Ethereum (ETH) kembali berada di bawah tekanan setelah kehilangan seluruh kenaikan yang sempat tercipta sepanjang Mei 2026.
Dalam sepekan terakhir, harga ETH turun hampir 10 persen dan sempat menyentuh level US$2.097 di Binance pada Minggu (18/5), menjadi titik terendah sejak 7 April lalu.
Menurut Chairman BitMine sekaligus pendiri Fundstrat, Tom Lee, penyebab utama tekanan ini bukan berasal dari fundamental Ethereum, melainkan lonjakan harga minyak global yang memicu kekhawatiran pasar.

Sumber gambar: X.com/fundstrat
Dalam unggahannya di X, Lee mengatakan korelasi terbalik antara Ethereum dan harga minyak kini mencapai level tertinggi sepanjang sejarah. Dengan kata lain, saat harga minyak naik, ETH justru cenderung melemah.
“Jika ada yang bertanya kenapa Ethereum terus berada di bawah tekanan jual, menurut saya kenaikan harga minyak menjadi hambatan terbesar. Korelasi terbalik ETH terhadap minyak saat ini juga menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah,” tulisnya.
Baca juga berita terkait: AI Agent Kini Bisa Trading dan Bayar Sendiri, Ethereum dan Visa Mulai Waspada
Harga Minyak Naik Tajam, Pasar Crypto Ikut Tertekan

Sumber gambar: X.com/fundstrat
Tekanan terhadap Ethereum muncul di tengah reli harga minyak Brent yang kini mendekati US$111 per barel. Dalam satu bulan terakhir, harga minyak tercatat naik sekitar 16,4 persen.
Kenaikan ini dipicu meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, ditambah kekhawatiran pasar terhadap penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak global.
Bagi pasar finansial, kenaikan harga minyak sering dianggap sebagai ancaman serius karena dapat memicu inflasi baru. Jika inflasi kembali meningkat, bank sentral seperti The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi itu biasanya membuat investor mulai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk cryptocurrency.
Ethereum menjadi salah satu aset yang paling sensitif terhadap perubahan sentimen tersebut dalam beberapa pekan terakhir.
Ethereum Kehilangan Seluruh Kenaikan Mei
Data pasar menunjukkan Ethereum kini diperdagangkan di kisaran US$2.116, turun 3% lebih per 24 jam.

