Industri decentralized finance (DeFi) mulai memasuki fase baru. Jika sebelumnya sistem hanya mengandalkan smart contract, kini peran risk curator mulai jadi pusat perhatian.
Laporan Tiger Research berjudul Onchain Risk Curators: $147T vs $7B Market Gap menyebut pengelola risiko kini memegang peran penting dalam menentukan aset collateral, strategi lending, hingga keamanan modal institusi di pasar crypto.
Perubahan ini menunjukkan DeFi mulai bergerak menuju model yang lebih mirip industri keuangan tradisional, di mana pengelolaan risiko menjadi faktor utama sebelum modal besar masuk ke pasar.
Dari Smart Contract ke Pengelola Risiko

Sumber Gambar: Tiger Research
Pada era awal DeFi, protokol seperti Aave dan Compound menggunakan model “satu pool besar” untuk seluruh aset. Sistem tersebut membuat seluruh ekosistem saling terhubung dalam satu risiko yang sama.
Masalah muncul ketika aset berisiko tinggi masuk ke dalam pool. Jika satu aset bermasalah, dampaknya bisa menyebar ke seluruh sistem. Di titik inilah peran risk curator mulai berkembang.

Sumber Gambar: Tiger Research
Platform seperti Morpho mengubah struktur lama dengan memisahkan collateral, vault, dan strategi lending menjadi lebih modular. Artinya, setiap vault kini bisa memiliki standar risiko dan strategi pengelolaan sendiri.
Model baru ini membuat DeFi tidak lagi hanya bergantung pada kode smart contract, tetapi juga pada kualitas keputusan manusia di balik pengelolaan risiko.
Siapa Sebenarnya Risk Curator?

Sumber Gambar: Tiger Research
Dalam laporan Tiger Research, risk curator disebut sebagai versi “asset manager” di industri keuangan tradisional.
Beberapa tugas mereka adalah:
- menilai aset collateral
- menentukan limit risiko
- mengelola strategi lending
- memantau potensi gagal bayar
- menjaga stabilitas yield dan likuiditas
Jika smart contract adalah mesin, maka risk curator menjadi “otak” yang mengatur cara mesin itu bekerja.
Perubahan ini dianggap penting karena institusi besar tidak hanya melihat potensi keuntungan, tetapi juga bagaimana risiko dikendalikan.
Baca berita lainnya: Kenapa Banyak Protokol Crypto Mulai Pakai BUIDL BlackRock? Ini Jawabannya
Market Risk Curator Masih Kecil, Tapi Tumbuh Cepat
Tiger Research mencatat market risk curator DeFi saat ini baru mengelola sekitar US$7 miliar aset.
Angka itu memang terlihat kecil dibanding industri asset management global yang mencapai sekitar US$147 triliun. Bahkan BlackRock sendiri mengelola lebih dari US$14 triliun aset.
Namun justru gap besar inilah yang dianggap menjadi peluang.
Laporan tersebut menilai bahwa institusi tidak akan masuk besar-besaran ke DeFi sebelum ada infrastruktur pengelolaan risiko yang matang. Ketika standar keamanan dan regulasi mulai terbentuk, arus modal institusi dinilai bisa meningkat sangat cepat.
Tiga Nama yang Mulai Mendominasi

