Kekhawatiran soal masa depan Bitcoin (BTC) kembali mencuat setelah Google merilis whitepaper terkait kemampuan quantum computing dalam membobol sistem kriptografi.
Dalam laporan yang melibatkan Coinbase, Stanford, dan Ethereum Foundation, disebutkan bahwa teknologi ini berpotensi mengungkap private key dari public key, bahkan bisa terjadi dalam satu dekade ke depan.
Namun, jauh sebelum isu ini ramai, Satoshi Nakamoto ternyata sudah membahasnya sejak 2010.
Satoshi Sudah Antisipasi Risiko Quantum Sejak Awal

Sumber Gambar: Bitcointalk
Dalam forum Bitcointalk, Satoshi Nakamoto merespons diskusi berjudul “Major Meltdown” yang membahas kemungkinan keruntuhan Bitcoin akibat teknologi baru. Ia mengakui bahwa quantum computing bisa menjadi ancaman serius, terutama jika terjadi secara tiba-tiba.
“Benar, kalau itu terjadi secara tiba-tiba, akan jadi masalah. Tapi kalau terjadi secara bertahap, kita masih bisa beralih ke sistem yang lebih kuat. Saat kamu pertama kali menjalankan software yang sudah di-upgrade, semua asetmu bisa ditandatangani ulang dengan algoritma signature yang lebih aman. (caranya dengan membuat transaksi ke dirimu sendiri menggunakan signature yang lebih kuat),” tulis Satoshi.
Namun, Satoshi menegaskan bahwa selama perkembangan teknologi berlangsung bertahap, Bitcoin masih punya ruang untuk beradaptasi.
Ia bahkan menyebut skenario teknisnya secara langsung. Jika diperlukan, jaringan Bitcoin bisa beralih ke algoritma kriptografi yang lebih kuat.
Pengguna cukup memperbarui software, lalu melakukan transaksi ke diri sendiri agar aset mereka diamankan dengan sistem tanda tangan baru. Pernyataan ini menunjukkan bahwa fleksibilitas sistem sudah dipikirkan sejak awal desain Bitcoin.
Baca selanjutnya: Quantum Bisa Bantu Buka Wallet Bitcoin yang Hilang? Ini Kata Elon Musk
Quantum AI Dinilai Mampu Membobol Private Key
Dalam dokumen whitepaper yang dirilis Google, para peneliti menilai bahwa ancaman quantum computing terhadap Bitcoin bukan sekadar teori.
Justin Drake, salah satu kontributor, bahkan menyebut bahwa kemampuan untuk membongkar private key bisa menjadi kenyataan sekitar tahun 2032.
“Keyakinan saya bahwa q-day bisa terjadi pada 2032 meningkat signifikan. Ada setidaknya 10% kemungkinan bahwa pada 2032, komputer quantum sudah bisa mengungkap private key ECDSA secp256k1 dari public key yang terekspos,” tulis Drake.
Jika itu terjadi, maka aset yang public key-nya sudah terekspos berpotensi menjadi target. Ini membuka celah bagi peretas untuk mengambil alih Bitcoin tanpa perlu mengetahui private key secara konvensional.
Pasar Masih Tenang, Harga Bitcoin Tidak Bereaksi
Meski isu ini terdengar serius, pasar justru menunjukkan respons yang relatif datar. Per April 2026, harga Bitcoin tercatat di $66.000–$70.000. Tidak ada lonjakan volatilitas yang signifikan akibat rilis whitepaper tersebut.
Sebaliknya, pergerakan harga Bitcoin masih dipengaruhi faktor lain, termasuk tekanan makro dan tren penurunan sejak akhir 2025.
Data menunjukkan bahwa:
- Bitcoin turun sekitar 21,48% sejak awal 2026
- Harga juga terkoreksi hampir 45% dari all-time high akhir 2025
Artinya, pasar saat ini lebih fokus pada kondisi global dibanding ancaman teknologi jangka panjang.
Baca berikutnya: Pendiri Cardano Sebut Isu Quantum Terlalu Lebay, Kripto Masih Aman
Ancaman Nyata, Tapi Tidak Instan
Meski belum berdampak langsung, potensi risiko dari quantum AI tidak bisa diabaikan. Jika teknologi ini berkembang lebih cepat dari perkiraan, maka sistem keamanan Bitcoin perlu segera beradaptasi.
Di sisi lain, jika perkembangan berlangsung secara bertahap, komunitas dan developer masih punya waktu untuk melakukan upgrade sistem, seperti yang pernah disinggung Satoshi.
Hal ini menempatkan Bitcoin dalam posisi unik, bukan kebal terhadap ancaman, tetapi cukup fleksibel untuk berevolusi.
Kesimpulan
Diskusi soal quantum computing bukan hal baru bagi Bitcoin. Sejak 2010, Satoshi sudah memahami potensi risikonya dan bahkan memikirkan cara mengatasinya.
Isu yang kembali ramai saat ini lebih menegaskan keamanan Bitcoin bukan sesuatu yang statis. Ia bergantung pada kemampuan jaringan untuk terus beradaptasi menghadapi perkembangan teknologi.
Selama perubahan tidak terjadi secara tiba-tiba, fondasi yang dirancang sejak awal masih memberi ruang bagi Bitcoin untuk bertahan.
FAQ
- Apa itu ancaman quantum computing terhadap Bitcoin?
Ancaman ini merujuk pada kemampuan komputer quantum untuk memecahkan algoritma kriptografi Bitcoin, termasuk mengungkap private key dari public key. - Apakah quantum AI benar-benar bisa membobol Bitcoin?
Secara teori, iya. Beberapa riset terbaru menunjukkan hal itu mungkin terjadi di masa depan, namun saat ini teknologinya belum cukup kuat untuk melakukannya secara massal. - Kapan quantum computing bisa menjadi ancaman nyata bagi Bitcoin?
Beberapa ahli memperkirakan sekitar tahun 2030–2032, tergantung kecepatan perkembangan teknologi quantum. - Apakah Bitcoin bisa di-upgrade untuk menghadapi quantum computing?
Bisa. Bitcoin adalah sistem open-source yang memungkinkan upgrade, termasuk perubahan algoritma kriptografi ke yang lebih aman terhadap serangan quantum. - Apakah Bitcoin saat ini sudah dalam bahaya?
Belum. Hingga saat ini, belum ada bukti bahwa quantum computing mampu membobol sistem Bitcoin di dunia nyata. - Apa yang bisa dilakukan pengguna untuk mengantisipasi risiko ini?
Pengguna bisa mengikuti perkembangan teknologi dan memastikan selalu menggunakan wallet serta software terbaru jika upgrade keamanan benar-benar diterapkan di masa depan.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Referensi:
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Bitcoin, #Berita Blockchain, #Berita Tokoh Kripto Dunia





Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