Sumber Gambar: CoinMarketCap
Penurunan ini sekaligus menghapus seluruh kenaikan harga ETH yang sempat terbentuk sejak awal Mei. Tekanan jual juga muncul ketika pasar crypto secara umum mengalami pelemahan akibat faktor makro global.
Meski begitu, Tom Lee menilai kondisi ini masih bersifat sementara. Ia menyebut pelemahan Ethereum saat ini hanyalah “short-term tactical noise” atau gangguan jangka pendek yang dipicu situasi pasar global.
Tom Lee Tetap Bullish Ethereum
Di tengah tekanan harga, Lee tetap mempertahankan pandangan bullish terhadap Ethereum untuk jangka panjang.
Ia menilai ada dua narasi besar yang masih menjadi kekuatan utama ETH hingga 2026, yaitu tokenisasi aset dan perkembangan agentic AI.
“Pendorong utama Ethereum tetap berasal dari tokenisasi aset dan perkembangan agentic AI. Faktor struktural ini masih sangat kuat, sehingga kami memperkirakan harga ETH akan semakin kuat sepanjang 2026,” ujarnya.
Tokenisasi diperkirakan terus berkembang melalui penggunaan aset dunia nyata atau real world assets (RWA), stablecoin, obligasi digital, hingga saham berbasis blockchain yang banyak dibangun di jaringan Ethereum.
Sementara itu, perkembangan agentic AI dinilai dapat meningkatkan kebutuhan terhadap blockchain sebagai infrastruktur transaksi otomatis dan smart contract.
Karena itu, Lee sebelumnya sempat memproyeksikan harga Ethereum bisa mencapai kisaran US$9.000 hingga US$12.000 sebelum akhir tahun.
Baca selanjutnya: Bitmine Rilis Prediksi Terbaru Ethereum 2026, ETH Bisa Cetak ATH?
Pasar Kini Menunggu Arah Harga Oil
Meski fundamental Ethereum masih dianggap kuat oleh sejumlah analis, pergerakan harga minyak kini menjadi perhatian utama pasar crypto.
Jika reli minyak mulai mereda, tekanan terhadap ETH diperkirakan ikut berkurang. Sebaliknya, jika konflik geopolitik terus memanas dan harga minyak kembali naik, pasar crypto berpotensi menghadapi volatilitas lebih besar dalam waktu dekat.
Untuk saat ini, investor masih menunggu apakah Ethereum mampu bertahan di atas area psikologis US$2.100 atau justru melanjutkan pelemahan dalam beberapa hari ke depan.
Kesimpulan
Ethereum saat ini tertekan akibat lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi dan suku bunga tinggi. Menurut Tom Lee, kenaikan oil menjadi faktor utama di balik tekanan jual ETH dalam beberapa pekan terakhir.
Meski begitu, ia menilai pelemahan ini hanya bersifat sementara. Tom Lee tetap bullish terhadap Ethereum karena perkembangan tokenisasi aset dan agentic AI yang dinilai masih bisa mendorong pertumbuhan ETH dalam jangka panjang.
FAQ
- Kenapa harga minyak bisa memengaruhi Ethereum?
Harga minyak sering memengaruhi kondisi ekonomi global dan inflasi. Ketika minyak naik tajam, pasar khawatir suku bunga tetap tinggi lebih lama. Situasi itu biasanya membuat investor mengurangi investasi di aset berisiko seperti crypto, termasuk Ethereum. - Apa maksud inverse correlation antara Ethereum dan oil?
Inverse correlation berarti dua aset bergerak berlawanan arah. Dalam konteks ini, saat harga minyak naik, Ethereum cenderung turun. Sebaliknya, ketika harga minyak melemah, ETH berpotensi menguat. - Kenapa Ethereum lebih tertekan dibanding Bitcoin?
Ethereum saat ini lebih sensitif terhadap sentimen makro dan pergerakan pasar teknologi. Selain itu, banyak investor institusi melihat ETH sebagai aset dengan risiko lebih tinggi dibanding Bitcoin ketika kondisi global tidak stabil. - Apa itu agentic AI yang disebut Tom Lee?
Agentic AI adalah sistem kecerdasan buatan yang bisa menjalankan tugas otomatis secara mandiri, termasuk melakukan transaksi digital. Teknologi ini dinilai berpotensi menggunakan blockchain seperti Ethereum untuk pembayaran dan smart contract. - Apakah Ethereum masih bullish untuk jangka panjang?
Sejumlah analis, termasuk Tom Lee, masih melihat Ethereum memiliki prospek jangka panjang yang kuat karena perkembangan tokenisasi aset, stablecoin, DeFi, dan integrasi AI dengan blockchain. - Apa dampak konflik Timur Tengah terhadap pasar crypto?
Konflik geopolitik dapat mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan ketidakpastian pasar global. Dampaknya, investor biasanya berpindah ke aset yang dianggap lebih aman dan mengurangi eksposur ke cryptocurrency.
Itulah berita crypto hari ini terkait kabar terbaru di pasar kripto, termasuk pergerakan harga Bitcoin dan kripto utama lainnya. Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update terkini dan edukasi dari Akademi Crypto seputar aset digital dan teknologi blockchain hanya di INDODAX Academy.
Pelajari kripto lebih dalam dari A – Z mulai dari pergerakan pasar, indikator analisis teknikal, aset digital, dan topik lain lain melalui laman artikel edukasi crypto terpopuler. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru Indodax Academy melalui Google News.
Download aplikasi crypto terbaik INDODAX melalui App Store atau Google Play Store untuk mendapatkan pengalaman jual beli Bitcoin atau aset kripto lain dengan mudah dan aman.
INDODAX merupakan exchange crypto lokal di Indonesia yang mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) di CoinMarketCap dan rutin melaporkan pembaruan jumlah total aset secara transparan yang bisa dilihat oleh semua orang.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media INDODAX di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
Author: Fau
Referensi:
- Be(in)crypto – What’s Dragging Ethereum Down? BitMine’s Tom Lee Has an Answer, diakses pada 18 Mei 2026
Tag Terkait: #Berita Kripto Hari Ini, #Berita Mata uang Kripto, #Berita Ethereum, #Prediksi Harga Crypto Hari Ini, #Berita Tom Lee, #Berita Tokoh Kripto Dunia






Polkadot 2.25%
BNB 0.52%
Solana 4.62%
Ethereum 2.32%
Cardano 1.02%
Polygon Ecosystem Token 1.87%
Tron 2.75%
Pasar