Sumber Gambar: Tiger Research
Saat ini, pasar risk curator mulai terkonsentrasi pada beberapa pemain besar.
Steakhouse
Steakhouse dikenal sebagai curator konservatif yang fokus pada aset dunia nyata atau real-world asset (RWA), termasuk US Treasury.
Tim ini juga menjadi backend untuk layanan lending Coinbase dan mengelola sekitar US$1,53 miliar aset per Februari 2026.
Perannya bukan hanya mengelola modal, tetapi juga menentukan standar collateral yang dianggap layak di pasar DeFi.
Sentora
Sentora mengandalkan model AI dan infrastruktur data institusional untuk mengelola risiko.
Mereka terhubung dengan Kraken sebagai backend dan mengelola sekitar US$1,34 miliar aset.
Tiger Research menilai Sentora unggul dalam jalur distribusi modal institusi ke pasar onchain.
Gauntlet
Gauntlet sebelumnya dikenal sebagai perusahaan analisis kuantitatif onchain.
Nama mereka mulai menonjol setelah berhasil menstabilkan pool lending yang menerima lonjakan dana US$775 juta hanya dalam waktu 10 hari.
Saat ini Gauntlet mengelola sekitar US$1,29 miliar aset dan dianggap memiliki kemampuan kuat dalam mitigasi risiko dan respons krisis.
DeFi Kini Mulai Mirip Industri Keuangan Tradisional
Tiger Research menilai struktur DeFi modern mulai menyerupai sistem keuangan tradisional. Jika sebelumnya seluruh fungsi digabung dalam satu protokol, kini perannya mulai terpecah:
- exchange menjadi distributor modal
- risk curator menjadi pengelola strategi
- lending protocol menjadi mesin eksekusi dan settlement
Model seperti ini membuat institusi lebih mudah memahami pasar crypto karena strukturnya mulai familiar dengan sistem yang sudah mereka gunakan selama puluhan tahun.
Tak heran jika nama-nama seperti BlackRock, Apollo, hingga Bitwise mulai aktif masuk ke sektor tokenisasi aset dan onchain lending.
Baca berita selanjutnya: AI Agent Kini Bisa Trading Hingga Bayar Sendiri, Ethereum dan Visa Mulai Waspada
Tiga Jalur Institusi Masuk ke DeFi
Tiger Research membagi strategi institusi ke DeFi menjadi tiga jalur utama.
Distribution
Exchange atau fintech menggunakan curator sebagai backend layanan lending mereka.
Model ini memungkinkan perusahaan masuk cepat tanpa harus membangun sistem risk management sendiri.
Supply
Institusi membawa aset mereka langsung ke onchain market.
Contohnya Apollo yang mulai memasukkan aset RWA ke ekosistem DeFi sambil membeli governance token protokol lending.
Operator
Institusi menjadi risk curator secara langsung.
Bitwise menjadi salah satu contoh karena mereka mulai mengelola vault sendiri dan menyebut model ini sebagai “ETF 2.0”.
Perebutan Standar Baru DeFi
Persaingan risk curator kini bukan lagi sekadar soal TVL atau total aset yang dikelola.
Tiger Research menilai perebutan terbesar justru terjadi pada:
- standar collateral
- jalur distribusi modal
- kemampuan mitigasi risiko
- reputasi pengelolaan dana institusi
Tim yang membangun standar lebih dulu berpotensi menjadi fondasi utama ketika modal institusi mulai masuk lebih besar ke pasar crypto.
Kesimpulan
Laporan Tiger Research menunjukkan bahwa arah perkembangan DeFi mulai berubah total. Fokus pasar perlahan bergeser dari sekadar smart contract dan yield tinggi menuju pengelolaan risiko yang lebih matang.
Di fase baru ini, pihak yang paling berpengaruh bukan hanya pembuat protokol, tetapi mereka yang dipercaya mengelola risiko dan menjaga keamanan modal institusi.
Jika tren ini terus berkembang, risk curator bisa menjadi salah satu sektor paling penting dalam masa depan industri DeFi dan tokenisasi aset global.

FAQ
- Apa itu risk curator dalam DeFi?
Risk curator adalah pihak yang mengelola strategi risiko di platform DeFi, termasuk menentukan collateral, limit pinjaman, dan keamanan aset dalam vault lending. - Kenapa risk curator mulai penting di crypto?
Karena institusi besar membutuhkan sistem pengelolaan risiko yang lebih jelas sebelum memasukkan modal ke pasar DeFi. Smart contract saja dianggap belum cukup. - Apa hubungan risk curator dengan Morpho?
Morpho menggunakan sistem modular vault yang memungkinkan setiap vault memiliki strategi dan standar risiko sendiri. Sistem ini membuat peran risk curator menjadi lebih besar dibanding model DeFi lama. - Apakah risk curator sama seperti manajer investasi?
Secara konsep mirip. Mereka sama-sama mengelola strategi aset dan risiko, tetapi risk curator bekerja di ekosistem onchain dan DeFi. - Kenapa Tiger Research membandingkan US$147 triliun vs US$7 miliar?
Perbandingan itu menunjukkan besarnya potensi pasar. Industri asset management global bernilai sekitar US$147 triliun, sementara market risk curator DeFi masih sekitar US$7 miliar. - Apa risiko terbesar jika DeFi tanpa risk curator?
Tanpa pengelolaan risiko yang baik, aset berisiko tinggi bisa memicu gagal bayar, likuidasi massal, hingga penyebaran kerugian ke seluruh sistem lending. - Apakah risk curator bisa menjadi tren besar berikutnya di crypto?
Banyak analis mulai melihat sektor ini sebagai fondasi baru institutional DeFi, terutama karena institusi lebih fokus pada keamanan dan stabilitas dibanding sekadar yield tinggi.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Blockchain






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


