jangka pendek.
Bitcoin Bisa Kehilangan Narasi “Safe Haven”
Analis menilai sebagian kenaikan Bitcoin sebelumnya didorong oleh sentimen ketakutan perang dan risiko ekonomi global.
Karena itu, jika Iran dan AS benar-benar mencapai kesepakatan damai, pasar kemungkinan mulai melepas posisi hedge yang sebelumnya masuk ke emas dan crypto.
Situasi ini dapat mengurangi “war premium” pada Bitcoin, yakni tambahan sentimen bullish yang muncul akibat ketidakpastian geopolitik.
Selain itu, turunnya harga energi juga berpotensi mengurangi tekanan inflasi global dan ekspektasi kebijakan agresif bank sentral.
Dampak Jangka Panjang Dinilai Tetap Positif
Meski efek jangka pendeknya dinilai cenderung netral hingga bearish, sebagian analis melihat dampak jangka panjangnya justru bisa mendukung adopsi Bitcoin.
Iran selama ini diketahui memanfaatkan jalur crypto untuk menghindari sanksi ekonomi dan keterbatasan sistem pembayaran berbasis dolar AS.
Beberapa laporan menyebut aset digital digunakan untuk membantu transaksi lintas negara dan perdagangan minyak di luar sistem keuangan tradisional.
Jika kesepakatan damai tercapai, Iran memang bisa kembali mengakses sebagian sistem ekonomi formal. Namun pengalaman menghadapi sanksi membuat banyak negara mulai mempertimbangkan diversifikasi cadangan aset di luar dolar.
Dalam kondisi tersebut, Bitcoin dan stablecoin mulai dipandang sebagai alternatif settlement lintas negara.
Negara seperti China, Rusia, dan Iran turut mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam perdagangan internasional seiring munculnya sistem global yang semakin multipolar.
Baca berita terbaru: Bitcoin (BTC) Turun di Bawah US$75.000, Investor Beralih ke AI
Bisakah Bitcoin Menuju $100.000?
Pasar kini menunggu perkembangan lanjutan negosiasi Iran-AS sambil memantau arah suku bunga AS dan kondisi ekonomi global.
Jika tensi geopolitik benar-benar mereda dan likuiditas pasar tetap kuat, Bitcoin berpotensi mendapat dukungan dari membaiknya sentimen investor global.
Namun jika investor mulai keluar dari aset hedge akibat meredanya risiko perang, maka perjalanan Bitcoin menuju $100.000 kemungkinan tidak akan berlangsung cepat.
Pergerakan BTC dalam beberapa bulan ke depan diperkirakan tetap sangat dipengaruhi kombinasi faktor geopolitik, inflasi global, harga minyak, dan arus modal institusional ke pasar crypto.
Kesimpulan
Potensi perdamaian Iran dan AS bisa menjadi sentimen besar bagi pasar crypto. Dalam jangka pendek, Bitcoin berisiko kehilangan momentum sebagai aset lindung nilai karena ketegangan geopolitik mulai mereda.
Namun dalam jangka panjang, perubahan arah sistem ekonomi global dan berkurangnya ketergantungan terhadap dolar AS justru dapat memperkuat peran Bitcoin dan aset digital di pasar internasional.
Karena itu, peluang Bitcoin menuju $100.000 masih terbuka, tetapi pergerakannya tetap akan dipengaruhi kondisi geopolitik, harga minyak, dan sentimen pasar global.
FAQ
- Kenapa konflik Iran dan AS mempengaruhi harga Bitcoin?
Konflik geopolitik meningkatkan ketidakpastian ekonomi global. Saat risiko perang naik, investor biasanya mencari aset alternatif seperti emas dan Bitcoin untuk melindungi nilai aset mereka. - Apa hubungan Selat Hormuz dengan pasar crypto?
Selat Hormuz adalah jalur penting distribusi minyak global. Jika jalur ini terganggu, harga minyak bisa melonjak dan memicu tekanan inflasi yang berdampak ke pasar keuangan termasuk crypto. - Apakah Bitcoin termasuk aset safe haven?
Sebagian investor menganggap Bitcoin sebagai aset lindung nilai saat krisis global. Namun volatilitas Bitcoin yang tinggi membuat status safe haven BTC masih menjadi perdebatan. - Kenapa perdamaian Iran-AS bisa membuat Bitcoin turun?
Jika risiko perang mereda, investor biasanya kembali masuk ke saham dan aset berisiko lain. Hal ini dapat mengurangi permintaan Bitcoin sebagai aset pelindung saat ketidakpastian global. - Apakah Bitcoin masih berpotensi mencapai $100.000?
Potensi Bitcoin menuju $100.000 tetap terbuka, terutama jika didukung arus dana institusi, sentimen bullish pasar, dan kondisi makro yang mendukung aset berisiko. - Kenapa negara yang terkena sanksi mulai menggunakan crypto?
Crypto memungkinkan transaksi lintas negara dilakukan tanpa bergantung penuh pada sistem perbankan tradisional berbasis dolar AS sehingga mulai dilirik sebagai alternatif pembayaran internasional.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin, #Prediksi Harga Crypto Hari Ini, #Berita Timur Tengah Terkini






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


