Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan tekanan setelah reli yang sempat dipicu ketegangan geopolitik.
Data terbaru menunjukkan, aset kripto terbesar ini kini bergerak semakin sejalan dengan pasar saham Amerika Serikat, sebuah sinyal yang dalam sejarah sering berujung pada koreksi tajam.
Minggu lalu, harga Bitcoin sempat turun sekitar 5,65% secara mingguan ke kisaran $68.700. Dalam periode yang sama, indeks S&P 500 juga melemah sekitar 1,90%. Pergerakan yang searah ini menjadi perhatian utama analis pasar.
Korelasi Bitcoin dan Saham Kembali Positif
Sinyal yang memicu kekhawatiran datang dari indikator 20-week rolling correlation antara Bitcoin dan S&P 500.
Angkanya kini berada di 0,13, naik signifikan dari posisi sebelumnya di sekitar -0,5. Artinya, Bitcoin yang sebelumnya bergerak berlawanan arah dengan saham, kini kembali mengikuti pola yang sama.

Sumber Gambar: X.com/TonySeverinoCMT
“Secara historis, ketika korelasi Bitcoin dengan S&P 500 turun ke -0,5 pada indikator Correlation Coefficient, lalu berbalik naik secara tajam, hal ini menjadi sinyal peringatan bahwa pasar saham berpotensi runtuh dan menyeret Bitcoin ikut turun. Biasanya, akan terjadi kenaikan sementara terlebih dahulu sebelum akhirnya penurunan terjadi dan menambah tekanan bagi pasar,” jelas analis Tony Severino.
Perubahan ini bukan sekadar teknikal. Dalam konteks pasar, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Bitcoin kembali diperlakukan sebagai risk asset, bukan aset lindung nilai. Ketika saham turun, Bitcoin cenderung ikut turun.
Baca juga berita terbaru: Bitcoin Kalahkan Emas dan Saham di Tengah Konflik Timur Tengah, Kok Bisa?
Pola Lama Kembali Muncul, Risiko Penurunan Besar
Data historis sejak 2018 menunjukkan pola yang konsisten.
Setiap kali korelasi Bitcoin dengan S&P 500 berbalik naik dari negatif ke positif, pasar kripto cenderung mengalami penurunan besar. Rata-rata penurunan yang terjadi mencapai sekitar 50%.
Jika pola tersebut kembali terulang, maka dari harga saat ini di kisaran $68.000, Bitcoin berpotensi turun ke area $30.000 hingga $40.000.
Tekanan Makro Ekonomi Jadi Pemicu Utama
Kondisi makro saat ini memperkuat potensi penurunan. Beberapa faktor yang memberi tekanan antara lain:
- Inflasi yang masih tinggi
- Harga minyak yang meningkat
- Peluang penurunan suku bunga yang semakin kecil
Situasi ini membuat investor global cenderung menghindari aset berisiko. Akibatnya, saham tertekan, dan Bitcoin ikut terseret karena korelasinya yang meningkat.
Pola Bull Trap Kembali Diwaspadai
Pengalaman sebelumnya di 2020 dan 2022 menunjukkan pola yang serupa. Bitcoin sempat mengalami kenaikan singkat saat korelasi dengan saham meningkat.
Namun, kenaikan tersebut tidak bertahan lama dan justru menjadi jebakan sebelum penurunan besar terjadi.
Pola ini dikenal sebagai bull trap, di mana investor masuk saat harga naik, sebelum akhirnya pasar berbalik turun tajam.
Dengan kondisi saat ini, skenario serupa mulai diantisipasi oleh pelaku pasar.
Baca berikutnya: Strategy Siap Borong Bitcoin Lagi! Siapkan Dana Fantastis $44,1 Miliar
Dukungan Institusi Mulai Melemah
Selain faktor makro, dukungan dari investor institusi juga menunjukkan tanda melambat.
Strategy (MicroStrategy), salah satu pemegang Bitcoin terbesar, tidak melakukan pembelian tambahan dalam sepekan terakhir.

Microstrategy
Padahal sebelumnya, perusahaan ini membeli lebih dari 22.000 BTC senilai $1,57 miliar, yang sempat mendorong harga naik lebih dari 10%.
Tanpa adanya pembelian baru dari pemain besar, pasar menjadi lebih rentan terhadap tekanan jual.
Kesimpulan
Pergerakan Bitcoin saat ini tidak berdiri sendiri. Kembalinya korelasi dengan saham AS menandakan perubahan perilaku pasar yang cukup signifikan.
Data historis menunjukkan bahwa kondisi seperti ini sering menjadi awal dari fase koreksi yang lebih dalam. Ditambah dengan tekanan makro dan berkurangnya dukungan institusi, risiko penurunan semakin terbuka.
Bagi pelaku pasar, situasi ini bukan sekadar fluktuasi jangka pendek, melainkan sinyal bahwa arah pasar bisa berubah lebih tajam dari yang diperkirakan.
FAQ
- Apa itu korelasi Bitcoin dengan saham AS?
Korelasi Bitcoin dengan saham AS adalah hubungan pergerakan harga antara Bitcoin dan indeks seperti S&P 500. Jika positif, keduanya cenderung naik dan turun bersama. - Kenapa korelasi Bitcoin dan S&P 500 penting?
Korelasi ini penting karena menunjukkan apakah Bitcoin bergerak sebagai aset independen atau mengikuti pasar tradisional. Saat korelasi tinggi, risiko ikut turun bersama saham meningkat. - Apakah benar Bitcoin bisa turun 50% lagi?
Secara historis, setiap kenaikan korelasi dengan saham sering diikuti penurunan besar. Namun, ini bukan kepastian, melainkan pola yang perlu diperhatikan. - Apa yang dimaksud dengan bull trap di Bitcoin?
Bull trap adalah kondisi ketika harga naik sementara sebelum akhirnya turun tajam. Ini sering membuat investor masuk di harga tinggi lalu mengalami kerugian. - Faktor apa yang paling memengaruhi harga Bitcoin saat ini?
Faktor utama meliputi kondisi makro ekonomi, suku bunga, inflasi, serta pergerakan pasar saham global yang kini semakin terhubung dengan Bitcoin.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Referensi:
- Cointelegraph – Bitcoin risks 50% drop as BTC’s positive correlation with US stocks, diakses pada 26 Maret 2026
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin, #Prediksi Harga Crypto Hari Ini






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


